Monday, April 18, 2022

Iman Melawan Dusta

Senin 18 April 2022 Oktaf Paskah.
Bacaan liturgi hari ini 
Pertama Kisah Para Rasul  2:14.22-32
Injil  Matius 28:8-15

*Iman Melawan Dusta*

Para imam kepala dan tua-tua itu berkata pada serdadu penjaga makam bahwa mereka  harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika mereka sedang tidur. Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini. _( bdk. Mat  28: 13.15 )_.

Kutipan ayat di atas dari Injil hari ini adalah disposisi yang melawan Roh Kudus dan menolak cinta Allah,   yang tak terbatas,  pada manusia melalui Yesus Kristus, Putera-Nya.

Peristiwa kebangkitan Yesus juga disaksikan oleh para serdadu penjaga makam yang melihat kubur Yesus yang kosong. Hal ini mereka laporkan kepada imam-imam kepala  dan para tua-tua Yahudi. Para imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi membuat keputusan  membungkam para penjaga makam itu dengan memberikan sejumlah uang kepada para serdadu untuk menyebarkan berita bohong bahwa jenazah Yesus telah dicuri oleh para murid Yesus ketika para serdadu itu tertidur. 

Kisah pembungkaman para serdadu itu telah menjadi skandal besar dalam sejarah. Dan yang menarik adalah cerita ini tersiar di antara orang Yahudi, bahkan ke seluruh dunia, sampai sekarang ini. 

Kabar kebangkitan Yesus dari kematian adalah kabar yang menakutkan bagi orang-orang yang dari semula menolak dan tidak percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Bahkan hingga sekarang.  

Sebagaimana dikatakan oleh Kayafas yang menasehati orang-orang Yahudi: Adalah lebih berguna jika satu orang mati untuk seluruh bangsa _( Yoh. 18:14)_. Kita di sini melihat bagaimana suatu kalangan yang keras kepala dan tegar tengkuk menolak Yesus Sang Mesias Putera Allah yang menyelamatkan hidup manusia. 

Sikap dan tindakan para imam kepala dalam menolak Yesus yang berpuncak pada penyaliban Yesus dirasakan sebagai teror yang menakutkan bagi murid-murid Yesus. Namun para murid Yesus tetap percaya akan janji Yesus. Adalah perempuan-perempuan yang tetap mengunjungi kubur Yesus pada hari pertama minggu itu dan mendapati kubur Yesus yang telah kosong. Mereka sangat yakin bahwa Yesus telah bangkit lalu bergegas mengabarkan itu pada para murid yang lain. 

Setelah peristiwa kubur kosong itu Yesus beberapa kali menampakkan diri-Nya pada para murid-Nya sampai Ia naik ke surga. Pada hari Pentakosta dan setelahnya para murid semakin berani mewartakan kebangkitan Yesus. Petrus berkhotbah dan bersaksi : Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi _( Kis 2: 32 )_. 

Wafat dan kebangkitan Kristus adalah pokok dan dasar iman Kristiani. Peristiwa wafat dan kebangkitan Yesus telah menggenapi sosok Mesias yang dikehendaki oleh Allah Bapa Pencipta Alam Semesta  _( bdk Lukas 24:44)_

*Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan  bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat*  _( bdk. Ibr 11:1 )_.  Menerima dan mempercayai Yesus putera Allah yang menderita dan bangkit dari kematian adalah kemutlakan yang memberi kita keselamatan jiwa dan kehidupan kekal. 

_*Doa* : Yesus Engkau mengutus para rasul agar tidak takut menjadi saksi mewartakan kebangkitan-Mu. Berilah aku iman yang teguh agar aku pun siap menjadi saksi-Mu dengan gembira dan semangat. Mewartakan karya cinta kasih kepada sesama terlebih mereka yang belum mengenal dan mengimani-Mu. Yesus Engkaulah Tuhan dan Penyelamatku. Amin._

_@jg_arif_wibowo: Selamat Paskah April 2022_
.
https://awibowo325blog.wordpress.com/2022/04/18/iman-melawan-dusta/

Kebangkitan Yesus adalah kasih Allah yang mengalahkan kuasa dosa.

*Kebangkitan Yesus adalah kasih Allah yang mengalahkan kuasa dosa.*

Refleksi Paskah 17 April 2022 

Hari ini kita bersukacita penuh syukur  merayakan kebangkitan  Tuhan Yesus dari kematian-Nya. Wafat dan kebangkitan Kristus adalah pokok dan dasar iman Kristiani. Peristiwa wafat dan kebangkitan Yesus telah menggenapi sosok Mesias yang dikehendaki oleh Allah Bapa Pencipta Alam Semesta  _( bdk Lukas 24:44)_. Manusia, yang jatuh ke dalam dosa sejak kegagalan Adam, menjadi tanpa daya untuk kembali layak bersatu dengan Allah.

Nabi Yesaya telah menubuatkan  Hamba Tuhan yang akan mencelikkan orang-orang buta, membuat telinga orang tuli mendengar, orang lumpuh berjalan dan orang bisu bersorak sorai _( bdk Yesaya 35:5-6 )_ namun Hamba Tuhan ini juga yang  dihukum bersama para penjahat, yang menderita, wafat _( bdk Yes 53:2-7; Yes 53:12; Keb 2:12-20 )_ dan dibangkitkan dari antara orang-orang mati. Dia akan bangkit dari kematian _(Mzm 16:10; 30:3)_.

Pada masa awal Yesus berkarya, Dia menyembuhkan orang sakit, mengusir setan dan membuat banyak mujizat. Sebagian masyarakat Yahudi kala itu mengharapkan  dan mendorong Yesus menjadi Mesias sebagaimana yang mereka kehendaki. Yaitu Mesias dengan kekuasaan  politik dan militer untuk memimpin pembebasan mereka dari penjajahan Romawi. Hal itu karena sejak kembalinya bangsa Yahudi dari pembuangan Babel, kurang lebih 500 tahun sebelum Yesus, bangsa Yahudi telah merindukan pemimpin yang dapat mengembalikan kejayaan bangsa Yahudi seperti Daud atau Salomo. Pengalaman pembuangan Babel telah membuat bangsa Yahudi ingin mematuhi  Taurat Musa secara ketat dan mengharapkan Mesias yang membebaskan mereka dari belenggu penjajahan politik.

Bagi kita para pengikut Kristus, Hamba Tuhan yang dinubuatkan oleh Nabi Yesaya itu adalah Tuhan Yesus Kristus. Semua manusia telah berdosa dan hukuman yang layak bagi mereka adalah kematian: karena upah dosa adalah maut _( bdk Roma. 6:23)_. Maut yang dimaksudkan adalah keterpisahan dari Allah _(bdk. Yoh. 17:3 tentang hidup kekal)_. Karena dosa-dosanya, manusia tidak layak menerima kebahagiaan abadi di surga. Tuhan Yesus yang tidak berdosa rela menjalani penderitaan sampai mati di kayu salib, yang turun ke tempat penantian, dan untuk sementara waktu terpisah dari Allah. Ia mengalami kematian seperti semua manusia dan masuk dengan jiwa-Nya ke tempat perhentian orang mati _( KGK 632 )_. Tuhan Yesus telah rela menanggung hukuman yang seharusnya ditanggung oleh semua manusia karena dosa-dosa mereka. Karena hukumannya telah dijalani oleh Kristus, manusia dianggap benar ( atau dibenarkan) oleh Allah, dan dibebaskan dari hukuman atas dosa, serta dianggap layak mendapatkan keselamatan dan mendapat bagian dalam kemuliaan Allah dalam kehidupan abadi.

Allah menyatakan kasih-Nya dalam Tuhan Yesus. Orang yang mengasihi tidak mencari keuntungan bagi dirinya sendiri dan tidak mengharapkan pamrih atau balasan apapun dari orang yang dikasihinya. Sebaliknya, ia hanya memikirkan kebaikan orang yang dikasihinya dan rela mengurbankan diri demi dia. Allah adalah Kasih _(1Yoh. 4:8, 16)_. la mengasihi manusia: la tidak menghendaki manusia dikuasai oleh dosa dan binasa _(Yoh. 3:16)_, tetapi menghendaki mereka hidup berbahagia selamanya di surga. Terdorong oleh kasih-Nya yang begitu besar kepada manusia, Allah telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal _(Yoh. 3:16)_.

Jika seseorang manusia berpikir "Saya berbuat baik supaya saya masuk surga," sebenarnya manusia itu  menganggap keselamatan sebagai hasil kerja kerasnya sendiri. Jikalau manusia dapat menyelamatkan diri-Nya sendiri, Tuhan Yesus tidak perlu datang ke dalam dunia dan menyerahkan nyawa-Nya untuk menyelamatkan mereka. Tetapi, bagi orang Kristiani keselamatan abadi atau surga adalah karunia Allah, bukan hasil kerja keras manusia. Tidak mungkin bagi manusia yang dikuasai oleh dosa dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Surga itu diberikan oleh Allah berkat karya penyelamatan yang dilakukan oleh Kristus melalui peristiwa wafat dan kebangkitan-Nya.

Setiap orang yang percaya kepada Kristus harus berani berkata seperti Paulus: "Tuhan Yesus, Anak Allah, telah mengasihi aku dan telah mati di kayu salib supaya aku bisa selamat dan menikmati kemuliaan surgawi bersama Dia."

Jikalau kita merasakan bahwa Allah telah mengasihi kita, kita pun akan tergerak untuk mengasihi Allah. Kita mengasihi Allah karena Dia lebih dahulu mengasihi kita _(1Yoh. 4:19)_. Tetapi, bagaimanakah kita dapat mengasihi Allah? Kita mewujudkan kasih kepada Allah itu dengan mengasihi sesama karena orang yang mengasihi Allah harus juga mengasihi saudaranya _(1Yoh. 4:21)_. Kasih kepada Allah juga diwujudkan dengan melawan kecenderungan untuk berdosa karena Kristus telah membebaskan manusia dari kekuasaan dosa. Karena itu, kalau kita mengasihi Allah, kita tidak akan membiarkan diri dikuasai oleh dosa.

Sepanjang sejarah, Gereja telah banyak menghadapi berbagai upaya untuk meruntuhkan iman Kristiani dengan menyangkal kebangkitan Yesus. Cerita yang mutakhir adalah kisah penemuan makam yang diduga sebagai makam Yesus dan keluarga Yesus di Talpiot, Israel. Penemuan ini dipublikasikan melalui buku oleh Simcha Jacobovici dan Charles R. Pellegrino pada tahun 2007 (Wikipedia). 

Penemuan makam Yesus dijadikan alasan untuk menolak percaya kepada Yesus, menolak kebangkitan-Nya, menolak ke-Allah-an-Nya, dan lain sebagainya. Penemuan ilmiah makam di Talpiot inipun disanggah dengan argumentasi ilmiah yang lain. Perdebatan ilmiah  tidak ada maknanya atau kontribusinya bagi  peruntuhan iman maupun pertumbuhan  iman Kristiani.   Iman Kristiani tetap tumbuh dan berbuah-berlimpah  sepanjang sejarah hidup manusia sejak Gereja Kristen Perdana hingga sekarang. Pertumbuhan dan buah-buah iman akan Kristus yang bangkit, tidak pernah bisa dibatasi oleh ilmu pengetahuan ilmiah atau akal budi.

Gereja juga menghargai kebebasan berpendapat. Namun bukti-bukti ilmiah tentang makam Yesus tetaplah bukan sebuah argumen yang melawan iman Gereja. Iman Gereja adalah satu keyakinan bahwa  Allah mengasihi manusia tanpa batas. Kepercayaan akan kebangkitan Kristus itu telah mengalahkan kuasa Iblis _( bdk Markus 16:16-18)_.

Kesaksian para murid Yesus tentang kubur yang kosong dan yang ada hanyalah kain kafan saja, menandakan bahwa Yesus  sudah bangkit _(Lukas 24:12)_. Adanya malaikat yang mengatakan bahwa Tuhan Yesus telah bangkit kepada perempuan- perempuan yang pergi ke kubur Tuhan Yesus  _(Lukas 24:5-7; Matius 28:5-7)_.  Kemudian Tuhan Yesus sendiri beberapa kali menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sebelum Ia naik ke surga seperti: ketika Yesus memperlihatkan tangan, kaki, dan juga lambung-Nya yang ditusuk  dan makan bersama murid-murid-Nya _( Lukas 24:13-49; Yohanes 20:19-29; Yohanes  21:1-14)_. Yesus  menampakkan diri kepada mereka secara nyata, bukan imajinasi, kepada para murid. Rasul Paulus juga mengatakan bahwa selain kedua belas murid-Nya dan semua rasul, Yesus juga menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus orang dan juga telah menampakkan diri kepada Paulus _(I Korintus 15: 6 dan 8)_. 

Pada saat Tuhan Yesus menampakkan diri, hal tersebut menyatakan bahwa Ia telah bangkit. Ia memiliki otoritas atau kemenangan atas kematian. Pusat dari fakta atas pemberitaan kebangkitan-Nya adalah ketika Kristus menampakkan diri. Jadi, semua bukti dan kesaksian tersebut mematahkan tuduhan dan pendapat yang menentang kebangkitan Yesus. Paskah kita adalah kebangkitan Yesus dari alam maut bukti kemenangan Kristus atas Iblis. Paskah adalah perayaan kasih Allah yang setia dan tanpa batas pada manusia. *Selamat Paskah, Amin*

_@jg_arif_wibowo:renugan_Minggu_Paskah_Pagi_17April2022_ 

https://awibowo325blog.wordpress.com/2022/04/16/kebangkitan-yesus-adalah-kasih-allah-yang-mengalahkan-kuasa-dosa/

Wednesday, March 2, 2022

Kegagalanku menjadi gambar rupa Allah

*Rabu Abu*  2 Maret 2022 
Bacaan liturgi hari ini
Pertama Yoel 3:12-18
Kedua 2Korintus 5:20-6:2
Injil Matius 6:1-6.16-18

*Kegagalanku menjadi gambar rupa Allah*

Hari ini kita merayakan Rabu Abu sebagai awal masa puasa dan pantang dalam masa Prapaskah. Kita akan berjalan selama empat puluh hari merenungkan hidup dan kehidupan kita di hadapan Tuhan dan sesama kita. Kita berjalan menuju Paskah, hari pembebasan kita dari perbudakan dosa. 

Pada hari Rabu Abu ini kita mulai mempersiapkan batin kita agar kita layak ditebus oleh penderitaan Dia yang dari Allah dan yang mengasihi kita. Jiwa kita yang sedang tergadai oleh kegagalan kita yang jatuh ke dalam dosa, mohon agar turut tertebus di hari kemenangan Yesus atas kematian. Di masa Prapaskah ini kita mau menjalani puasa, doa, derma dan matiraga.

*Koyakkanlah hati mu, jangan pakaianmu"* kata nabi Yoel ( lih. Yoel 2:14). Bukan tata-lahir, upacara atau ritual,  yang bisa dilihat orang, melainkan sikap hati, yang mau berbalik kepada Tuhan. Itulah makna puasa, doa, derma, matiraga yang menjadi ungkapan tobat.

Sejarah manusia itu memang sejarah dosa sejak peristiwa di Taman Firdaus, Air Bah yang dihadapi oleh  Nuh, ambisi manusia dalam peristiwa Menara Babel, sampai Perang Dunia Pertama, Perang Dunia Kedua hingga kini Perang Rusia dan Ukraina, bahkan  hingga  ancaman pemusnahan dunia dengan perang nuklir…Rupanya manusia belum sadar bahwa kelaparan itu disebabkan oleh keserakahan segolongan orang yang tak mau membagi, ketidakadilan oleh yang tak mengakui hak wewenang sesama. Kemerosotan akhlak mengancam kelangsungan, keselamatan bangsa.

Kristus telah dibuat dosa di kayu salib oleh  karena kita, meskipun la sendiri sebagai Putera Allah Bapa tanpa dosa. Sebab kita manusia yang berbuat dosa, dan kita sendiri tidak mampu berbuat apa-apa untuk menebusi dosa kita. Kita tergantung dari jasa dan pengampunan Tuhan. 

Masa puasa itu tepat untuk mengakui kemiskinan dan kerapuhan kita sebagai makhluk, yang dalam segala hal  tergantung dari Allah: Hidup kita, kesejahteraan, kesehatan kita. Apalagi kita masih makhluk berdosa, yang memerlukan pendamaian; ini kita siapkan dengan doa, puasa dan matiraga selama masa Prapaskah.

Karena matiraga ini adalah disebabkan oleh demi  Tuhan   dan untuk relasi kita dengan Tuhan, tentu ini adalah ruang privat antara  kita dengan Tuhan. Tuhan  saja yang berhak untuk melihat matiraga kita. Matiraga kita adalah milik Tuhan  yang tak layak untuk dilihat atau diketahui oleh sesama kita. Terlebih jika matiraga kita ini sampai menyusahkan sesama kita. *Kita tidak ingin mengganti upah Tuhan dengan upah dari manusia barang sedikitpun,* berupa keterlihatan atau pujian oleh manusia.

Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu ( lih. MATIUS 6:16-18).

_*Doa*: Tuhan Yesus sertailah kami dengan Roh Kudus-Mu, utuslah para malaikat-Mu untuk menyertai kami di dalam perjalanan matiraga pertobatan kami, agar kami layak Engkau bebaskan dari belenggu dosa oleh penderitaan salib, wafat dan kebangkitan-Mu Yesus. @jg_arif_wibowo_

https://awibowo325blog.wordpress.com/2022/03/02/kegagalanku-menjadi-gambar-rupa-allah/

Tuesday, March 1, 2022

Apakah sungguh kita merindukan kehidupan kekal?

*Syukur penutup hari*, 🛌💤

Selasa 1 Maret 2022, Pekan Biasa ke 8 
Bacaan liturgi hari ini 
Pertama 1 Petrus: 10-16
Injil Markus 10:28-31 

*Apakah sungguh kita merindukan kehidupan kekal?*

Kalau tidak merindukan hidup kekal lalu setelah mati mau kemana? Yesus Kristus datang ke dunia untuk memberi kabar gembira yaitu kabar datangnya Kerajaan Allah dan kehidupan kekal melalui penderitaan salib, wafat dan kebangkitan-Nya. Kehidupan kekal artinya hidup bersatu dengan Allah. Di dalam masa hidup kita  di dunia ini pun kita bisa bersatu dalam keserupaan atau segambar dengan Allah, sebagaimana rencana Allah menciptakan manusia. 

Jika kita tidak merindukan kehidupan kekal tentu tidak akan bisa mengikuti Kristus. Bahkan murid Yesus, Petrus bertanya, apa upahnya mengikuti Kristus?  _"Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau."_ Lalu kami dapat apa?  ( Lih Markus 10: 28 ). 

Kehidupan kekal mensyaratkan hidup di dunia yang bersatu dalam keserupaan dengan Allah. Suatu cara hidup yang hanya berpusat dan bersandar pada Allah melalui Yesus Kristus. 

Maka Yesus menjawab pertanyaan Perus di atas :. "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, barang siapa meninggalkan rumah, saudara-saudari, ibu atau bapa, anak-anak atau ladangnya, pada masa ini juga ia akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak-anak, dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan; dan di masa datang ia akan menerima hidup yang kekal ( lih. Markus 10:29-30). 

Tuhan memberi kita karunia sarana dan kebahagiaan dalam hidup di dunia namun tidak untuk melekat pada karunia yang Tuhan berikan. Tuhan meminta kita tetap berpusat pada Allah dalam menikmati karunia Tuhan. Allah tidak hanya mau memberi *"hadiah"* karunia tetapi justru mau memberikan diri-Nya. 

Dalam mengabdi Tuhan orang tidak bisa berhitung-hitung seperti pedagang memperhitungkan untung atau pegawai menghitung kenaikan gajinya. Ada hukum yang berjalan terbalik.  Banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu ( lih. Markus 10:31).

Tidak semua yang terpanggil akan terpilih. Orang tidak bisa sekali jadi, langsung sekali pasti. Manusia harus bekerja terus, dari hari ke hari, dengan berganti-gantinya situasi, berjuang dengan tuntutan Yesus yang dipegang, tanpa kendur, tidak mundur, berusaha menjadi hamba yang terbaik, dan dalam pada itu menyerahkan segala ganjaran kepada Tuhan. 

Perjuangan ini tidak hanya tak pernah rampung, tetapi bentuk dan jalannya ditentukan oleh Tuhan setiap waktu, dan manusia sebagai pengabdi harus menyesuaikan diri. Di sini orang selaku manusia akan merencanakan, dan Tuhan yang menentukan. Yang mendapat  ganjaran, bukan yang dikejar manusia menurut cita-citanya, tetapi yang dilaksanakan sesuai kehendak Tuhan. 

Mereka yang berbangga seperti orang  Farisi, yang menghitung dan menjumlah jasa, akan ditolak, tetapi si pemungut cukai yang menyesal dan minta dikasihani, diterima baik.

Yang memberi banyak uang  dilewatkan dalam pandangan Yesus, tetapi janda yang memberikan dua peser uang, menarik perhatian-Nya, karena yang diberikan itu seluruh kehidupannya. Tuhan mempunyai penilaian sendiri. 

_*Doa*:  Tuhan Yesus, Juruselamatku, seturut sabda-Mu, "Banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu." Tuhan, jangan biarkan aku terlena oleh tawaran-tawaran semu dunia yang selalu menggoda. Ajarilah aku untuk berani berkata *'cukup'* sehingga aku dapat menemukan kesejatian hidup di dalam Engkau. Amin. @jg_arif_wibowo_
.
https://awibowo325blog.wordpress.com/2022/03/01/apakah-sungguh-kita-merindukan-kehidupan-kekal/

Tuesday, February 15, 2022

Ragi: Dari manakah kenikmatan yang kita terima?*

🍟☕ *Rehat sore bersama Tuhan*

Selasa 15 Februari 2022, Pekan Biasa ke 6 
Bacaan liturgi hari ini
Pertama Yakobus 1:12-18
Injil Markus 8:14-21 

*Ragi: Dari manakah  kenikmatan yang kita terima?* 

Ragi meskipun kecil dan sedikit tapi dapat memberikan pengaruh yang sangat besar.
Secara umum roti yang beragi lebih enak daripada roti yang dibuat tanpa ragi. Ragi itu membuat roti menjadi lebih enak.  Ragi jadi simbol untuk yang membawa enak, kenyamanan atau kenikmatan. Secara umum kenikmatan itu dirasakan oleh panca indra kita, kenikmatan yang indrawi. 

Pertanyaannya adalah dari siapa sumber kenikmatan itu? Allah bisa memberi kenikmatan tetapi Iblis juga bisa memberi kenikmatan. Bisakah kita membedakannya? Itulah yang diperingatkan Yesus pada murid-murid-Nya.

Suatu ketika dalam suatu perjalanan Yesus bersama murid-murid-Nya, mereka menyadari bahwa bekal roti yang mereka bawa tidak cukup. Murid-murid-Nya terkesan kawatir akan kekurangan bekal di perjalanan. Namun Yesus mengambil kesempatan ini untuk memperingatkan para murid-Nya tentang roti yang akan masuk dalam diri mereka. Tentang segala sesuatu yang karena lapar maka itu dikonsumsi oleh mereka ( bdk Markus 8:14-16). 

Yesus melihat permasalahan soal lapar ini dalam perspektif yang lebih luas. Lapar perut kita bisa makan roti atau nasi. Tetapi manusia yang rohani hidup tidak hanya dari roti melainkan  juga dari pengetahuan dan  gagasan yang perlu untuk makanan jiwa. Bisakah kita membedakan antara gagasan dari Allah dan gagasan dari Iblis, karena bisa saja gagasan-gagasan itu sama-sama indah dan sama-sama memberi kenyamanan. 

Kembali kepada ragi. Lalu bagaimana dengan ragi Farisi dan ragi Herodes? Orang Farisi adalah orang-orang yang tidak percaya kepada Yesus, sehingga ragi Farisi adalah ketidakpercayaan akan Allah. Sedangkan Herodes adalah orang yang selalu mementingkan diri sendiri, sehingga ragi Herodes adalah sikap mementingkan diri sendiri dan tidak peduli orang lain. 

Apakah harta yang kita terima ini dari Allah atau dari Iblis? Apakah kekuasaan yang kita miliki ini dari Allah atau dari Iblis? Apakah ajaran yang kita terima ini dari Allah atau dari dari Iblis? Itu semua adalah sumber daya atau kenyamanan yang karena  lapar  maka kita membutuhkannya. Semua itu bisa tersedia di hadapan kita. Namun semua sajian pada kita itu apakah mengandung _"ragi Farisi atau ragi Herodes"?_  Itu yang Yesus peringatkan pada kita : _*Berjaga-jagalah  dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes* ( bdk. Markus 8:15 )_

Lantas bagaimana kita mesti bersikap? Dengan bimbingan Gereja dan Roh Kudus, di dalam keheningan kita belajar mengenal sabda-Nya dan belajar menyerahkan hidup kepada Yesus Tuhan kita, maka kita tak perlu takut dan cemas, Yesus akan selalu menyertai kita. 

_*Doa:* Tuhan Yesus, aku mau menemui Engkau dalam keheningan doaku, bersabdalah padaku agar aku tidak keliru menyantap kenikmatan gagasan dan materi  yang ditawarkan kepadaku. Semoga aku senantiasa hanya menerima gagasan yang berkenan pada-Mu.  @jg_arif_wibowo_
.
.
https://awibowo325blog.wordpress.com/2022/02/15/ragi-dari-manakah-kenikmatan-yang-kita-terima/

Sunday, February 13, 2022

Berkat bagi yang miskin dan yang mengandalkan Tuhan

🍟☕ *Kopi sore*
Minggu, 13 Februari 2022 Pekan Biasa ke 6 
Bacaan liturgi 
Pertama Yeremia 17:5-8
Kedua 1Korintus 16:12.16-20
Injil Lukas 6:17.20-26

*Berkat bagi yang miskin dan yang mengandalkan Tuhan*

Pada Injil hari ini Yesus mengajar tentang sabda bahagia. Yesus secara revolusioner membalikkan, atau lebih halus mengoreksi, makna kebahagiaan bagi manusia dan kita. Juga, sekaligus memberi makna yang lebih dalam dan luas pada miskin atau kemiskinan.

Miskin atau kemiskinan adalah ungkapan untuk situasi tanpa sumber daya. Kemiskinan tidak hanya berarti tanpa harta, tanpa kekuasaan dan tanpa kepandaian, tetapi juga berarti kelumpuhan hidup. 

Situasi tanpa sumber daya atau ketidak-berdayaan membuat manusia sadar akan kerapuhan dan ketergantungannya pada Allah, Tuhan Sang Maha Pencipta yang menyelenggarakan hidup. Di dalam ketidak-berdayaan ini manusia seyogyanya menjadi sadar dan mengandalkan Tuhan semata. 

Ketika manusia sampai pada situasi yang miskin dan tanpa daya, ia mengandalkan pada Tuhan semata, maka ia akan memiliki kesempatan untuk mengalami Tuhan yang turun tangan. Dengan demikian ia akan mengalami Tuhan atau melihat kemuliaan Tuhan. 

Kurangnya sumber daya material membuat orang miskin lebih bergantung pada Tuhan. Orang miskin ini lebih mudah dekat dengan Tuhan. Kedekatan mereka dengan Tuhanlah yang membuat mereka diberkati.

 Pada bacaan pertama Nabi Yeremia menyampaikan firman Tuhan berkata :
  _Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan!_  
Namun sebaliknya : 

_Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! ( Bdk YEREMIA 17:5-8)_

Pada awal khotbahnya di bukit Yesus berkata di hadapan murid-muridNya dan berkata: _"Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.( bdk LUKAS 6:20 )_. Sabda Bahagia ini memberi petunjuk tentang arti mengikuti Dia. Kerajaan Allah atau kemuliaan Allah menjadi pokok makna kebahagiaan, yang menjadi paradox karena diraih melalui jalan kemiskinan, jalan ketidak-berdayaan. Kalimat atau ayat ini menjadi pembuka bahkan inti dari ayat-ayat pengajaran berikutnya ( bdk Lukas 6:21-26 ). 

Tujuan hidup manusia adalah kebahagiaan. Thomas Aquinas dalam refleksinya mengatakan bahwa kebahagiaan tidak dapat dicapai dalam kekayaan, kehormatan, ketenaran, kekuasaan, kesehatan, kenikmatan, bahkan bukan pada ciptaan. Kebahagiaan sejati terletak bukan pada ini atau itu, tapi pada _visio beatifica_, yakni *penampakan kemuliaan Allah*. Kebahagiaan bisa dipandang sebagai pengalaman melihat atau mengalami kebersatuan dalam kemuliaan dan kasih Tuhan.

St Tomas Aquinas menunjuknya nanti di surga, St. Teresa Avila membenarkannya, seraya memberikan pandangan baru bahwa benar di surgalah kepenuhan kebahagiaan itu, tapi _juga ada di dunia ini kita pun dapat mengalaminya dalam persatuan dengan Allah atau dalam bahasanya yang lebih mesra: perkawinan rohani._

Orang yang menemukan penghiburan sekarang dalam kekayaan duniawi, biasanya bersikap tidak bergantung pada Tuhan. Jadi, sulit bagi orang kaya atau yang serba penuh daya untuk masuk Kerajaan Allah, meskipun bagi Tuhan, itu mungkin terjadi. Kebahagiaan sejati adalah persatuan dengan Allah, yang terus menerus dimintakan melalui jalan kemiskinan sukarela. 

Yesus tidak mengharuskan kita tidak punya sumberdaya atau tidak bekerja keras dalam hidup, namun mengambil suatu sikap batin yang senantiasa miskin di hadapan Allah dan senantiasa mengandalkan Allah.
.
.
_*Doa*: TUHAN aku bersyukur pada-Mu karena segala kasih karunia yang kau berikan pada kami, berilah kami juga kekuatan dan kesadaran untuk senantiasa mengandalkan kuasa dan kasih-Mu dalam hidup kami. @jg_arif_wibowo_
.
https://awibowo325blog.wordpress.com/2022/02/13/berkat-bagi-yang-yang-miskin-dan-yang-mengandalkan-tuhan/

Wednesday, February 9, 2022

Merindukan mata air di hati kita

🥧☕ *Kopi sore*

Rabu 09 Februari 2022 Pekan Biasa ke 5
Bacaan liturgi hari ini 
Pertama 1 Raja-raja 10: 1-9.
Injil Markus 7: 14-23 

*Merindukan mata air di hati kita* 

Bacaan Injil hari ini bercerita tentang Yesus yang mengingatkan kita bahwa kita ini punya telinga dan bisa mendengar ( Mrk 7:16). Rupanya Yesus telah berkali-kali mengamati bahwa kata-katanya sering tidak didengar dengan baik dan tidak dimengerti. Tidakkah Yesus merasa jengkel jika sekarangpun kita mengulangi kebodohan yang sama seperti yang dilakukan orang-orang terdahulu dulu?

Yesus mengingatkan kita pada hari ini, sekali lagi : Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban? Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal ( bdk Mrk 7:18-19 ).

Hati adalah pusat hidup manusia dan tempat Allah bersemayam. Dalam hatilah terpancar kualitas hidup. Hati adalah pendorong manusia untuk membarui diri, sehingga mampu untuk memberi makna dan berguna bagi Allah dan sesama. Di dalam hatilah kita membangun relasi kejujuran dan ketulusan dengan Allah. Hati untuk menunjuk keseluruhan pribadi orang yang meliputi kehidupan batin, afektif serta kehidupan intelektual kognitif.

Yesus berkata lagi : Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya,sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan ( bdk Mrk 7: 20-22) 

Seberapa besarkah kita memberi ruang pada Allah di dalam hati kita? Atau, apakah kita lebih besar memberi ruang kepada setan untuk berdiam dalam hati kita? Beranikah kita sungguh masuk dan memurnikan hati kita untuk memberi ruang semakin besar untuk Allah berkuasa dalam hati kita? 

Jika kita memberi ruang pada Allah untuk merajai kita, maka hal-hal yang dari Allah lah yang akan keluar dari hati kita melalui ucapan, sikap dan perilaku. Sebaliknya pula hal yang buruk menajiskan akan keluar jika kita tak mengijinkan Allah merajai hati kita. 

Yesus mengajak kita untuk melihat dasar kehidupan kita beragama, yakni hati. Yesus mau menegaskan pemahaman yang tepat dan benar tentang 'najis'. Najis itu berarti dapat merusak, meracuni, dan berakhir pada dosa. Oleh karena itu, Yesus mengajarkan kepada kita bahwa yang dikatakan 'najis' adalah segala sesuatu yang keluar dari hati, bukan yang masuk ke dalam perut manusia. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam ( hati kita ) dan menajiskan orang ( bdk Mrk 7:23).

Apakah kita merasa lebih nyaman dan tentram hanya dengan mematuhi detil-detil aturan dalam agama kita? Beranikah kita bertolak ke tempat yang lebih dalam untuk memurnikan diri dan bertemu Allah dalam hati kita?

Bertemu dengan Allah yang adalah Kasih di dalam hati kita tentulah tidak semudah dan seringan mematuhi segala detil-detil aturan agama. Karena segala sesuatu yang najis itu keluar dari hati, maka kita perlu mengolah diri kita untuk menciptakan hati yang murni, hati yang berkenan pada Allah.  

Akan ada pergulatan dan pengorbanan yang "menyakitkan". Akan ada kematian dan kelahiran baru dalam diri kita. Namun ketika kita menang dan bertemu Allah di pusat hati kita, kita akan memiliki mata air kasih nan jernih. Kita akan keluar dari hati kita dengan membawa keserupaan dengan Allah. 

_@jg_arif_wibowo: TUHAN Yesus aku memohon rahmat-Mu untuk mampu memurnikan hatiku agar Engkau sungguh-sungguh merajai hatiku. Engkau mampukan aku mengalirkan kebaikan bagi sesama._
.
.
https://awibowo325blog.wordpress.com/2022/02/09/merindukan-mata-air-di-hati-kita/

Monday, February 7, 2022

Iman yang menyembuhkan

Senin 7 Februari 2022, Pekan Biasa ke-5
Bacaan liturgi hari ini:
Pertama 1 Raja-raja 8:1-7.9-13 
Injil Markus 6:53-56

*Iman yang menyembuhkan* 

Bacaan Injil hari ini menceritakan kepada kita tentang iman orang-orang di desa-desa di tepi danau Genesaret yang menyembuhkan sakit mereka.

_Orang meletakkan orang-orang yang sakit di pasar dan memohon kepada Yesus, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah Yesus saja. Dan semua orang yang menjamah jumbai jubah Yesus menjadi sembuh.( Bdk. Markus 6: 56 )._ 

Sikap dan tindakan iman itu sangat sederhana. Tidak meminta untuk bisa melakukan hal-hal yang besar atau sedang. *Cukup yang kecil saja: menyentuh jumbai jubah-Nya*, dan karunia kesembuhan itu mengalir kepada mereka. Mereka tidak minta digendong atau diusap atau diberi kesempatan bercakap-cakap dengan Yesus. Tetapi hanya dengan penuh iman akan kuasa dan kasih Allah, mereka menyentuh jumbai jubah Yesus, dan mereka mendapat kesembuhan. _*Sentuhan mereka telah menjadi doa yang penuh kuasa bagi mereka.*_

Kehadiran Yesus telah memberikan rasa aman pada orang-orang yang merindukan dan membutuhkan kesembuhan jiwa dan raga, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang banyak di tepi Danau Genesaret. Berbondong-bondong orang menggotong orang sakit ke hadapan Yesus ( bdk Markus 6: 55). Dengan kacamata iman mereka melihat Yesus telah menjadi tanda kehadiran kuasa Allah di tengah-tengah mereka. Demikian pula nama Yesus kini telah menjadi tanda kehadiran Allah. 

Terlalu banyak orang yang datang minta kesembuhan pada Yesus saat itu. Namun para pengantar orang-orang sakit itu tetap datang dengan penuh iman. Mereka tidak peduli apakah Yesus akan sempat menyapa mereka atau tidak. Iman membuat sentuhan memiliki daya penyembuhan. 

Mereka mendapat kesembuhan hanya dengan menyentuh jumbai jubah Yesus. Iman mereka telah menyembuhkan mereka. Menyentuh jumbai Yesus adalah tindakan yang sangat sederhana. Suatu ungkapan yang lahir dari penyerahan diri total, sangat sederhana tidak rumit dan percaya akan penyelengaraan Allah di dalam Yesus.

Duka dan kecemasan masih meliputi hati kita karena wabah covid-19 dan variannya yang masih merajalela. Kita masih gagap dan kebingungan menghadapinya. Di sinilah sosok Yesus menjadi harapan kita. _"...hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Penyerahan diri sepenuhnya, dengan kesederhanaan tanpa kerumitan, dan semua orang yang menjamahnya menjadi sembuh"_.

Kita hindarkan segala kenginan utuk tercapainya kepuasan-kepuasan yang sebetulnya tidak perlu untuk keselamatan. Kehadiran Yesus yang memberikan harapan, rasa aman dan tenang di tengah situasi yang mencemaskan dan menakutkan menjadi fokus permenungan kita hari ini. 

*DOA*
TUHAN Yesus dengan penuh iman kami membawa saudara-saudara kami yang saat ini sedang sakit ke hadapan-Mu. Kami menyentuh jumbai jubah-Mu memohon kesembuhan untuk para saudara kami yang sedang sakit. Jadikanlah para saudara kami ini sembuh dan sehat kembali. _(@jg_arif_wibowo)_
.
.
https://awibowo325blog.wordpress.com/2022/02/07/iman-yang-menyembuhkan/ 




Monday, January 10, 2022

Pembaptisan dan Kerasulan Doa

Sabtu 8 Januari 2022.
Bacaan pertama : 1 Yohanes 5: 14-21
Injil : Yohanes 3:22-30.

Kadang-kadang  dalam interaksi pergaulan kita merasa bahwa mengucapkan doa untuk seseorang itu sekedar basa-basi. Apalah beratnya mengucapkan doa untuk seseorang. Terkadang kita mengucapkan sebagai pelengkap basa-basi pergaulan. Tetapi, bagi orang yang percaya dan merindukan hidup kekal, doa itu sangat berarti dan berharga baginya. Jauh lebih berharga dari hadiah materi. Maka jika ia setuju dengan doa itu, ia hanya mengaminkan saja maka para malaikat yang di sekelilingnya juga akan mengaminkan untuk dia.

_"Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan, bahwa ia harus berdoa." 1YOHANES 5:16_

Siapakah dari kita tidak berdosa? 
Kiranya kita semua membutuhkan didoakan oleh sesama kita dan menjadi panggilan kita semua untuk saling mendoakan. Doa menjadi pemberian sebagai ungkapan pengharapan dan kasih yang menghidupkan. Dengan demikian mendoakan sesama atau dunia menjadi bentuk panggilan kerasulan umat beriman.

Apakah yang paling berharga bagi kita orang beriman? Tidak lain adalah hidup kekal. Kita yang sudah menerima pembaptisan ini telah diangkat menjadi anak-anak Allah dan saudara dari Yesus putera sulung Bapa. Pembaptisan adalah pintu masuk untuk memenuhi  kerinduan kita bersatu dengan Bapa dalam hidup kekal. Karena kita berpengharapan maka kita bertobat dan menerima diri dibaptis. 

Sebagaimana diteladankan oleh Yohanes pembaptis, pembaptisan adalah membuka jalan bagi hadirnya Mesias, Yesus Kristus putera Allah. Yohanes memberi kesaksian tentang Yesus yang memberikan dirinya dibaptis. Yesus adalah Dia yang akan datang yang akan memberikan hidup kekal bagi manusia yang percaya kepada-Nya. Gereja mewarisi kuasa membaptis ini bagi kita. Dengan pembaptisan ini kita menjadi saudara Yesus dan anak-anak Allah. Pembaptisan menjadi pintu rahmat akan kehadiran Yesus di dalam hati kita. 

Yesus yang adalah Tuhan telah memberi diri-Nya dibaptis, Ia merendahkan diri-Nya setara dengan  manusia dan kelak Ia menang atas maut melalui kesetiaan-Nya menderita disalib, wafat dan bangkit. Jalan itulah yang diwahyukan Allah melalui inkarnasi-Nya agar menjadi nyata bagi manusia akan jalan keselamatan. 

Dalam hidup menggereja, kita saling mengulurkan tangan untuk memajukan persekutuan umat demi kemuliaan TUHAN. Yohanes memberi teladan bagi kita untuk menjadi anggota kerja sama kelompok yang baik dalam meluaskan Kerajaan Allah. Yohanes berbahagia disamping mempelai pria yang hadir menemui mempelai perempuan  di tengah-tengah pesta ( bdk Yohanes  3: 29 ). Yohanes menjadi penuh sukacita ketika ia semakin kecil dan Yesus Sang Sabda semakin besar dan luas diterima. Kita yang mengabarkan dan menjalani perutusan pembaptisan harus menjadikan Sabda Allah dalam Yesus menjadi semakin besar dan dimuliakan di tengah-tengah dunia.

_@jg_arif_wibowo: TUHAN, hendaknya  melalui doaku  Engkau menjadi aku penyambung kerahiman-Mu untuk sesamaku._
.
.
https://awibowo325blog.wordpress.com/2022/01/08/kerasulan-doa-dan-pembaptisan/