Wednesday, December 31, 2008

Eyang De Wafat


Hari itu tanggal 28 Desember 2008, jam 14.20, aku sedang menunggu penerbanganku ke Jakarta di ruang tunggu Bandara HananDjoeddin Tanjung Pandan Belitung, ketika aku mendapat miss call dari Ibuku dan Adikku Koko di Jakarta, kemudian disusul dengan berita sms bahwa Eyang De telah wafat hari itu jam 2 siang. Aku sedikit terkejut dan agak panik, tapi aku bersyukur bahwa aku sedang dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Bersyukurlah pula kami karena kami tidak jadi memperpanjang liburan keluarga kami di Pulau Belitong dan segera pulang ke Jakarta. Aku katakan pada adikku Koko bahwa jam 3 sore pesawatku akan take-off dan akan tiba di Cengkareng jam 4 sore.

Eyang De adalah panggilan untuk Ibu Maria Magdalena Soepartinah Soetarto. Beliau adalah kakak kandung dari Ibuku. Ketika aku masih kecil, kami semua memanggil beliau Bude yang dalam bahawa Indonesia berarti Uwak, kakak dari Ibu kami. Tetapi sejak Ibuku punya cucu dan menjadi Eyang, panggilan beliau jadi Eyang De. Panggilan yang penuh rasa hormat karena beliau adalah anak nomor dua dari sebelas bersaudara, sementara Ibuku bernomor urut delapan.Bisa dibayangkan betapa banyaknya keponakan Eyang De dari adik-adiknya.


Ibu Maria Magdalena Soepartinah Soetarto atau Eyang De lahir pada tanggal 19 Februari tahun 1921, jadi usia beliau akan genap 88 tahun nanti di Februari 2009 jika beliau masih sehat. Suatu karunia usia yang luar biasa. Eyang De adalah sosok seorang ibu yang lembut, cerdas, pemberi semangat untuk para keponakan dan cucu-cucunya, disiplin dan penuh perhatian dan sayang pada para keponakannya. Beliau bisa menjadi teladan dalam menjalankan kehidupan gamanya sebagai seorang Katolik. Hampir semua keponakannya yang jumlahnya puluhan itu mengenalnya secara dekat karena pernah mengalami betapa kuat kasihnya pada keponakannya. Mengapa beliau bisa begitu dekat dengan para keponakannya?

Pada pernikahannya yang pertama, beliau telah menjadi janda pada usia 33 tahun karena suaminya meninggal sebelum sempat dikaruniai putra. Pakde Sis, yang aku tahu, adalah suaminya yang pertama. Kami memanggilnya Pakde Sis dan Eyang De kami panggil Bude Sis. Sebagai janda beliau punya banyak waktu untuk mengunjungi keponakan-keponakannya dari adik-adik dan kakaknya yang masih kecil. Eyang De muda punya sifat keibuan yang tinggi sehingga mencurahkan kasih sayang pada keponakan seperti pada ank-anaknya sendiri. Itu aku alami bersama adik-adikku. Sehingga kami seakan punya dua Ibu. Ibuku sendiri dan Eyang De yang ketika itu kami panggil sebagi Bude. Dengan wafatnya Eyang De aku,juga saudara-sauraku dan sepupuku sangat kehilangan. Banyak rasa sesal di hati kami. Rasanya kami belum cukup membalas kasihnya pada kami.

Kami memanggil Eyang De dengan sebutan Bude Sis sampai beliau menikah lagi dengan seorang Duda, Pak Soetarto pada tahun 1975. Ketika itu usia Eyang De lima puluh empat tahun. Pak Soetarto ketika itu sudah mempunyai tiga orang putri yang sudah dewasa menjelang menikah. Pak Soetarto meninggal pada akhir tahun delapan puluhan, setelah lama menderita sakit stroke yang melumpuhkannya. Selama beberapa tahun Eyang De merawat Pakde Tarto hingga wafatnya. Suatu pengabdian seorang isteri yang luar biasa. Itu bisa terjadi karena iman dan kesabarannya yang sangat kuat.

Eyang De wafat di Rumah Sakit Puri Cinere di ruang ICU setelah menjalani operasi di kepala bagian belakangnya. Eyang De mengalami pendarahan di bagian dalam tempurung kepalanya karena kepalanya terbentur lantai karena jatuh. Mungkin kareana usia dan jantungnya yang lemah, membuat operasi bedah otak terlalu berat untuk fisiknya.

Pada hari Jumat sore tanggal 19 Desember 2008 sekita jam tiga sore, Eyang De terjatuh di teras depan rumahnya ketika sedang mengawasi tanaman-tanaman hiasnya. Rupanya Eyang De kehilangan keseimbangan dan mengalami blackout, lalu terjatuh dengan kepala bagian belakang terbentur lantai. Eyang De sempat didudukkan dan muntah. Lalu di bawa ke UGD di RS Fatmawati. Eyang De diperiksa dengan EKG dan CT scan. Ada pendarahan di kepala bagian belakanganya.

Pada hari minggu malam kira-kira jam sebelas, Eyang De dioperasi di RS Puri Cinere. Operasi selesai jam setengah lima pagi keesokan harinya. Operasinya berlangsung sekitar lima jam. Sejak itu Eyang antara sadar dan tak sadar sampai beliau wafat pada tanggal 28 Desember 2008 sekita jam 2 siang.

Bagiku Eyang De sangat istimewa. Beliau sangat sabar menyemangati aku ketika aku baru datang di Jakarta di tahun 1985 untuk mencari kerja. Dia sudah sama seperti ibuku sendiri. Beliau dengan senang hati menampungku tinggal bersamanya sejak tahun 1985 hingga tahun 1991 di rumahnya di Cipete Selatan Jakarta Selatan.

Monday, December 29, 2008

Bertemu Ibu Muslimah di Belitung - Laskar Pelangi


Pada tanggal 26 hingga 28 Desember 2008, kami berkunjung ke Pulau Belitong ( Belitung ). Kami tertarik untuk melihat langsung tanah yang diceritakan oleh Andrea Hirata dalam bukunya Laskar Pelangi. Bersyukur kami sempat mampir ke rumah dan bertemu dengan tokoh yang inspiratif dalam buku Laskar Pelangi yaitu Ibu Muslimah. Pada gamabr di atas Ibu Muslimah nomor tiga dari kiri. Dalam film Laskar Pelangi tokoh Ibu Muslimah diperankan oleh Cut Mini ( http://laskarpelangithemovie.com/)


Ini adalah bangunan yang diceritakan dalam film Laskar Pelangi ( http://laskarpelangithemovie.com/ ) sebagai SD Muhamadiyah Gantong, yang diceritakan seperti gudang kopra. Bangunan ini yang mengundang simpati para penonton Laskar Pelangi karena bisa menggambarkan ketimpangan pendidikan di Indonesia.

Thursday, December 18, 2008

Victoria & Alfred Waterfront



You do have the best view over the whole area from parking area at the Lion's head.



Why Alfred and not Albert? Albert was Queen Victoria's husband but her son Alfred opened the first basin of the new harbour and therefore it was named after him and when the second basin was build it was named after Queen Victoria. Victoria&Alfred Waterfront combines an active harbour scenery with elements of a modern leisure area. Starting from an old harbour place they created the tourist attraction number #1 of Africa with shopping centres, pubs, restaurants, theatres and a movie. More than 1 million people visit this mall every month.

Victoria & Alfred Waterfront, biasa disebut V&A Waterfront adalah pusat turisme di Cape town, Afrika Selatan. V&A Waterfront adalah suatu tempat di tepi laut di mana dermaga, dockyard, shopping mall, public entertainment dan cafe's bergabung di satu tempat.

Setiap hari dari pagi hingga malam hari tempat ini ramai dikunjungi para turis dari mancanegara. Ini adalah tempat yang ideal untuk menikmati makan khas afrika Selatan sambil menikmati pemandangan yang indah ke arah Table Mountain. Di sini kita bisa temukan toko-toko yang menjual souvenir khas Afrika dan tempat kita memesan atau membeli paket-paket wisata. Mulai dari cruising package, helicopter see around atau safari game. Di sini juga kita bisa lihat pertunjukkan rakyat seperti paduan suara, tarian dan sirkus. Pengunjung bebas melihat pertunjukan tersebut.










Gambar di atas menunjukkan tarian rakyat Afrika yang sudah dimodifikasi. Tarian itu mau menceriterakan dinamika masyarakat pedalaman yang erat hubungannya dengan alam.





Sementara di bawah ini adalah gambar yang menampilkan pertunjukan lain di V&A Waterfront.





Akhir Tahun

Apa yang dilakukan orang di akhir tahun? Sibuk membuat laporan akhir tahun?

Tuesday, December 16, 2008

Kakek Satuladin

Kakek Satuladin badannya tinggi besar berkumis lebat seperti Pak Raden di cerita boneka si Unyil. Kakek Satuladin mempunyai cucu yang agak suka bermain iseng, Bolat namanya.

Ketika Kakek Satuladin tidur siang, Bolat mengoleskan terasi di kumis Kakek Satuladin yang tebal. Ketika Kakek Satuladin bangun ia merasa kamar tidurnya bau terasi dan anyir. Dia tak tahan dengan bau terasi di kamarnya, lalu segera bangun dan pindah ke ruang makan. Di sana Kakek juga mencium bau anyir terasi, kakek tak tahan dengan bau terasi itu. Kakek Satuladin marah-marah mengapa bau terasi.

Lalu kakek Satuladin pindah ke ruang tamu. Di ruang tamu itupun kakek mencium bau terasi yang anyir. Akhirnya kakek ke luar rumah ke halaman depan, kakek juga mencium bau terasi. Kakek mulai jengkel dan marah. Dia masuk lagi ke dalam rumah ke ruang keluarga, dia pun mencium bau terasi. Dia mulai bertanya pada orang-orang di sekitar." Mengapa ruangan ini bau terasi?". Yang lain menjawab : " Ah, tak ada terasa bau terasi, kami mencium udara biasa saja dan segar nyaman, tak ada bau terasi", jawab anggota keluarga yang lain.

Setiap pindah dan masuk ruangan, Kakek Satuladin marah-marah pada orang yang ditemui di ruangan itu. "Kenapa ruangan ini juga bau terasi?" katanya jengkel.

Akhirnya Kakek Satuladin merasa gerah dan dia pergi mandi. Kakek Satuladin menggosok seluruh tubunya denga sabun mandi kesayangannya yang terkenal harum. Dia gosok termasuk wajah dan kumisnya yang tebal. Selesai mandi, dia berpakaian rapi dan keluar kamar menemui orang-orang.

Ketika masuk ruang makan menemui anak-anaknya yeng berkumpul di situ, Kakek Satuladin tersenyum lebar : " Hmm udara terasa segar dan nyaman" kata Kakek Satuladin. Kakek sudah tak mencium bau terasi lagi. Kakek merasa nyaman. Kakek Satuladin tersenyum riang, semua anak-anak dan yang ada di ruangan itu pun jadi ikut senang. Anak-anak senang melihat Kakek Satuladin berwajah ceria. Kakek Satuladin tambah gembira, dan bergumam mengapa semua orang disekitanya lebih ramah dan senang padanya?.

Hmm, kita bisa marah-marah pada lingkungan sekitar kita tetapi itu juga bisa karena kita yang tidak nyaman dengan diri kita sendiri. Kita kadang tak tahu bahwa ketidak-nyamanan itu bersumber dari diri kita sendiri.

Sunday, December 14, 2008

Natal 2008 Menjelang




Semarak meriah di mall pusat perbelanjaan dengan nyanyian-nyanyian Natal. Paduan suara remaja manis menghangatkan suasana mall dengan lagu-lagu natal.

Ini menginjak minggu kedua di bulan Desember 2008. Natal sudah dekat. Bagi umat Katolik ini masa advent. Masa penantian. Umat Katolik menantikan Sang Imanuel. Dia yang akan menyelamatkan dan menebus dosa manusia. Umat Katolik perlu menyiapkan batin untuk siap menerima Sang Juru Selamat.

Bacaan misa hari minggu ini mengenai Yohanes Pembaptis yang menjadi pendahulu Kristus. Dia yang berseru-seru di Padang Gurun. Yang menyerukan : Luruskan lah jalan Tuhan. Seruan di Padang Gurun, seruan di tengah sunyi yang gersang. Seruan di tengah-tengah hati manusia yang merindukan wajah Tuhan. Bagaikan rusa merindukan air, itulah hatiku merindukan Engkau, Ya Tuhan.

Hati adalah rumah Tuhan. Tuhan akan lahir di hati ku. Aku harus meluruskan jalan Tuhan yang akan datang di hatiku. Masa Adven masa meluruskan jalan Tuhan, jalan menuju hati kita. Jalan menuju hatiku jadi berkelok-kelok karena keinginan-keinginan kita yang tak sesuai dengan Kehendak Bapa.Kita ingin kembali pada Kehendak Bapa agar tersedia jalan lurus bagi Kristus Sang Mesias masuk dalam hati kita.

Mencari dan mengikuti Kehendak Bapa, itulah iman kristiani.

Saturday, December 13, 2008

Kesan


Sesuai nama dari blog ini - Berbagi Kesan -, maksudnya adalah tempat untuk - share imperession-. Kesan adalah sesuatu yang kita rasakan terhadap sesuatu peristiwa yang kita hadapi. Kesan itu bisa baik, buruk atau indah. Kesan bisa disampaikan dalam sebuah sajian tulis atau juga berupa sajian gambar.

Saya berharap untuk bisa membagi kesan yang indah, positif dan inspiratif. Karena hal itu pula lah yang selalu ingin saya peroleh dari lingkungan saya.

Salam,
Arif Wibowo

Monday, December 1, 2008

Jakarta Car Free Day

Every fourth Sunday in a month, Jakarta frees the Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin from cars. People are free to use the street for sport and art happening.





Sunday, November 2, 2008

Castle of the Good Hope, South Africa

During our visit to Cape Town, South Africa for attending the International Conference of American Association of Petroleum Geologist ( AAPG ), we made visit to Castle of the Good Hope.



Inside the castle view with Table Mountain in the background.


Castle of the Good Hope is a castle in Cape Town, South Africa.

The Castle of Good Hope is the oldest surviving building in South Africa. Built between 1666 and 1679, this pentagonal fortification replaced a small clay and timber fort built by Commander Jan van Riebeeck in 1652 upon establishing a maritime replanishment station art the Cape of Good Hope for the Dutch East India Company, better known as the VOC (Verenigde Oos-Indische Compagnie).

On 26 April 1679 the five bastions were named after the main titles of Willem, the Prince of Orange. The Western bastions was named Leerdam ; followed in clockwise order by Buuren, Catzenellenbogen, Nassau and Orange.

In 1936 the Castle was declared a National Monument. As a result of an extensive, ongoing restoration and conservation programme launched in the 1980's , the Castle of Good Hope remains the best preserved of its kind built by the VOC in regions where it had interests.

The Cape of Good Hope houses the regional headquarters of the South African Army in the Western Cape, the famous William Fehr Collection of historic artworks, the Castle Military Museum and ceremonial facilities for traditional Cape Regiments.

Monday, October 27, 2008

Victoria & Alfred Waterfront



Situated between Robben Island and Table Mountain in the heart of Cape Town's working harbour, the V&A Waterfront has become South Africa's most visited destination. Set against a backdrop of magnificent sea and mountain views, exciting shopping and entertainment venues are intermingled with imaginative office locations, world-class hotels and luxury apartments in the residential marina. We invite you to discover the experience... live, work, shop and play at the V&A Waterfront.


Victoria & Alfred Waterfront, biasa disebut V&A Waterfront adalah pusat turisme di Cape town, Afrika Selatan. V&A Waterfront adalah suatu tempat di tepi laut di mana dermaga, dockyard, shopping mall, public entertainment dan cafe's bergabung di satu tempat.

Setiap hari dari pagi hingga malam hari tempat ini ramai dikunjungi para turis dari mancanegara. Ini adalah tempat yang ideal untuk menikmati makan khas afrika Selatan sambil menikmati pemandangan yang indah ke arah Table Mountain.


Di sini kita bisa temukan toko-toko yang menjual souvenir khas Afrika dan tempat kita memesan atau membeli paket-paket wisata. Mulai dari cruising package, helicopter see around atau safari game.

Di sini juga kita bisa lihat pertunjukkan rakyat seperti paduan suara, tarian dan sirkus. Pengunjung bebas melihat pertunjukan tersebut.

Sunday, October 5, 2008

The Ascencion Cathedral Alamaty. Kazakhstan , October 2018







On the territory of one of the main parks of Almaty, 28 Panfilov Heroes Park, there is the one of the most unique cathedral buildings not only of Kazakhstan but the whole world. The Ascension Cathedral is the wooden church with the height of 56 meters.

After heavy earthquake in 1887, almost all new buildings were made of wood in Almaty, and the Ascension Cathedral was not the exception, which was built in 1907 of Blue Tien Shan Spruce. It was erected by architect K.A. Borisoglebskiy and engineer A.P. Zenkov, according to the project of Pavel Gurde. Thanks to the professionalism of these people the Cathedral survived the 10-magnitude earthquake in 1910, the only evidence of which is the lopsided cross on one of domes – the rest of building did not receive any damage at all.


The Church was entirely built of wooden details, connected by iron bolts. “At grandiose height – wrote Zenkov about church – it corresponded to very flexible construction. The belfry swung and bent, as the top of a tall tree and worked as a flexible timber. But that the building was built without any nail is just the widespread myth.


External view of the cathedral is different by bright walls and many-colored domes, but also the interior is distinguished by iconostasis painting and entire decoration, made in the early XX century in the workshops of Moscow and Kiev.


The cathedral, the history of which began in 1907, did not escape the fate of many churches in the Soviet times: in 1927, services were terminated, and since 1929 the museum was placed here. In 1930 various organizations occupied it and the radio antenna was installed on the belfry. The first restoration was carried out in 1976. Finally, in 1995, the Ascension Cathedral was returned to the Russian Orthodox Church, service.




Saturday, October 4, 2008

Panfilov Hero Memorial Park Alamaty, Kazakhstan October 2008

In central part of Almaty there is the one of the favorite places of residents of “Southern Capital – the 28 Panfilov heroes Park, where many celebrations and festivities take place. It appeared almost simultaneously with the foundation of the city, in seventies of XIX century. For more than age-old history monuments to world War Second, various buildings were erected here.

 As the park was laid out in the site of cemetery it was named Staro-Kladbischenskiy. A little later, it was renamed the City Garden. In 1899, this park was called "Pushkin's Garden", in connection with the 100th anniversary of the great Russian poet A. Pushkin. Then it was called the Park of Fallen Fighters for Freedom, then - the Park of Federation, and in 1942 it was renamed the Park named after the 28-Panfilov Heroes, died defending Moscow from the advancing enemy tanks.
Today, this park occupies the area of 18 hectares and is buried in the shade of trees. On its territory there is the Ascension Cathedral – the wooden 1907 building with the height of 56 meters, which survive the powerful 10-magnitude earthquake without any damage. Not far from the church there is the Memorial of Glory, on which the images of Panfilov soldiers standing up staunchly for wall of the Kremlin are depicted, as well as the images of soldiers giving the oath of defenders of the motherland and the soldiers, sounding the victory. The Memorial of Glory is ended by Eternal Fire.




In addition, in the park there are monuments to General Panfilov and Kazakh hero Tokash Bokin and also the Officers house and the Museum of Musical Instruments. If you are in Almaty, do not miss the chance to visit this beautiful park.