Tuesday, March 19, 2013

Teamwork in Science Tradition

Hari Jumat pagi ( 13 maret 2013 )  kemarin aku bercerita tentang "Team in science tradition. Aku mengambil contoh kirang Sir Edmond Halley dan Sir Isaac Newton. Kali aku mencoba cara baru untuk menyampaikan suatu pesan atau lesson learnt pada acara Friday coffee morning para petroleum geoscientist.

Edmond Halley adalah ilmuwan Inggris yang hidup pada 1656 hingga 1742 di Inggris. seorang astronomer,mathematician, meteorologist dan geophysicist tetapi bukan petroleum geophysicist seperti kita. Dia terkenal dan sangat dikenal dengan karyanya yang legendaris menghitung perioda edar dari sebuahkomet  yang kemudian dikenal sebagai eponymous Halley’s comet atau Komet Halley.
Edmond Halley hidup dalam masa yang bersamaan dengan  Sir Isaac Newton  1642 hingga 1727. Newton adalah ahli fisika Inggris yang banyak menghasilkan teori fisika dan matematika.





Edmond Halley adalah ilmuwan Inggris yang hidup pada 1656 hingga 1742 di Inggris. seorang astronomer, mathematician, meteorologist dan geophysicist tetapi bukan petroleum geophysicist seperti kita. Dia terkenal dan sangat dikenal dengan karyanya yang legendaris menghitung perioda edar dari sebuah komet  yang kemudian dikenal sebagai eponymous Halley’s comet atau Komet Halley.
Edmond Halley hidup dalam masa yang bersamaan dengan  Sir Isaac Newton  1642 hingga 1727. Newton adalah ahli fisika Inggris yang banyak menghasilkan teori fisika dan matematika.

Sir Isaac Newton menemukan hukum gravitasi pada tahun 1600-an. Ketika ia memperkenalkan hukum tersebut ke dunia ilmiah, penemuan tersebut merevolusionerkan studi astronomi. Namun jika bukan karena sir Edmond Halley, mungkin hanya segelintir orang yang mengetahui tentang pemikiran-pemikiran Newton.
Halley adalah penyalur gagasan-gagasan Newton. Ia mempertanyakan berbagai asumsi Newton, ia mengoreksi perhitungan matematis Newton jika keliru, dan ia bahkan merancang berbagai diagram geometrik untuk mendukung karya newton. 

Ketika Newton ragu-ragu untuk mempublikasikan ide-idenya , Halley lah yang pertama kali meyakinkan Newton untuk menulis naskahnya, kemudian menyuntingnya, dan mengawasi penerbitannya. Halley bahkan menanggung biaya percetakannya, meskipun Halley memiliki sumber keuangan yang lebih sedikit daripada Newton. Hasil karya  akhirnya adalah buku Mathematical Principle of Natural Philosophy, yang menjadikan Newton salah seorang pemikir yang paling terpandang di dalam sejarah.

Inilah buku dari Sir Isaac Newto yang sangat legendaris yang telah menjadi dasar pemikiran ilmiah peradaban manusia. Dalam buku ini Newton mendeklarasikan 3 hukum gerak dalam fisika mekanika 1) Benda akan cenderung mempertahankan posisinya atau lembam 2) perubahan momentum sebanding dengan percepatan yang diberikan padanya 3) aksi sama dengan reaksi. 






Halley memahami perbedaan antara promosi diri dan promosi yang tidak mementingkan di sendiri. Bagi Halley, membuat ide-ide Newton tersebar merupakan hal yang lebih penting darpada menerima pengakuan pribadi karena telah membantu Newton. Ia tahu betapa penting nya ide-ide tersebut, dan ia ingin mengumumkannya kepada dunia.
Itulah yang dilakukan oleh orang yang memahami promosi yang tidak mementingkan diri sendiri. Simak perbedaan antara kedua jenis promosi ini:






 Seorang yang bersifat  Promosi diri meyebutkan : “Jika Anda tidak membunyikan terompet Anda sendiri, tidak ada seorang pun yang akan membunyikan nya untuk anda”. Sementara di lain pihak, Promosi yang tidak mementingkan diri sendiri menyebutkan , “ saya hanya ingin membantu tim saya membuat musik yang indah!!”

Mengapa ada orang berpikir Promosi diri dan Promosi Tidak Mementingkan Diri sendiri?  Ini berkaitan dengan gagasan yang dipromosikan oleh Stephen Covey di tahun 1992. Tentang pola pikir berkelimpahan. Covey mengatakan ada cukup banyak sumberdaya, pujian dan kesempatan untuk semua orang.

Malahan, Covey percaya bahwa pola pikir kelangkaan merupakan akar dari sebagian besar konflik.  Para pemimpin yang unggul diposisi menengah organisasi memiliki pola pikir berkelimpahan.

Saturday, March 16, 2013

Sastra Melawan Lupa: Mencari Indonesia Yang akan Kita Wariskan

Sastra yang melawan lupa. Sastra yang merenungkan : Indonesia seperti apakah yang akan kita wariskan?

Gerakan "melawan lupa" telah banyak menjadi tema-tema novel sastra Indonesia di akhir tahun 2012. Pada peringatan Supersemar, 11 Maret 2013 kemarin, dalam salah satu milis yang aku ikuti, yang kayaknya mewakili pemikiran Indonesia masa kini, terlihat terbelah menjadi dua pihak yang fanatik dan masih bersikukuh. Aku tidak mau manyalahkan salah satu dari mereka. Namun aku sedih karena mereka, kedua pihak itu, sebenarnya adalah bangsa Indonesia yang menjadi korban. Termasuk akupun korban strategi penjarahan kekayaan alam Indonesia dan upaya menguasai posisi silang budaya Indonesia yang strategis oleh korporasi Global terutama AS.

Ada dua novel sastra Indonesia baru yang  menurutku sangat menarik dan menampilkan tema "melawan lupa".  "Amba" oleh Laksmi Pamuntjak dan "Pulang" karya Leila S Chudori adalah dua novel yang menampilkan tema itu yang terbit di penghujung akhir 2012.

Telah banyak resensi dan "book review" mengenai kedua buku itu. Indonesia pernah mengalami masa kelam yang absurd dalam sejarah modern nya. Yaitu peristiwa G30S/ PKI dan masa peralihan rezim dari Orde Lama ke Orde  Baru. Aku mau menanggapi atau lebih tepatnya mencatat perasaan yang timbul pada diriku ketika membaca dan membiarkan imajinasiku berkelana bermain dengan segala spekulasi.

Aku tak mau berimajinasi dengan kengerian kekerasan yang telah terjadi, karena itu telah terjadi sebagai gelombang raksasa yang menghempas alam sadar Bangsa Indonesia. Pembunuhan masal yang menurut laporan mencapai 500 ribu orang lebih, ratusan orang yang hilang, ribuan yang terasing di Pulau Buru dan ribuan pula yang menjadi eksil politik di luar negeri. Ada riak-riak gelombang yang tak kunjung habis yang terus menghantui dan mempengaruhi terus Bangsa Indonesia.

Riak-riak kecil yang menyakitkan dan pilu itulah yang satu persatu menjadi objek sastra dengan tema "melawan lupa". Novel  berjudul "Amba" dan "Pulang" mau memotret gores-gores yang pedih pada banyak anak Bangsa Indonesia oleh karena tindakan pemaksaan dan penyingkiran sebagian anak bangsa selama lebih dari satu generasi, tanpa rasionalitas yang jelas mengapa itu harus terjadi.

Novel "Amba" bercerita tentang seorang perempuan berusia di atas paruh baya yang pergi ke Pulau Buru. Ia mencari seseorang yang dikasihinya, yang memberinya seorang anak di luar nikah. Lelaki itu Bhisma, dokter lulusan Leipzig, Jerman Timur, yang hilang karena ditangkap pemerintah Orde Baru dan dibuang ke Pulau Buru. Ketika kamp tahanan politik itu dibubarkan dan para tapol dipulangkan, Bhisma tetap tak kembali.

Novel ini berkisah tentang cinta anak muda dengan latar belakang peristiwa 1965 dan kehidupan di Pulau Buru. Amba seorang seorang mahasiswa jurusan satra UGM Jogyakarta di awal tahun 1960-an yang lugu, anak seorang kepala sekolah yang gemar membaca Serat Centhini dan sjak-sajak kearifan Jawa, bertunangan dengan seorang dosen muda UGM, Salwa Munir.

Salwa adalah seorang pemuda yang sangat sopan dan menjaga kesucian serta kehormatan seorang perempuan. Karena tugas , Salwa harus bekerja di Surabaya dan di terpisah dengan Amba di Jogyakarta. Dalam situasi seperti itu, Amba mendapat pekerjaan sebagai penterjemah di sebuah rumah sakit di Kediri. Di rumah sakit di Kediri ini Amba bertemu dengan Bhisma seorang dokter. Bhisma seorang "anak Menteng" yang kemudian bersimpati dengan gerakan kiri karena pengalamannya di Eropa. Mereka berdua saling jatuh cinta hingga Amba hamil.

Beberapa hari setelah terjadi peristiwa 30 September 1965, pada suatu malam, Amba dan Bhisma menghadiri suatu pertemuan mahasiswa dan pemuda dari gerakan kiri di Jogyakarta. Pertemuan itu diserbu tentara. Amba dan Bhisma terpisah ketika masing-masing menyelamatkan diri. Sejak perpisahan itu Amba dan Bhisma tidak saling bertemu lagi.

Pada tahun 1965 Bhisma ditangkap di Jogya; dia dibuang ke Pulau Buru pada tahun 1971. Ia tidak pulang dan hidup sebagai penyembuh. Sejak peristiwa perpisahan itu, Amba dengan bayi dalam kandungannya, tidak kembali pada orangtuanya dan memutuskan secara sepihak pertunangannya dengan Salwa. Amba menikah dan membangun keluarga di Jakarta dengan seorang dosen dari Amerika yang dikenalnya di UGM kala itu.

Pada tahun 2006, setelah suaminya meninggal, Amba menerima email gelap yang tak diketahui siapa pengirimnya, yang mendorongnya untuk mencari Bhisma di Pulau Buru. Amba berjuang mencari Bhisma di Pulau Buru dengan harapan bisa menemuinya. Namun Amba hanya mendapati kuburan Bhisma
Novel kedua yang kubaca adalah "Pulang". "Pulang" adalah drama keluarga dengan latar belakang tiga peristiwa bersejarah: Indonesia 30 september 1965, Prancis Mei 1968 dan Indonesia Mei 1998. "Pulang" bercerita tentang empat orang yang sangat cinta Indonesia tetapi harus menjadi pelarian politik atau eksil politik di luar negeri. Mereka adalah wartawan yang keluar dari Indonesia menjelang peristiwa G30S/PKI menuju Santiago untuk menghadiri konferensi wartawan sedunia.

Mereka adalah Dimas Surjo, Tjai, Risjaf dan Nugroho. Mereka tidak bisa pulang karena mereka tergolong yang perlakuan kiri. Boss mereka di Harian Berita Nusantara Hananto Prawiro sudah ditangkap oleh Tentara Orde Baru di tahun 1968.

Empat serangkai eksil politik itu akhirnya menetap di Paris. Dimas menikah dengan Vivienne Deveraux, seorang perempuan Perancis yang ditemuinya ketika demonstrasi mahasiswa di Paris melawan Presiden de Gaulle di tahun 1968. Mereka berempat mendirikan restoran Indonesia di Paris bernama Restoran Tanah Air. Restoran ini menjadi terkenal dan memperkenalkan budaya Indonesia di Paris, walaupun pemerintah Orde Baru melarang pegawai pemerintah Indonesia mengunjungi restoran ini.

Dari pernikahannya dengan Vivienne Deveraux, Dimas memiliki seorang putri bernama Lintang Utara yang mewarisi sifat ayahnya. Berani dan kritis. Lintang sebagai mahasiswa sinematografi berhasil masuk Indonesia di bulan Mei 1998 untuk membuat skripsi film dokumenter para korban G30S/PKI.
Lintang masuk Indonesia di tengah pergolakan mahasiswa menentang Orde Baru di bawah Presiden Soeharto. Pergolakan mahasiswa yang menjadi kerusuhan di Jakarta dan membawa Indonesia memasuki masa reformasi.
Novel "Pulang" adalah drama keluarga, persahabatan, cinta dan pengkhianatan. Buku ini menampilkan konflik-konflik di dalam keluarga dan ketersisihan sosial karena peraturan "bersih-lingkungan" yang diterapkan oleh Pemerintah Orde Baru. Yang akhirnya menunjukkan anak-anak bangsa yang terbelah. Yang terbelah entah karena alasan apa.

Jika kita melihat prahara dalam sejarah Indonesia itu dengan meminjam kaca mata Patrick Flanagan dan Julie Southwood, itu semua ada dalam kerangka upaya korporasi-korporasi Amerika yang ingin menguasai kekayaan alam nusantara dan posisi strategis Indonesia dalam silang budaya dan geopolitik.

Patrick Flanagan dan Julie Southwood dalam bukunya -Indonesia, Law, Propaganda and Terror- yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul "TEROR SOEHARTO Penyelewengan Hukum dan Propaganda 1965 - 1981" menceritakan itu semua sejak awal sejarah pergerakan Kebangkitan Nasional di awal abad 19 hingga awal rezim Orde Baru. Terjemahan buku ini pertama kali diterbitkan oleh Komunitas Bambu pada Januari 2013. Pemberian judul Teror Soeharto terkesan tendesius. Terakhir kudengar judulnya diubah menjadi Teror Orde Baru. Penamaan yang bukan sekedar untuk tidak lupa, tetapi terkesan mau mengelus-elus luka.


Dari kacamata Patrick Flanagan et al yang memandang secara makro proses prahara dalam sejarah Indonesia modern inilah, aku mau melihat karya sastra bertema "melawan lupa" pada kedua novel di atas. Itulah kerangka aku memandang kisah-kisah dalam kedua karya sastra itu. Betapa keinginan menguasai kekayaan alam dan posisi strategis Indonesia, telah bisa mengharu-birukan perjalanan satu persatu nasib anak bangsa Indonesia.
Keindonesiaan perlu difahami dan diterima sebagai suatu proses bukan sesuatu yang statis dalam waktu. Bangsa Indonesia perlu menjadi bangsa yang gemar melakukan rekonsiliasi. Perlu terus menerus berdamai dengan sesama anak-anak bangsanya.

Indonesia seperti apakah yang akan kita wariskan? Indonesia yang mewarisi luka-luka? Sudahkah kita menemukan Indonesia yang akan kita wariskan?
- Posted using BlogPress from my i




( RUU ) Ormas dan Empat Pilar Kebangsaan

Kompas sabtu, 16 Maret 2013, pagi ini membahas masalah RUU Ormas di halaman 4.

Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara tidak bisa diterima secara terpisah dari prinsip Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ), Konstitusi UUD 45. Karena itu adalah Empat Pilar Kebangsaan yang menjadi syarat berdirinya dan ciri Negara dan Bangsa Indonesia. Tanpa menerima keempat pilar itu secara kesatuan sama dengan mengingkari Negara dan Bangsa Indonesia yang diproklamasikan 17 Agustus 1945.

Kita tidak bisa bertindak mempertahankan dan menegakkan NKRI tanpa mengindahkan Ketuhanan, Kemanusiaan, Keadilan sosial yang ada dalam Pancasila. Kita juga tidak bisa menyatakan setia pada NKRI tapi mengabaikan kemajemukan yang dimaksud dalam Bhineka Tunggal Ika, lalu melakukan penindasan pada aspirasi daerah yang sebenarnya menuntut keadilan ( Pancasila ).

Kitapun tak bisa "memaksakan" Ketuhanan seperti yang tercantum dalam Pancasila tanpa mengindahkan Bhinneka Tunggal Ika yang menjamin ke aneka ragaman mayarakat dan Pasal 28 UUD 45 tentang kebebasan beragama dan berkeyakinan. Sudah mulai menggejala bahwa Ketuhanan dalam sila pertama ditafsirkan dan diterapkan sambil menindas kelompok-kelompok minoritas atau kelompok yang dianggap sesat. Bahkan penindasan juga terhadap kepercayaan asli Indonesia atau nusantara.

Semua ormas di Indonesia harus berada dalam koridor Empat Pilar Kebangsaan tersebut, karena semua ormas dan parpol di Indonesia harus memperkuat negara dan bangsa Indonesia dengan Empat Pilar Kebangsaan tersebut. Jika tidak, negara dan bangsa Indonesia akan tergilas oleh ideologi transnasional baik yang berbasis agama atau paham yang lain.

Keharusan ormas dan parpol Indonesia berbasis dan berada dalam koridor Empat Pilar Kebangsaan bukanlah pengekangan. Tetapi itu adalah syarat. Suatu ormas atau parpol yang tidak berbasis Empat Pilar Kebangsaan bisa saja tidak melakukan tindak kekerasan dalam perjuangannya namun secara kultural bisa membubarkan dan menggantikan Negara Indonesia yang diproklamasikan 17 Agustus 1945. Itulah sekarang gejala yang kita lihat dimasyarakat dan di dunia pendidikan Indonesia. Mengubah cara pandang generasi baru Indonesia terhadap negara proklamasi 17 Agustus 45 melalui pendidikan dari dasar hingga perguruan tinggi.

Ciri pendidikan dan karakter masyarakat Indonesia sekarang adalah menguatnya politik identitas, penonjolan simbol agama dalam kehidupan dan pergaulan masyarakat. Pengecaman keanekaragaman sebagai tak sesuai dengan ajaran agama atau pengkafiran dan menuduh sesat. Itu semua berujung pada segregasi sosial yang melemahkan solidaritas kebangsaan.

Dari kacamata Negara Proklamasi 17 Agustus 1945, patut dicermati mengapa F-PKS dan beberapa kalangan masih belum menerima Ormas dan parpol Indonesia harus berazas Pancasila, UUD45, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. Harus dicegah agama digunakan untuk menguasai, mengeksploitasi bahkan menghancurkan keanekaragaman alam, budaya dan kearifan lokal Indonesia.



- Posted using BlogPress from my iPad

Tuesday, March 12, 2013

SUPERSEMAR

Supersemar. Surat Perintah Sebelas Maret. Adakah kemarin yang memperingati Supersemar? Satoe Maret dan Sebelas Maret dua tanggal yang bisa menimbulkan perdebatan sejarah buat Indonesia.

Jika orang memperingati Supersemar, Aku ingatnya aku gak lulus seleksi mahasiwa penerima beasiswa Supersemar dulu di tahun 80-an. Akhir nya aku dapat beasiswa yang tak kurang uniknya. Aku dapatnya beasiswa BJLK plus tinggal di asrama barrac di Bandung bayarnya 2 ribu rupiah per bulan dengan jatah makan yang sering hilang jika terlambat diambil.

BJLK adalah BEASISWA JURUSAN LANGKA DAN KERING. Aku tak paham betul mengapa diberi nama itu. Apakah jurusan sekolah ku di ITB ( Fisika ) dulu termasuk jurusan langka dan kering. Kesannya kok kaya menghina ya? Sound ejektive...:) Apa nya yang langka dan kering ya? Padahal langka mahasiswi juga nggak...:) Apakah langka peminat dan kering penghasilan untuk lulusannya sehingga perlu diberi beasiswa insentif agar banyak peminatnya.

Tapi jaman itu kami tak peduli dengan nama beasiswa yang penting tiap bulan kami dapat tambahan uang yang besarnya dua kali lipat uang kiriman orang-tua kami. Setiap minggu ke tiga, bersama penerima beasiswa Supersemar, kami sudah rindu pada BJLK untuk menyambung hidup sebagai mahasiswa.

Setelah lulus di tahun 85 aku bisa bekerja di HUFFCO dan aku mengerti bahwa jurusanku memang langka peminat tapi tidak kering juga....Hahaha....:) ( Alhamdulilah! )

Selamat merayakan Hari Raya Nyepi.....dan menikmati liburan...


- Posted using BlogPress from my iPad

Sunday, March 10, 2013

Start to lead! Do not wait a promotion!

Leadership is about having a vision and objectives. It may be your personal objective or corporate objectives. It will create a leadership in you. When you lead, you are influencing people.

Do I have to have a top position with a given authority to lead? Or to influence? The essential thing is that you have a vision or target then you will lead. You can be a leader even you are not on the top organization. Say, you are in the middle of organization and you have a boss or several bosses, you have a peer of team member, and you have subordinates. You are in the middle but you want to move the organization toward a certain goal. Then you are a leader in the middle of the structure.

I like and enjoy being in the middle organization. Not on the top and not in the bottom of the world because I feel that I have a vision and satisfaction when I can see a progression or positive changes in my company or organization. I like reading anything and find something that I can apply or share in my environment and see the positive changes in my environment. Lucky for the company and lucky for me, both party take benefit of it. Sound like a dream?

The good method of learning or becoming skilful is three person teaching method. We read the book and learn, we practice the skill in the real world then we share or teach the skill and experience to other people. When we share or speak publicly or we teach we will come realize what we really understand and we do not really understand. We will read and train more for the things that we do not understand but for the things that we have understood will be reinforced.

My position, as a person in the middle of structure, forces me to learn a skill, to better influence my peer, below and above. Three person teaching method is good way to learn influencing people.


- Posted using BlogPress from my iPad

Sunday, March 3, 2013

Gerson Poyk : Menuju Republik Sastra


Hari ini aku terlambat baca koran Kompas Minggu karena terlalu asyik jalan-jalan sepanjang hari ini. Namun di Kompas Minggu hari 3 Maret 2013 di halaman 20 aku menemukan essay menarik dari Gerson Poyk yang berjudul : Menuju Republik Sastra. Aku kutip dua paragraf yang aku garis bawahi sebagai berikut

Dengan menyelami sastra, jiwa seorang akan membuka pintu bagi pengenalan akan keindahan jasmani, keindahah moral, keindahan akal, dan memuncak pada keindahan ilahi. Batinnya yang terdalam akan memiliki getaran intuisi puitis atau intuisi kreatif yang bisa membuat bangsa ini maju di bidang ekonomi, politik, sosial, sains dan teknologi.

Komunitas sastra dengan segala karya sastra akan membuka pintu hati terdalam di mana bersemayam intuisi puitis ( kreatif ), suatu kehidupan spritual dan psikologis yang dinamis yang tak dimiliki dimiliki oleh kebanyakan pemimpin kita karena mereka berada dalam kerangkeng fetishisme komoditas, syahwat terhadap benda dan uang.

Begitulah pernyataan Gerson Poyk, pengarang dari NTT, yang aku kutip, selebihnya tentu akan lebih seru jika dibaca sendiri.

Tulisan Gerson Poyk ini mau merayakan, mungkin tepatnya bersyukur, atas hadirnya pusat atau komunitas pengembangan dan kritik sastra di NTT. Dia berharap daerah-daerah lain juga mempunyai pusat komunitas kreasi sastra dan kritik sastra.

Aku melihat tulisan Gerson Poyk ini bisa memberi petunjuk akan menurunnya situasi pendididikan, moralitas, politik dan bisnis bahkan kualitas kebangsaan Indonesia kini. Sangat ironi di masa demokrasi liberal Indonesia ini justru memunculkan penyeragaman dan tafsir yang serba tunggal. Misalnya apakah ketelanjangan selalu berarti pornografi? Kita merindukan cara berpolitik yang indah, cara berbisnis yang indah atau juga cara beragama yang indah.

Indonesia akan menjadi sangat kaya jika setiap daerah membangun pusat-pusat pengembangan seni, sastera dan kritik sastra sehingga tidak hanya mengandalkan sumber daya alam yang bisa habis.


- Posted using BlogPress from my iPad