Sastra yang melawan lupa. Sastra yang merenungkan : Indonesia seperti apakah yang akan kita wariskan?
Gerakan "melawan lupa" telah banyak menjadi tema-tema novel sastra Indonesia di akhir tahun 2012. Pada peringatan Supersemar, 11 Maret 2013 kemarin, dalam salah satu milis yang aku ikuti, yang kayaknya mewakili pemikiran Indonesia masa kini, terlihat terbelah menjadi dua pihak yang fanatik dan masih bersikukuh. Aku tidak mau manyalahkan salah satu dari mereka. Namun aku sedih karena mereka, kedua pihak itu, sebenarnya adalah bangsa Indonesia yang menjadi korban. Termasuk akupun korban strategi penjarahan kekayaan alam Indonesia dan upaya menguasai posisi silang budaya Indonesia yang strategis oleh korporasi Global terutama AS.
Ada dua novel sastra Indonesia baru yang menurutku sangat menarik dan menampilkan tema "melawan lupa". "Amba" oleh Laksmi Pamuntjak dan "Pulang" karya Leila S Chudori adalah dua novel yang menampilkan tema itu yang terbit di penghujung akhir 2012.
Telah banyak resensi dan "book review" mengenai kedua buku itu. Indonesia pernah mengalami masa kelam yang absurd dalam sejarah modern nya. Yaitu peristiwa G30S/ PKI dan masa peralihan rezim dari Orde Lama ke Orde Baru. Aku mau menanggapi atau lebih tepatnya mencatat perasaan yang timbul pada diriku ketika membaca dan membiarkan imajinasiku berkelana bermain dengan segala spekulasi.
Aku tak mau berimajinasi dengan kengerian kekerasan yang telah terjadi, karena itu telah terjadi sebagai gelombang raksasa yang menghempas alam sadar Bangsa Indonesia. Pembunuhan masal yang menurut laporan mencapai 500 ribu orang lebih, ratusan orang yang hilang, ribuan yang terasing di Pulau Buru dan ribuan pula yang menjadi eksil politik di luar negeri. Ada riak-riak gelombang yang tak kunjung habis yang terus menghantui dan mempengaruhi terus Bangsa Indonesia.
Riak-riak kecil yang menyakitkan dan pilu itulah yang satu persatu menjadi objek sastra dengan tema "melawan lupa". Novel berjudul "Amba" dan "Pulang" mau memotret gores-gores yang pedih pada banyak anak Bangsa Indonesia oleh karena tindakan pemaksaan dan penyingkiran sebagian anak bangsa selama lebih dari satu generasi, tanpa rasionalitas yang jelas mengapa itu harus terjadi.

Novel "Amba" bercerita tentang seorang perempuan berusia di atas paruh baya yang pergi ke Pulau Buru. Ia mencari seseorang yang dikasihinya, yang memberinya seorang anak di luar nikah. Lelaki itu Bhisma, dokter lulusan Leipzig, Jerman Timur, yang hilang karena ditangkap pemerintah Orde Baru dan dibuang ke Pulau Buru. Ketika kamp tahanan politik itu dibubarkan dan para tapol dipulangkan, Bhisma tetap tak kembali.
Novel ini berkisah tentang cinta anak muda dengan latar belakang peristiwa 1965 dan kehidupan di Pulau Buru. Amba seorang seorang mahasiswa jurusan satra UGM Jogyakarta di awal tahun 1960-an yang lugu, anak seorang kepala sekolah yang gemar membaca Serat Centhini dan sjak-sajak kearifan Jawa, bertunangan dengan seorang dosen muda UGM, Salwa Munir.
Salwa adalah seorang pemuda yang sangat sopan dan menjaga kesucian serta kehormatan seorang perempuan. Karena tugas , Salwa harus bekerja di Surabaya dan di terpisah dengan Amba di Jogyakarta. Dalam situasi seperti itu, Amba mendapat pekerjaan sebagai penterjemah di sebuah rumah sakit di Kediri. Di rumah sakit di Kediri ini Amba bertemu dengan Bhisma seorang dokter. Bhisma seorang "anak Menteng" yang kemudian bersimpati dengan gerakan kiri karena pengalamannya di Eropa. Mereka berdua saling jatuh cinta hingga Amba hamil.
Beberapa hari setelah terjadi peristiwa 30 September 1965, pada suatu malam, Amba dan Bhisma menghadiri suatu pertemuan mahasiswa dan pemuda dari gerakan kiri di Jogyakarta. Pertemuan itu diserbu tentara. Amba dan Bhisma terpisah ketika masing-masing menyelamatkan diri. Sejak perpisahan itu Amba dan Bhisma tidak saling bertemu lagi.
Pada tahun 1965 Bhisma ditangkap di Jogya; dia dibuang ke Pulau Buru pada tahun 1971. Ia tidak pulang dan hidup sebagai penyembuh. Sejak peristiwa perpisahan itu, Amba dengan bayi dalam kandungannya, tidak kembali pada orangtuanya dan memutuskan secara sepihak pertunangannya dengan Salwa. Amba menikah dan membangun keluarga di Jakarta dengan seorang dosen dari Amerika yang dikenalnya di UGM kala itu.
Pada tahun 2006, setelah suaminya meninggal, Amba menerima email gelap yang tak diketahui siapa pengirimnya, yang mendorongnya untuk mencari Bhisma di Pulau Buru. Amba berjuang mencari Bhisma di Pulau Buru dengan harapan bisa menemuinya. Namun Amba hanya mendapati kuburan Bhisma
Novel kedua yang kubaca adalah "Pulang". "Pulang" adalah drama keluarga dengan latar belakang tiga peristiwa bersejarah: Indonesia 30 september 1965, Prancis Mei 1968 dan Indonesia Mei 1998. "Pulang" bercerita tentang empat orang yang sangat cinta Indonesia tetapi harus menjadi pelarian politik atau eksil politik di luar negeri. Mereka adalah wartawan yang keluar dari Indonesia menjelang peristiwa G30S/PKI menuju Santiago untuk menghadiri konferensi wartawan sedunia.
Mereka adalah Dimas Surjo, Tjai, Risjaf dan Nugroho. Mereka tidak bisa pulang karena mereka tergolong yang perlakuan kiri. Boss mereka di Harian Berita Nusantara Hananto Prawiro sudah ditangkap oleh Tentara Orde Baru di tahun 1968.
Empat serangkai eksil politik itu akhirnya menetap di Paris. Dimas menikah dengan Vivienne Deveraux, seorang perempuan Perancis yang ditemuinya ketika demonstrasi mahasiswa di Paris melawan Presiden de Gaulle di tahun 1968. Mereka berempat mendirikan restoran Indonesia di Paris bernama Restoran Tanah Air. Restoran ini menjadi terkenal dan memperkenalkan budaya Indonesia di Paris, walaupun pemerintah Orde Baru melarang pegawai pemerintah Indonesia mengunjungi restoran ini.

Dari pernikahannya dengan Vivienne Deveraux, Dimas memiliki seorang putri bernama Lintang Utara yang mewarisi sifat ayahnya. Berani dan kritis. Lintang sebagai mahasiswa sinematografi berhasil masuk Indonesia di bulan Mei 1998 untuk membuat skripsi film dokumenter para korban G30S/PKI.
Lintang masuk Indonesia di tengah pergolakan mahasiswa menentang Orde Baru di bawah Presiden Soeharto. Pergolakan mahasiswa yang menjadi kerusuhan di Jakarta dan membawa Indonesia memasuki masa reformasi.
Novel "Pulang" adalah drama keluarga, persahabatan, cinta dan pengkhianatan. Buku ini menampilkan konflik-konflik di dalam keluarga dan ketersisihan sosial karena peraturan "bersih-lingkungan" yang diterapkan oleh Pemerintah Orde Baru. Yang akhirnya menunjukkan anak-anak bangsa yang terbelah. Yang terbelah entah karena alasan apa.
Jika kita melihat prahara dalam sejarah Indonesia itu dengan meminjam kaca mata Patrick Flanagan dan Julie Southwood, itu semua ada dalam kerangka upaya korporasi-korporasi Amerika yang ingin menguasai kekayaan alam nusantara dan posisi strategis Indonesia dalam silang budaya dan geopolitik.
Patrick Flanagan dan Julie Southwood dalam bukunya -Indonesia, Law, Propaganda and Terror- yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul "TEROR SOEHARTO Penyelewengan Hukum dan Propaganda 1965 - 1981" menceritakan itu semua sejak awal sejarah pergerakan Kebangkitan Nasional di awal abad 19 hingga awal rezim Orde Baru. Terjemahan buku ini pertama kali diterbitkan oleh Komunitas Bambu pada Januari 2013. Pemberian judul Teror Soeharto terkesan tendesius. Terakhir kudengar judulnya diubah menjadi Teror Orde Baru. Penamaan yang bukan sekedar untuk tidak lupa, tetapi terkesan mau mengelus-elus luka.

Dari kacamata Patrick Flanagan et al yang memandang secara makro proses prahara dalam sejarah Indonesia modern inilah, aku mau melihat karya sastra bertema "melawan lupa" pada kedua novel di atas. Itulah kerangka aku memandang kisah-kisah dalam kedua karya sastra itu. Betapa keinginan menguasai kekayaan alam dan posisi strategis Indonesia, telah bisa mengharu-birukan perjalanan satu persatu nasib anak bangsa Indonesia.
Keindonesiaan perlu difahami dan diterima sebagai suatu proses bukan sesuatu yang statis dalam waktu. Bangsa Indonesia perlu menjadi bangsa yang gemar melakukan rekonsiliasi. Perlu terus menerus berdamai dengan sesama anak-anak bangsanya.
Indonesia seperti apakah yang akan kita wariskan? Indonesia yang mewarisi luka-luka? Sudahkah kita menemukan Indonesia yang akan kita wariskan?
- Posted using BlogPress from my i