Wednesday, July 28, 2021

Jangan berhenti menggali untuk harta surgawi

https://awibowo325blog.wordpress.com/2021/07/28/jangan-berhenti-menggali-untuk-harta-surgawi/

Rabu 28 Jul 2021, Pekan Biasa XVII

Bacaan hari ini: Keluaran (34:29-35), Mazmur: (99:5-7.9), Bait Pengantar Injil: Yohanes 15:15b
Bacaan Injil: Matius (13:44-46)


*Ayat yang menginspirasiku*

_"Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu."_ MATIUS 13:44

_"Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah."_ MATIUS 13:45

_"Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."_ MATIUS 13:46


*Renungan batin*

Benarkah aku akan memilih hidup kekal ketika aku banyak tawaran kesenangan dan kenyamanan di dunia ini? Bisakah aku memiliki hidup kekal atau harta surgawi sambil tetap memiliki harta duniawi? Apakah jika aku tidak memiliki harta duniawi dengan sendirinya, otomatis, aku memiliki harta surgawi atau Kerajaan Allah?

Aku merenungkan dan ingin menawarkan suatu gambaran suasana berkaitan dengan mengenai perikop Injil di atas. Mudah-mudahan tidak terlalu jauh meleset. _Bagaimanakah cara Kerajaan Allah akan bekerja untuk kita?_ 

*Yang pertama*, kita akan menerima berlimpah-limpah segala keperluan kita ( bukan keinginan kita!) , atau *yang kedua*: Allah akan memberikan kita kekuatan dan kesabaran dalam menanggung segala kekurangan dalam hidup kita. 

Apakah perbedaan dari kedua hal tersebut yang dilakukan Allah pada kita? Bagi mereka yang menemukan Kerajaan Allah di dalam hidupnya, semua itu sama. 

Bagaimanakah pertimbangan kita jika kita harus memilih : memiliki kedua kemungkinan situasi itu,…. atau tidak memilikinya sama sekali? Oleh karenanya memiliki Allah adalah cukup dan sudah segalanya bagi kita. Barangsiapa memiliki Allah tidak memerlukan sesuatu apa pun dalam hidup ini.

Siapapun yang meragukan hal itu hanya menunjukkan bahwa si jahat telah merampas iman dari hatinya atau ia belum sepenuhnya memberikan hidupnya pada Allah karena belum menemukan-Nya.

Oleh karenanya mereka yang menemukan Kerajaan Allah akan melepaskan seluruh miliknya untuk ditukar dengan Kerajaan Allah, sebagaimana kisah pedagang di dalam bacaan Injil hari ini. Sesuatu yang sangat berharga bagi hidup kita memang perlu dibayar dengan pengorbanan. Namun yang kita korbankan ini adalah harta duniawi sesuatu yang tidak kekal untuk mendapatkan harta surgawi yang kekal. Oleh karenanya harta duniawi yang kita miliki jangan menjadi penjara bagi kebebasan roh kita yang ingin bersatu dengan Allah dan mengalami kerajaan-Nya yang kekal.

Membaca dan merenungkan kitab suci terkadang seperti orang yang menimba air di sumur yang sangat dalam. Terkadang kita mendapatkan air dan terkadang timba kita kosong ketika kembali kepada kita. Kita merasa tidak berjumpa dengan Allah. 

Hari ini aku mengalaminya. Walaupun perikop bacaan Injil hari ini sangat jelas memberikan maknanya yaitu tentang seseorang yang menemukan harta surgawi hidup kekal dan meninggalkan harta duniawi, namun terasa klise dan tidak terasa sebagai sapaan Tuhan. 

Rupanya Tuhan bisa berkata: Aku senang kamu membaca Alkitab dan masuk dalam keheningan. Tetapi sekarang kamu harus menunggu kedatangan-Ku! Aku harus menjadi Tuhan dalam perjumpaan kita, dan kamu tidak dapat mengatur kedatangan dan kepergian-Ku.

*Doa:*

Tuhan Yesus, tambahkanlah kemauan dan kemampuanku agar segala yang kumiliki tidak menjadi penghalang untuk selalu dekat dengan-Mu. Bukalah mata hatiku untuk semakin rendah hati memahami Kerajaan Allah dan menjadi layak untuk memilikinya. Peliharalah dalam hatiku suasana hati yang penuh sukacita dan kegembiraan di dalam perjalananku menemukan Kerajaan Allah bagiku.
.
.
#pandemi_memurnikan_kita
_@jg_arif_wibowo: sepercik air merindukan samudra_

Tuesday, July 27, 2021

Bergaul akrab dengan Allah

 Selasa 27-07-2021,Pekan Biasa XVII

Bacaan I: Kel 33:7-11;34:5b-9.28, Mazmur: 103:6-7.8-9.10-11.12-13, Bacaan Injil: Matius  13:36-43


*Ayat yang menginspirasiku pagi hari ini.*


_"Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"_ MATIUS 13:43


*Renungan batin:*


Pada bacaan Injil hari ini Yesus membuat menjadi jelas bagi kita apa yang dimaksud dengan penabur, benih baik yang menjadi gandum, lalang, dan penuai. Benih adalah Sabda Allah, gandum adalah orang-orang benar  yang kelak akan bersinar seperti matahari dalam Kerajaan Surga. Mereka yang akan bersinar adalah mereka yang menerima Sabda Allah dan memeliharanya hingga berbuah berlimpah-limpah. Mereka juga akan bersinar bagai matahari  pada waktu ini untuk  yang bertahan tidak tergoda untuk ditumbuhi lalang yang ditaburkan oleh iblis. 


Ketika kita dibaptis kita menyediakan diri kita menjadi ladang yang siap ditaburi Sabda Allah oleh Kristus. Melalui Gereja Katolik kita menerima benih-benih  sabda-Nya.Sebagai anggota Gereja kita adalah anak-anak Kerajaaan di lain pihak  lalang yang hidup berdampingan dengan kita adalah benih-benih melawan Allah yang ditaburkan iblis.


Selain melalui perjumpaan dengan manusia dan alam semesta, kita mengenal Allah melalui Alkitab. Ketika kita membaca Alkitab kita belajar diam untuk mendengarkan Allah berkata pada kita. Itulah saat-saat intim ketika benih-benih kebenaran Sabda Allah ditaburkan dalam hati kita. Kita tidak berbicara tetapi diam mendengarkan dan merenungkan, memberi kesempatan Allah berbicara agar kita mengerti kehendak-Nya. 


Di dalam merenungkan bacaan Injil kita bisa mengenal berbagai tokoh-tokoh manusia yang berhadapan dengan Yesus. Ada tokoh-tokoh yang protagonis dan ada yang yang antagonis terhadap Yesus. Dari karakter-karakter tokoh protagonis yang benar menurut kehendak Allah  dan antagonis yang tidak benar menurut kehendak Allah, kita bisa belajar  membedakan mana yang akan menjadi benih gandum dan mana yang akan menjadi lalang bagi kita.


Alkitab bukan buku pedoman ilmu pengetahuan. Perlu sikap yang benar dalam membaca alkitab.Kita perlu hati terbuka dan polos ketika membaca alkitab. Keahlian dan ilmu belum menjamin bahwa membaca kitab suci benar-benar menjadi Firman Allah bagi kita. Bergaul dengan alkitab berarti bergaul dengan Allah sendiri dengan menemukan Firman-Nya.


Baiklah kita perhatikan pesan yang dikatakan oleh St Hieronimus : *Sebab tidak mengenal Alkitab berarti tidak mengenal Kristus*–Dei Verbum 25.


*Doa:*

Tuhan Yesus, aku ingin semakin mengenal Engkau. Tuhan, sabda-Mu menyadarkan aku bahwa Engkau sungguh mengasihi aku meskipun aku ini keras kepala dan banyak kesalahan serta dosa. Ambillah aku menjadi milik Mu Demi Kristus, Tuhan, dan Allah kami, sepanjang segala abad. Amin.


Monday, July 26, 2021

Melihat fakta dengan akal-budi dan iman.

Senin 26 Jul 2021, Pekan Biasa XVII
Bacaan hari ini : Sirakh  (44:1.10-15),  Mazmur (132:11.13-14.17-18),  Lukas  2:25c
Matius ( 13:16-17)

*Ayat yang menginspirasiku:*

_"Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar."_
MATIUS 13:16

_"Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya."_
MATIUS 13:17

*Refleksi batin:*

Ayat tersebut di atas dikatakan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya dan orang-orang yang mendengar  dan melihat Yesus mengajar.

*Bagaimanakah  kita melihat fakta-fakta  yang ada di hadapan kita?* 

Apakah kita melihatnya dengan suatu kacamata  ideologi tertentu? atau kacamata pengalaman masa lalu? 

Apakah kita melihat fakta dengan sungguh-sungguh tanpa tabir apapun di antara mata kita dan fakta yang kita hadapi?  

Apakah kita bisa menyadari bahwa kita sedang melihat fakta;  dengan atau tanpa prapaham atau prasangka? 

Semua itu bisa terjadi ketika kita melihat atau mendengar fakta di hadapan kita. Diawali  dengan kata *"Berbahagialah"*  pada ayat itu,  Yesus mengajak kita untuk melihat dan mendengar dengan bebas, dengan kacamata yang sungguh jernih, tanpa tabir,  namun dengan keutuhan seluruh karunia yang Tuhan berikan untuk kita sebagai manusia. Karunia Tuhan yang utama untuk melihat fakta dalam kehidupan kita adalah akal budi dan iman. 

Berulang kali Yesus  _"mengeluh"_  bahwa para pendengar-Nya  dan mereka  yang melihat apa yang diperbuat-Nya tidak bisa melihat apa yang ditampilkan oleh-Nya. Gambar atau rupa Allah yang benar adalah hal yang sangat dirindukan oleh para nabi dan orang benar terdahulu sebagai jalan untuk mengalami kepenuhan dan kebahagiaan atau Kerajaan Allah. Sementara murid-murid dan khalayak yang berhadap-hadapan dengan Yesus  _"dikeluhkan"_ sebagai mempunyai mata tapi tidak melihat dan mempunyai telinga tapi tidak mendengar.

Yesus adalah fakta yang harus dilihat dengan keutuhan semua daya yang diberikan Tuhan kepada kita yaitu daya-daya indrawi, akal budi dan iman agar kita bisa mengalami apa yang Yesus bawa untuk kita, yaitu gambar dan pernyataan diri Allah yang sepenuh-penuhnya. 

Demikian juga pengalaman dan fakta yang kita hadapi saat ini, detik ini, harus kita lihat dengan kejernihan yang bebas prapaham namun dengan keutuhan karunia Allah pada manusia yaitu akal budi dan iman agar kita selalu hidup dalam pengharapan. 

*Doa*
Allah Bapa di surga, sungguh kami bersyukur bahwa Allah memberikan kami akal-budi dan iman. Sehatkan dan kuatkan akal-budi dan iman kami agar kami melihat hidup kami dengan jernih dan utuh. Mampukan  kami untuk selalu hidup penuh daya upaya budi dan pengharapan dalam iman akan Kristus Tuhan. 
.
.
#pandemi_memurnikan_kita
_@jg_arif_wibowo: hanya sebutir debu di bawah alas kaki pelayan sabda-Nya._

https://awibowo325blog.wordpress.com/2021/07/26/melihat-fakta-dengan-akal-budi-dan-iman/

Wednesday, July 14, 2021

"AKU ADALAH AKU" yang menjadi Manusia


*"AKU ADALAH AKU" yang menjadi Manusia.*
Kamis 14 Juli 2021
Tahun Liturgi B/I Pekan Biasa XV. Bacaan hari ini : Keluaran (3:13-20), Mazmur 105:1.5.8-9.24-25.26-27), Matius (11:28-30)


3:14 _Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu."_

Begitulah Allah memperkenalkan diri-Nya kepada Musa dan mengutus Musa untuk membebaskan umat Israel dari penderitaan perbudakan. Dia yang adalah "Awal dan Akhir" mau menyatakan diri-Nya karena mendengar jeritan bangsa Israel yang menderita oleh perbudakan di Mesir. 

Dia yang "Awal dan Akhir" adalah Dia yang pernah berjanji pada nenek moyang Musa, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, kini Dia memenuhi janji-Nya dengan menyatakan diri-Nya pada Musa. Dia adalah Sang Ada yang maha hadir, meskipun berada di luar ruang dan waktu, Dia menjawab jeritan bangsa Israel yang tertindas dan mencari pertolongan-Nya. 

Kini Dia Sang Awal dan Akhir yang berada di luar ruang dan waktu itu telah masuk ke dalam sejarah menjadi manusia seperti kita untuk menunjukkan Gambar-Nya yang sejati kepada kita di dalam Yesus Kristus. Yesus adalah Allah yang menjadi manusia. Dia punya kuasa yang sama seperti Dia yang memperkenalkan diri kepada Musa sebagai Sang Ada yang maha hadir. Dia selalu hadir dengan belas kasih-Nya untuk mendengarkan jeritan penderitaan manusia.

Yesus adalah Allah yang mengosongkan diri-Nya serupa manusia namun Dia adalah puncak pewahyuan yang menghadirkan wajah Allah sepenuh-penuh-Nya kepada manusia.

Sebagaimana Allah berkata kepada Musa untuk bangsa Israel, Yesus menjamin kita dengan sabda-Nya kepada kita dalam bacaan Injil hari ini 

Matius 11:28-30  
_Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan._

Dari perikop di atas itu kita bisa merasakan wajah Allah yang lembut, sejuk dan penuh kasih. Yesus telah menjadikan kita lebih dekat pada Allah karena Ia mengajarkan kita memanggil Allah sebagai Bapa untuk kita. 

Allah yang berada di luar ruang dan waktu itu oleh karena Yesus telah menjadikan Roh-Nya ada di dalam hati kita dan menyertai kita dalam pergumulan hidup kita. Dia begitu dekat dan mesra untuk mendengarkan jeritan kita yang letih lesu dan berbeban berat karena Yesus turut bersama kita dan telah lebih dahulu menderita untuk kita manusia.

Doa:
Tuhan Yesus kami bersyukur Engkau menjadikan kami anak-anak Allah bersama-Mu. Kamipun bersyukur karena kami boleh selalu datang untuk bersandar pada-Mu dan mendapatkan kelegaan atas letih-lesu karena beban hidup kami. Terima kasih Yesus.
.
.
.
#pandemi_memurnikan_kita
_@jg_arif_wibowo: hanya sebutir debu di bawah alas kaki hamba-Nya_

https://awibowo325blog.wordpress.com/2021/07/15/aku-adalah-aku-yang-menjadi-manusia/

Monday, July 5, 2021

Janji Allah dan iman yang mengetuk hati Allah*

Jurnal Senin  05-07-2021

Tahun liturgi B/1 Bacaan hari ini : Kejadian (28:16-17), Mazmur (91:1-2.3-4.15-15ab ); Matius (9:18-26) 

ayat emasku hari ini adalah: 

_"Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu."_
MATIUS 9:22

Kapankah kita terakhir merasakan kehadiran Tuhan di tempat kita berada? Kapankah kita terakhir merasakan kehadiran Tuhan di hati kita?

Yakub tersadar bahwa ketika bangun di tempat dia tidur Allah hadir di tempat itu. Dia mengalami Tuhan berada di sampingnya yang berbicara dan berjanji kepadanya. Allah berjanji akan menyertai dan melindunginya kemanapun dia pergi . 

"Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke mana pun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu." KEJADIAN 28:15

Pengalaman itu sangat menggetarkan hati Yakub namun juga mengharukannya sehingga dia membuat tugu di tempat dia merasakan kehadiran Tuhan yang berjanji setia kepadanya.

Allah mewahyukan dirinya kepada kita manusia melalui cerita Yakub tersebut dalam bacaan Kejadian 28:10-22. Demikianlah kiranya sifat Allah yang lebih dulu mencintai manusia sebagai ciptaannya dan berjanji setia akan menyertai dan melindungi manusia. Namun sebagai manusia kita sering lupa dan ragu bahwa Allah senantiasa menyertai dan melindungi kita. 

Seyogyanya cerita tentang Allah yang hadir dalam mimpi dan berjanji setia kepada Yakub menggerakkan hati kita untuk menanggapi uluran tangan Allah yang menyelinap di dalam cerita itu, yang menyentuh dan mengundang hati kita. Tanggapan atas undangan itu adalah iman dan pengharapan kita pada Allah. Iman dan penyerahan diri pada-Nya yang menjadi syarat terpenuhinya janji Allah kepada kita.

Pada kepala rumah ibadat dan wanita yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan itu, Yesus melihat dan merasakan iman yang menyala-nyala pada mereka. Pada saat itu Yesus menjadi pemenuhan akan janji Allah yang memberikan hidup kepada manusia yang berharap penuh iman kepada-Nya.


Doaku: 
Tuhan Yesus, kadang kala aku bertanya kepada diriku, apakah aku ini sudah cukup beriman? Maka kujawab dalam hatiku sendiri, belum. Ampunilah aku, ya Yesus, dan tolonglah aku untuk berani mengandalkan Diri-Mu. Amin.
.
.
#pandemi_memurnikan_kita_akan_Allah
@jg_arif_wibowo

Thursday, July 1, 2021

Iman yang mengundang belas kasih Allah

*Iman yang mengundang belas kasih Allah.*

1 Juli 2021
@jg_arif_wibowo 

Bacaan hari ini : Kejadian 22: 1-9 dan Matius 9:1-8.

Ayat emas hari ini: 

_"Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.""_
KEJADIAN 22:2


Dapatkah akal budi kita merumuskan iman? Bahasa dan budaya manusia terlalu terbatas untuk menyampaikan dan memberi pemahaman tentang yang ilahi. Termasuk pengertian iman. 

MATIUS 9:2b
_Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni."_

Dalam perikop  Matius 9:1-8  itu diceritakan bahwa orang lumpuh itu sembuh karena imannya. Yesus tergerak hatinya untuk menyembuhkan  karena melihat iman orang lumpuh itu. Apakah iman itu? 

Kita perlu kesusasteraan atau narasi yang menembus batin kita dan melampaui apa yang bisa dibayangkan atau direkonstruksi  oleh akal budi kita. Cerita Bapa Abraham yang percaya dan menyerahkan hidupnya sepenuhnya pada TUHAN, mematuhi perintah TUHAN yang didengarnya,  berangkat ke puncak gunung Moria untuk mempersembahkan anak satu-satunya Ishak yang dikasihinya menjadi kurban sembelihan dan kurban bakaran.

Bagaimana jika hari ini ada orang bertindak seperti yang dilakukan Abraham terhadap Ishak?  Akankah orang berpikir Abraham adalah manusia gila dan keji? 

Di sinilah kesusasteraan bermain menyajikan narasi, yang mau memberi pemahaman makna beriman dan penyerahan diri yang total pada penyelenggaraan Allah atas hidup manusia melalui kisah Abraham dan Ishak itu.

Kiranya iman seperti Abraham itulah yang dilihat oleh Yesus pada orang lumpuh itu.  Iman yang mengundang kuasa dan belas kasih Allah untuk menyelesaikan persoalan dan penderitaan manusia melampaui keterbatasan akal budi manusia. 

Iman dan akal budi, *fides et ratio*  ,  adalah anugerah TUHAN yang agung pada manusia. Kita perlu terus memupuk iman dan akal budi kita agar sehat dan berbuah bagi kita dan sesama kita.   

Iman dan akal budi bagai sepasang sayap rajawali yang membawa manusia terbang, naik  sampai pada kebenaran dan karunia-karunia Allah.
.
.
#jaga_jarak_pakai_masker_cuci_tangan.