Sunday, October 31, 2010

Sejarah Tanah Kutai ( 9 )

Dari tujuh turunan itu, terdapat Kerincing bin Salong — gelar Nala Mayang – beristrikan Tidok binti Seta. Mereka melahirkan enam anak, yakni Ugeng, Said, Mas alias Sumik, Engkeh, Lamah dan Jamal. Dan, melalui Jamal itulah tetesan darah biru Labok atau Maharaja SPA Iansyahrechza Fachlevie Wangsawarman terlahir. Labok memiliki zuriat paling tertinggi sehingga pantas menjadi Kepala Adat Besar RI itu.

Disebutkan, Jamal sendiri mulanya punya anak perempuan bernama Dedong yang diperistri Bone bin Sampo – sepupu sekali Rongge, gelar Suta Kanan – di Kota Bangun. Lantas Dedong melahirkan sepuluh anak, yakni Hajjah Rohani Bombay, Usman, Bakri, Borhan Ibor, Maskoer, Anuar B, Ifah, Masfah, Idariansyah Pidoy dan Abdul Hamid.

Masfah dan Abdul Hamid tak punya keturunan. Hj Rohani Bombay sendiri bergelar Mahaputri Sri Nala Marta Dewi. Ia bersuamikan Amer dan melahirkan tujuh anak, yakni Ahmid, Jamli, Aliansyah, Hanafi, Sabran, Rusdiana, dan Aswar Bueng. Lantas Usman yang beristri Juyah dan Timah melahirkan Rustini, Mohdar, Nyok, Jainal dan Iriani. Bakri yang beristri Diok (Tuana Tuha) melahirkan anak seperti Kartini, Suryadi, Artinah, Sapri (gelar Pangeran Srinala Wangsa Indra), Rusniah, dan Ratnawati (gelar Mahaputri Mayang Nila Dewi), Endang dan Saniah.

Borhan Ibor dengan gelar Pangeran Srinala Nata Kusuma beristrikan Badriah (gelar Mahaputri Srinila Purna Dewi) melahirkan Saidi, Sahruni, Hadri, Astuty, Rahmadi (gelar Pangeran Srinala Mangku Negara), dan Mulyadi (gelar Ni Raden Nala Kusuma Negara). Sedang Maskoer yang bergelar Pangeran Srinala Prabu Wangsa Warman yang beristrikan Rakni (gelar Mahasuri Srinila Dewi Gari) melahirkan delapan anak.

Delapan anak Pangeran Srinala Prabu Wangsa Warman itu adalah Sadeli (gelar Pangeran Srinala Wangsaragen), Fathul (gelar Pangeran Srinala Wangsayuda), Indar Nur Aini (gelar Mahaputri Srinila Kumala Dewi), Azis (meninggal), Muraini (gelar Pangeran Srinala Wangsa Warman), Murniwati (gelar Mahaputri Srinila Ratu Kumala), A Iansyahrechza Fachlevi (gelar Maharaja Srinala Pradhita Wangsawarman), dan Iliansyah (gelar Pangeran Srinala Wangsaperdana).




Melihat sejarah di atas, urai Hermawan, maka gelar Kebangsawanan adalah hak dari kerabat Kerajaan Kutai Martapura. Sebab, di dalamnya terdapat muatan pelestarian tata nilai adat istiadat dan budaya. “Tak heran, kalau seorang Labok dengan jabatan Kepala Lembaga Adat Besar di Muara Kaman dan Kepala Adat Besar RI itu merupakan jabatan secara Kelembagaan dan Keorganisasian. Ada pun gelar kebangsawanan yang digelarnya sepanjang para kerabat Kerajaan Kutai Martapura sepakat atas kerapatan Dewan Adatnya itu merupakan Haknya Kerabat,” katanya mengakhiri perbincangan.

Di bagian lain, Maharaja Srinala Sukran Wangsa Kusuma Mangku Adat melihat, sosok Labok atau Maharaja Srinala Pradhita Alpiansyahrechza Fachlevie Wangsawarman merupakan tokoh yang kharismatik. “Walau pun usianya relatif muda, dan saya lebih tua, saya sangat kagum dan patut menaruh hormat kepadanya. Dialah satu-satunya putra dari Muara Kaman yang patut dijadikan tauladan pemuda masa kini,” ucap Maharaja Srinala Sukran ketika dijumpai di daerah Liang Buaya, Muara Kaman.

Di mata Sukran, Labok adalah sosok yang cerdas, pandai, punya ilmu pengetahuan dan berwawasan luas dalam kepemimpinan. “Dia juga piawai, mudah bergaul, dan bisa menempatkan diri dalam suasana apa pun. Perilakunya sopan dan bersahaja, termasuk bertutur kata yang santun, membuat lawan bicaranya selalu senang dengannya,” timpal Maharaja Srinala Sukran, seraya mengimbau kepada semua pihak kalau menilai seseorang jangan hanya dari satu sisi saja. “Negara kita ini adalah berazaskan Pancasila dan rakyatnya berhak berkarya buat bangsanya sendiri.

Sejarah Tanah Kutai ( 8 )

Sosok Labok yang terpilih sebagai Kepala Adat Besar RI itu diyakini memang termasuk turunan Raja Mulawarman di Muara Kaman, Kukar.


TEKA TEKI gelar kebangsawanan Labok alias Maharaja Srinala Praditha Alpiansyahrechza Fachlevie Wangsawarman mulai terkuak. Setidaknya, dua tokoh berpengaruh dari garis keturunan Raja Mulawarman di Muara Kaman, Kukar, angkat bicara. Labok yang diangkat jadi Kepala Adat Besar RI itu diakui PAR (Pangeran Aji Raden) Hermawan Wiranata, pemerhati LAI (Lembaga Adat Indonesia) dan Maharaja Srinala Sukran Wangsakusuma Mangku Adat memang termasuk turunan Raja Mulawarman yang pantas dikagumi.

Dua tokoh itu perlu mengungkap silsilah Labok, guna menjawab keragu-raguan sejumlah pihak, termasuk Karo Humas Setprov Kaltim, Zairin Zain dan pemerhati sejarah lainnya. Harapannya, dengan mengetahui silsilah Maharaja SPA Iansyachrechza Fachlevie Wangsawarman alias Labok, maka semuanya jelas siapa sebenarnya penerus Raja Mulawarman yang pernah berjaya pada zamannya itu.

Hermawan menguraikan, sejarah telah mencatat Kerajaan Hindu Tertua di Indonesia adalah Kerajaan Kutai Martapura dengan Rajanya Mulawarman. Kerajaan ini berpusat di Muara Kaman, Kabupaten Kukar, Kaltim. Tanpa memandang sederhana untuk menilai sejarah — apalagi sejarah kerajaan – logika berpikir pun harus universal. “Kalau kita menapaki sejarah hari ini, tentu tak lepas sejarah masa lalu, dan masa datang. Menilai sejarah pun harus obyektif, harus berdasarkan fakta dan data yang didasari analisa dan kajian, baik di atas meja atau pun di lapangan,” ungkapnya melalui siaran pers kepada BONGKAR!

Ia menyebut, kalau ada kerajaan pasti ada Raja, Rakyat, Istana dan lain sebagainya. Nah, kerajaan Kutai Martapura yang dimulai tahun 350 – 1605 M, memang ada. Proses pembuktiannya dibuktikan dengan peninggalan sejarah berupa tulisan Prasasti Yupa. “Dalam Prasasti Yupa itu ada dua tulisan yang dibahas dalam bahasa Sanskekerta, dan lima tulisan lainnya dibahas dalam bahasa Inggris,” ujarnya.

Seperti apa silsilahnya? Ia menceritakan, era tahun 1900, wilayah Muara Kaman menjadi Districk Hoofd masa penjajahan Belanda. Kepala wilayahnya sendiri diangkat dari kerabat Raja-raja dari Kutai Kartanegara. Sedang kerabat Kerajaan Kutai di Muara Kaman hanya menjadi Kepala Kampung. Dan, dalam catatan keluarga tersusun silsilahnya adalah Maja, gelar Nala Raja Tuha bin Danda, gelar Nala Guna. Mereka melahirkan tujuh turunan, yakni Salong, gelar Nala Mayang, disusul Tapa, Tira, Seta, Salar, Dita, dan Dira.

1. Salong, gelar Nala Mayang bin Maja, gelar Nala Raja Tuha melahirkan 4 orang anak. 1. Bendul, gelar Jaya Kerana (belum diketahui keturunannya), 2. Kerincing. 3. Selat, 4. Nai (belum diketahui keturunannya).

2. Tapa bin Maja, gelar Nala Raja Tuha melahirkan 1. Moyah, 2. Bunggek, 3. Biyah alias Mang dan 4. Ali.

3. Tira bin Maja, gelar Nala Raja Tuha melahirkan 1. Kamew, 2. Semar, 3. Pindok.

4. Seta bin Maja, gelar Nala Raja Tuha melahirkan 1. Kader, 2. Tidok, 3. Nyombet, dan 4. Amsa.

5. Dita bin Manja, gelar Nala Raja Tuha melahirkan Uwon. (anak tunggal, tak ada saudara).

6. Salar bin Maja, gelar Nala Raja Tuha melahirkan 1. Ipil, 2. Mamat, 3. Yew dan 4. Kepang.

7. Dira bin Maja, gelar Nala Raja Tuha melahirkan 1. Pangeran Perdah, 2. Kompal, 3. Lagok.

 
 
BERSAMBUNG

Sejarah Tanah Kutai ( 7 )

Dan Kesempatan ini digunakan oleh pihak Pemerintah Inggris mengirim Bill Dalton ke Kutai guna mengadakan penyelidikan dengan motib sebagai Ahli Antropologi yang meneliti daerah Kutai selama 15 bulan yakni pada tahun 1827 – 1828. Hingga laporan ini memancing keinginan pemerintah Inggris untuk memperkuat hubungan ke kutai dan pada bulan februari 1844 pemerintah Inggris mengirim ekspedisi yang dipimpin oleh Jhon Erskine Murray dengan tujuan untuk memonopoli perdagangan dan ekspedisi ini berakhir dengan peperangan antara Kutai dan Inggris dan melibatkan perampokan atas kapal dagang Belgia sehingga menjadi perhatian dunia yang mana beritanya ditulis pada surat kabar harian Hongkong dan belanda merasa berhak untuk mengambil tindakan atas perkara tersebut karena Belgia menuntut ganti rugi kepada pihak belanda, yang bertanggung jawab atas perlakuan dari Pasukan Kesultanan Kutai. Sehingga pada bulan april 1844 Belanda mengirim 2 buah kapal tempur bernama The Anna dan The Young yang dibawah komando Letnan Laut I T Hoof yang menembaki Kota Samarinda sampai Kota Tenggarong sehingga Ibukota Kesultanan Kutai ini dibumi hanguskan Istana dan Mesjidnya terbakar dan pimpinan perang Kutai Kalamenteri Awang Long gelar Ni’Raden Sujidiselerong alias Pangeran Ariyo Senopati meninggal dunia terkena runtuhan benteng dari kayu ulin.  Sehingga Aji Sultan diungsikan ke Kota Bangun dan akhirnya takluk kepada Pemerintah Belanda sesuai pakta perjanjian Tepian Pandan Tracktat yang isinya menyatakan kedaulatan penuh ditangan Pemerintah Belanda Aji Sultan diangkat berdasarkan Besluit oleh Pemerintah Kerajaan Belanda dan menjalankan pemerintahan atas perkenan Kanjeng Gubernur Belanda di Batavia sehingga kekuasaan penuh berada ditangan pemerintah belanda yang memberikan Gelar Lider, Niu Van Oranje Nasau kepada para pembesar Kesultanan Kutai, dan sampai pada pemerintahan penjajah Jepang Kesultanan mengabdi Pada Jepang dan Mendapat Gelar Khoti dan Indonesia merdeka Kekuasaan Kesultanan benar benar dihapuskan pada tanggal 1 Januari tahun 1960 dan baru di hidupkan Kesultanan ini pada tahun pada tanggal, 22 september 2001 dengan di Tabalnya Aji Pangeran Adipati Praboe Anoem Suryadiningrat dengan gelar Aji Sultan Salehuddin II dan tidak mempunyai hak memerintah hanya sebagai pemangku adat atau pelestari budaya Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan sama halnya pada tanggal sebelumnya yakni tanggal 3 September 2001 di Muara Kaman didaulatnya A.IANSYAHRECHZA.F gelar Maharaja Srinala Praditha Wangsawarman sebagai Pemangku Kerajaan Kutai Mulawarman sebagai pewaris dan pelestari budaya Kerajaan Kutai Martapura sekali gus Kepala Adat Besar Kec. Muara Kaman. Inilah perjalanan panjang Kutai dari Masa Kemasa. Mari kita belajar dari sejarah dan bukan kita membuat sejarah namun sejarah itulah yang membawa kita pada masa-dan ruang serta waktunya.(MK)

Sejarah Tanah Kutai ( 6 )

Pada tahun 1778, pemuka Bugis mengutus Nachoda Labai dan adiknya La Made Daeng Punggawa disertai Tuan Sajid Alwi bin Hosen Al ‘mardjak berangkat ke Wajo guna berjumpa dengan Peta Cakurdi alias Aji Imbut dan rombongan ini tiba pada tahun 1779, disambut oleh Aji Imbut. Dan dalam tahun 1780 Aji Imbut berada di Segara (Samarinda seberang), disebut Mangku Jenang dan disitulah Aji Imbut di Daulat menjadi Sultan dengan gelar Aji Sultan Muhammad Muslihuddin yang memberikan perintah kepada Mangkubumi Ni’Raden Perbangsa untuk menangkap Aji Kado gelar Aji Sultan Muhammad Aliyiddin dan dijatuhi Hukum Krenet (Mati Tanpa Mengeluarkan Darah), pada tanggal, 22 September 1782 atas perkarsa Mangkubumi Ni’Raden Bangsa, Perdana Menteri Pangeran Masjurit dan Pua Ado Latodjeng Daeng Petta serta La’made Daeng Punggawa serta atas perkenan Pembesar Kerajaan Kutai Martapura yang menjadi Kepala Suku Kedang Lampong yakni Sri Mangku Jagat dan Sri Mangku Setia diperkenanlah Aji Sultan Muhammad Muslihudin Membangun Kota di Sebelah Hilir Tepian Pandan dan oleh orang Bugis Kota ini dinamakan Tangg-Arung, yang kelamaan menjadi Tenggarong sekarang.


Hal yang sangat membuat Kutai semakin tak menentu atas kekuasan De-Paktonya dikarenakan berdasarkan Surat perjanjian Kompeni Belanda dan Sultan Banjar yakni Sultan Tamjidillah II di tahun 1787, menyatakan bahwa Kutai diserahkan kepada pihak Belanda maka atas dasar itulah Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura tidak membayar upeti Kebanjar Masin melainkan harus membayar pajak kepada pemerintah Kompeni Belanda, namun atas dasar perjanjian Belanda dan Inggris tertanggal, 29 Mei 1809, Pemerintah Inggris meminta agar Belanda meninggalkan Banjarmasin karena kekuasan diserahkan pada pemerintah Inggris dan baru pada tahun 1812, A. Hare sebagai Residen berkedudukan di Banjarmasin menandatangai kontrak dengan sultan Banjar.

Pada tahun 1814 diadakan perjajian dalam Converensi Van London, yang mengakibatkan pada tanggal 1 Januari 1817 Sultan Kutai membuat perjanjian baru dengan pemerintah Belanda didasari bahwa Sultan Banjar telah menyerahkan kembali Kutai kepada Belanda perjanjian ini ditandatangani oleh kedua belah pihak Aji Sultan Muhammad Salehuddin selaku Sultan Kutai dan Van Bukholz selaku Pemerintah Belanda yang mengangkat seorang Civet Gezeg Hebber bernama H. Van Dewell sebagai Asisten Residente berkedudukan di Kutai dan pengangkatan ini tertulis pula dalam naskah perjanjian tahun 1825 yang ditandatangani oleh Aji Sultan Muhammad Salehuddin dengan G. Muller selaku Residen berkedudukan di Banjarmasin atas nama Pemerintah Kerajaan Belanda. Dalam tahun itu juga G. Muller mengadakan perjalanan ke pedalaman dan sehingga adanya nama pegunungan Muller di Kalimantan dan atas ketidak senangan rakyat kepada pihak penjajah maka Muler di bunuh di Muara Kaman hal ini dilaporkan oleh H. Van Dewell dan S.C. Knappert kepada Pemerintah Kerajaan Belanda yang pada saat itu sibuk dengan perlawanan Perang Di Ponegoro di Jawa.

BERSAMBUNG



Saturday, October 30, 2010

Sejarah Tanah Kutai ( 5)

Perhara tetap menimpa Kutai dan walapun Aji Kiji Pati Jaya Perana telah menamakan Kerajaanya Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan membuat Kitab Panji Selaten dan Beraja Niti (Maharajaniti) yang merubah dewan Ponco prabu dan Aji Sapta dengan Dewan Perwalian terdiri dari Mangkubumi, Perdana Menteri dan Oria Menteri, Kala Menteri dan Asma Menteri, tapi tetap saja kemelut melada kerajaan ini, dan pada tanggal, 7 Nopember 1635, tujuh buah kapal terdiri dari 5 kapal pemburu dan 2 buah kapal Belanda lainya memasuki Sungai Mahakam dipimpin oleh Kapten Grit Thomassen Pool. Dan Baru pada tanggal, 18 Nopember 1635 terjadi perundingan antara Belanda dan Kutai dan isi perundingan tersebut ditulis dalam bahasa Belanda sebagai berikut :

“In het vervolg aijk aan de javanen makassaren en andere vreemde handelaarste ontzeggen. De vrije on Belemmerde handel in zijn landen alleen aan de banjareen en nederlaners, met uitsluiting van alleandre natlen te vergunnen.”

Perjanjian ini ditandatangani oleh pihak Belanda dan Kutai tertanda Adji Pengeron Cinom Pansegy Anoemdappa Ingh Martadipoera dan Onderkoopman Pieter Pietersz dan perjanjian ini mengalami stage selama 22 tahun karena pada tahun 1638, Rakyat Kesultanan Banjar menyerbu benteng VOC dan pada tahun 1668 atas perkenan Sultan Banjar member ijin pada orang Bugis untuk menetap di Kutai hal ini terkait dengan permintaan dari Mangkubumi Raja Goa Kraing Patinggalon terhadap Pua Adi yang membangun pemukiman di Mangku Jenang dalam wilayah Kutai. Dan dalam tahu 1671 Kompeni Belanda mengirim utusan ke Kutai bernama Kapten Paoeloes De Bock namun tidak mendapat simpati dan baru pada tahun 1673 diutuslah Kapten Nachoda Van Heys sehingga pada tanggal 23 Desember 1675 Kapten Nachoda Van Heys menyampaikan laporan ke Pemerintah Kerajaan Belanda isisalinanya sebagai berikut :

“Orang Kutai itu jahat, mereka punya benteng serta kapal-kapal sedalam 10-20 kaki, mereka menembaki dari pinggir benteng yang dilakukan oleh sekitar 200 prajurit yang mengakibatkan kerugian pada VOC.”

Dalam tahun 1686, Aji Pangeran Majakusuma bersama Raja Pasir berangkat ke Makasar dengan tujuan mempererat hubungan dikutai pemerintahan dipegang oleh Aji Ragi gelar Aji Ratu Agung dan tahun 1700 M adik Aji Ragi bernama Aji Mangkurat gelar Aji Pangeran Adipati Tua Ing Martadipura dinobat menjadi Raja Kutai dan didalam tahun 1705 Raja Kutai tersebut melangsungkan perkawinan, dengan Anak Karaeng Baturombo Raja Wajo sehingga pada tahun 1730 orang Bugis Wajo dipimpin Petta Sebenggareng dan Pangeran To Rawei diberi ijin oleh Aji Mangkurat membuka pemukiman diseberang Mangku Jenang dan Menjadi Kota Samarinda sekarang.

Dalam Tahun 1738, Aji Kado yang merupakan anak keturunan dari Maharaja Kutai Martapura yang diperisteri oleh Meruhum Pamerangan mengadakan Kudeta dan merebut kekuasaan dari Aji Sultan Muhammad Idris yang diihtiarkan dibunuh di Tanah Wajo, dan atas desakan dari Aji Kado yang juga mengambil isteri Aji Sultan Muhammad Idris dan memangku anak tirinya bernama Aji Imbut, dan Aji Intan diaberdalih untuk diangkat menjadi Aji Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dengan gelar Aji Sultan Muhammad Aliyiddin yang sempat berkuasa selama 42 tahun dan pusat pemerintahan Kutai di Pamerangan (Jembayan sekarang), sehingga orang-orang bugis yang patuh dengan Aji Sultan Muhammad Idris mencari cara agar dapat menaklukan Aji Sultan Aliyiddin (alangkah sayang nama Sultan ini tidak dimasukan dalam Silsilah Kesultana walaupun berkuasa selama 42 tahun dikarenakan dia berdarah Kerajaan Kutai Martapura), maka atas ihktiar orang bugis akhirnya pada tahun 1752 Poa Ado (Puak Adi) bernama La Sawedi Daeng Sitebba mendapat dukungan dari Dato Tan Perana lela sebagai pimpinan Bajak Sulu Kebuntalan dari Filipina yang dibiarkan merampas harta Kerajaan Kutai di Pamerangan, sehingga Aji Sultan Aliyiddin meminta Bantun dari Belanda tetapi Belanda sedang dalam peperangan dengan Kesultanan Berau.

BERSAMBUNG

Sejarah Tanah Kutai ( 4 )

Dewan Ponco Prabu adalah Dewan Lima Raja yang mempunyai hak atas mengatur kebijakan dalam roda pemerintahan dibawah naungan Raja Wilwatita yang merupakan Kerajaan Kecil dalam persekutuan Negara Majapahit dewan ini diketuai oleh Aji Maharaja Sakti dan beranggotakan antara lain : 1. Aji Maharaja Sakti, 2. Aji Maharaja Suradiwangsa, 3. Aji Maharaja Indrawangsa dan 4. Aji Maharaja Darmawangsa adapun Dewan perwalian Aji Sapta yng bertugas dalam menyelenggarakan siding-sidang di kepalai oleh Aji Maharaja Sakti dan beranggotakan 1. Puncan Karna, 2. Aji Maharaja Suradiwangsa, 3. Aji Maharaja Indrawangsa dan 4. Aji Maharaja Darmawangsa, 5. Aji Raja Putrid dan 6. Aji Dewa Putri. Sejak itulah kekuasaan Kerajaan Kutai Martapura tidak mendapat pengakuan sebagai wilayah Kerajaan Majapahit dikarenakan Maharaja Indra Mulia dari Muara Kaman, tidak mau tunduk dan takluk dibawah Kekuasaan Kerajaan Majapahit dan atas dasar tersebut Kerajaan Kutai Martapura ini pula memiliki hak penuh dalam negaranya dikarenakan keinginannya yang keras dalam mempertahankan kedaulatan dan tidak ingin dijajah oleh pihak Majapahit.

Pada Masa kedatangan Mubalik dari penyiar Agama Islam awalnya datang ke Sulawesi kekerajaan Goa dan Bone dan terus Nusa Tenggara dan ke Kalimantan melalui jalur Perdagangan. Kesultanan Banjar di Kalimantan Selatan yang bersekutu dengan Kesultanan Demak menyerbu darah Kutai dan secara de-Fakto Kutai menjadi wilayah taklukan Sultan Banjar hal ini terjadi dijaman pemerintahan Aji Mahkota dan agama Islam terus berkembang dan dalam pemerintahan Kutai harus membayar upeti kepada Sultan Banjar dan telah Melepaskan hubungan biletral dengan Kerajaan Majapahit yang sudah melemah oleh Kekuasaan Kesultanan Demak dan dijaman Pemerintahan Aji Mahkota sampai Aji Dilagar Mubalik bernama Datuk Ribadang gelar Dato Tunggang Parangan atau Syeikh Abdul Kadir Khotib Tunggal telah menetap dikutai guna menjadi Mufti merangkap Qadi pada tahun 1410 M.

Dampak perkembangan agama Islam membuat persaingan ketat antara Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman dan Kutai Kartanegara di Jahitan Layar, atas bantuan dari Sultan Banjar dan Penyiar Islam mereka melakukan Kudeta atas Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman, Kerajaan ini diserang dengan pasukan tentara laut yang dipimpin oleh 3 orang pembesar Kutai Kartanegara antaranya Aji Kijipati Jaya Perana dan Aji Kijipati Senja dan Aji Kijipati Mangkuyuda dan dibantu oleh Hulubalang Labda dan Tuan Kucang mereka menyerbu benteng Kota Martapura yang merupakan pusat peradapan Agama Hindu pertempuran ini berlangsung dari tahun 1603 M, dan berakhir pada tahun 1605 M, Karena Kematian dari Tiga Raja Sekali Nobat yankni Maharaja Dermasetya, Maharaja Setiayuda dan Maharaja Setiaguna, dan penaklukan ini membuat kelumpuhan total system pemerintahan Kerajaan Kutai Martapura yang dikemudian hari diketahui bahwa para bangsawan yang selamat banyak melarikan diri ke pedalaman seperti Perian, Lebak Mantan dan Lebak Cilong serta ke Sendawar dan ke Gunung Kombeng di Wahau, karena disitulah banyak diketemukan jejak-jejak peradapan hindu dan budha dijaman Kerajaan Kutai Martapura yg berpusat di Muara Kaman dan dimuara Kaman ditempatkan seorang Syeikh Muhammad Suleman yang kawin dengan Putri Niradiah Keturunan Raja Mulawarman di Sabintulung dan Menurunkan Sarifah Kencana dan Makam mereka inilah dianggap keramat di Muara Kaman.


BERSAMBUNG

Sejarah Tanah Kutai ( 4 )

Dewan Ponco Prabu adalah Dewan Lima Raja yang mempunyai hak atas mengatur kebijakan dalam roda pemerintahan dibawah naungan Raja Wilwatita yang merupakan Kerajaan Kecil dalam persekutuan Negara Majapahit dewan ini diketuai oleh Aji Maharaja Sakti dan beranggotakan antara lain : 1. Aji Maharaja Sakti, 2. Aji Maharaja Suradiwangsa, 3. Aji Maharaja Indrawangsa dan 4. Aji Maharaja Darmawangsa adapun Dewan perwalian Aji Sapta yng bertugas dalam menyelenggarakan siding-sidang di kepalai oleh Aji Maharaja Sakti dan beranggotakan 1. Puncan Karna, 2. Aji Maharaja Suradiwangsa, 3. Aji Maharaja Indrawangsa dan 4. Aji Maharaja Darmawangsa, 5. Aji Raja Putrid dan 6. Aji Dewa Putri. Sejak itulah kekuasaan Kerajaan Kutai Martapura tidak mendapat pengakuan sebagai wilayah Kerajaan Majapahit dikarenakan Maharaja Indra Mulia dari Muara Kaman, tidak mau tunduk dan takluk dibawah Kekuasaan Kerajaan Majapahit dan atas dasar tersebut Kerajaan Kutai Martapura ini pula memiliki hak penuh dalam negaranya dikarenakan keinginannya yang keras dalam mempertahankan kedaulatan dan tidak ingin dijajah oleh pihak Majapahit.

Pada Masa kedatangan Mubalik dari penyiar Agama Islam awalnya datang ke Sulawesi kekerajaan Goa dan Bone dan terus Nusa Tenggara dan ke Kalimantan melalui jalur Perdagangan. Kesultanan Banjar di Kalimantan Selatan yang bersekutu dengan Kesultanan Demak menyerbu darah Kutai dan secara de-Fakto Kutai menjadi wilayah taklukan Sultan Banjar hal ini terjadi dijaman pemerintahan Aji Mahkota dan agama Islam terus berkembang dan dalam pemerintahan Kutai harus membayar upeti kepada Sultan Banjar dan telah Melepaskan hubungan biletral dengan Kerajaan Majapahit yang sudah melemah oleh Kekuasaan Kesultanan Demak dan dijaman Pemerintahan Aji Mahkota sampai Aji Dilagar Mubalik bernama Datuk Ribadang gelar Dato Tunggang Parangan atau Syeikh Abdul Kadir Khotib Tunggal telah menetap dikutai guna menjadi Mufti merangkap Qadi pada tahun 1410 M.

Dampak perkembangan agama Islam membuat persaingan ketat antara Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman dan Kutai Kartanegara di Jahitan Layar, atas bantuan dari Sultan Banjar dan Penyiar Islam mereka melakukan Kudeta atas Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman, Kerajaan ini diserang dengan pasukan tentara laut yang dipimpin oleh 3 orang pembesar Kutai Kartanegara antaranya Aji Kijipati Jaya Perana dan Aji Kijipati Senja dan Aji Kijipati Mangkuyuda dan dibantu oleh Hulubalang Labda dan Tuan Kucang mereka menyerbu benteng Kota Martapura yang merupakan pusat peradapan Agama Hindu pertempuran ini berlangsung dari tahun 1603 M, dan berakhir pada tahun 1605 M, Karena Kematian dari Tiga Raja Sekali Nobat yankni Maharaja Dermasetya, Maharaja Setiayuda dan Maharaja Setiaguna, dan penaklukan ini membuat kelumpuhan total system pemerintahan Kerajaan Kutai Martapura yang dikemudian hari diketahui bahwa para bangsawan yang selamat banyak melarikan diri ke pedalaman seperti Perian, Lebak Mantan dan Lebak Cilong serta ke Sendawar dan ke Gunung Kombeng di Wahau, karena disitulah banyak diketemukan jejak-jejak peradapan hindu dan budha dijaman Kerajaan Kutai Martapura yg berpusat di Muara Kaman dan dimuara Kaman ditempatkan seorang Syeikh Muhammad Suleman yang kawin dengan Putri Niradiah Keturunan Raja Mulawarman di Sabintulung dan Menurunkan Sarifah Kencana dan Makam mereka inilah dianggap keramat di Muara Kaman.


BERSAMBUNG

Friday, October 29, 2010

Sejarah Tanah Kutai (3 )

Dari nama antara Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman dan Kesultanan Kutai Kartanegara di Tenggarong, membuat kita lebih dapat memahami bentuk dan teori beririnya Kerajaan Kutai bahkan sangat jelas bahwa Kerajaan Kutai Martapura ini berada di wilayah pedalaman sungai Mahakam bermula di abad ke 4 M, sedangkan Kesultanan Kutai Kartanegara baru ada dimulai abad ke 13 M, bahkan sejak kurun waktu 14 abad Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman ini memiliki hak secara De-Jure dan De-Fakto dalam pemerintahan sebagai Negara Berdaulat penuh tanpa pernah menjadi bawahan dari Negara Kerajaan Manapun hal ini berlangsung dari Tahun 350 M-1605 M, sedangkan Kesultanan Kutai Kartanegara ini tidak memiki hak De-Fakto hanya memiliki hak De-Jure saja hal ini dibuktikan bahwa dinyatakannya dalam tambo bahwa didaerah pesisir pantai Timur Kalimantan dipimpi oleh seorang Batara dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit, Batara ini sekaligus sebagai Pimpinan Militer dan Merangkap Hamangkubumi Wilayah setingkat Adipati, yang menguasai daerah Hulu Dusun, Jahitan Layar Sambaran dan Binalu yang dipusatkan di Jahitan Layard an Batara Tersebut adalah Raden Kusuma pembesar dari Keturunan Raja Singasari.

Aji Batara Agung Dewa Sakti memperisteri anak Seorang Adipati Indu Anjat di Batang Lunang daerah Perian Sekarang, dan Putri tersebut adalah Keponakan dari Seorang Petinggi Hulu Dusun bernama Babu Jaluma, dan Putri Tersebut anak Dari Serading Dipati bernama Karang Melenu dan Melahirkan Aji Paduka Nira, yang dalam tahun 1325 Aji Paduka Nira Menggantikan Aji Batara Agung Dewa Sakti sebagai Batara karena Aji Paduka Nira Berhasil Menaklukan daerah Buntang, Santan, Gunung Kemuning, Pandan Sari, Tanjung Semat, Rinjang, Rihang, Panyuangan, Senawan, Sangan-sangan, Kembang, Sungai Samir, Dundang, Manggar, Tanah Habang, Susuran Dagang, dan Tanah Malang, Pulau Atas, Karang Asam, Karang Mumus, Sambumi, Sembakung, Sabuyutan, Mangku Palas yang semula Negeri Wilayah Kerajaan Kutai Martapura yang berpusat di Muara Kaman. Dan Aji Paduka Nira berhasil Pula Melarikan Putri dari Kerajaan Kutai Martapura bernama Putri Indra Perwati Dewi, Putri ini sedang berada ke Mengkaying di Bungalo dan diambil Isteri oleh Aji Paduka Nira yang bergelar Aji Batara Agung Dewa Sakti dan Putri Indra Perati Dewi anak Maharaja Nala Guna Perana Tungga diberi Gelar Aji Paduka Suri atau Mahasuri Dibengalon.

Pada Tahun 1360 Aji Batara Agung Paduka Nira Mininggal Dunia dan Meninggalkan 7 Orang Putra Putri dari hasil perkawinanya dengan Aji Paduka Suri. Dan Baru pada tahun 1370 Maharaja Sultan datang Menghadap Brawidjaya III Raja Majapahit untuk meminta pengakuan diplomatic hal ini didukung oleh Anak Pembesar dari Suku Tunjung bernama Puncan Karna yang memperisteri Aji Raja Putri adik dari Maharaja Sultan yang telah membentuk system pemerintahan Dewan Ponco Prabu dan Dewan Perwalian Aji Sapta dan Menamakan Daerahnya Ing Kute Kartanegara yang mana nama ini adalah pengabadian dari nama Raja Singasari bernama Kartanegara.

Sejarah Tanah Kutai (3 )

Dari nama antara Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman dan Kesultanan Kutai Kartanegara di Tenggarong, membuat kita lebih dapat memahami bentuk dan teori beririnya Kerajaan Kutai bahkan sangat jelas bahwa Kerajaan Kutai Martapura ini berada di wilayah pedalaman sungai Mahakam bermula di abad ke 4 M, sedangkan Kesultanan Kutai Kartanegara baru ada dimulai abad ke 13 M, bahkan sejak kurun waktu 14 abad Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman ini memiliki hak secara De-Jure dan De-Fakto dalam pemerintahan sebagai Negara Berdaulat penuh tanpa pernah menjadi bawahan dari Negara Kerajaan Manapun hal ini berlangsung dari Tahun 350 M-1605 M, sedangkan Kesultanan Kutai Kartanegara ini tidak memiki hak De-Fakto hanya memiliki hak De-Jure saja hal ini dibuktikan bahwa dinyatakannya dalam tambo bahwa didaerah pesisir pantai Timur Kalimantan dipimpi oleh seorang Batara dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit, Batara ini sekaligus sebagai Pimpinan Militer dan Merangkap Hamangkubumi Wilayah setingkat Adipati, yang menguasai daerah Hulu Dusun, Jahitan Layar Sambaran dan Binalu yang dipusatkan di Jahitan Layard an Batara Tersebut adalah Raden Kusuma pembesar dari Keturunan Raja Singasari.

Aji Batara Agung Dewa Sakti memperisteri anak Seorang Adipati Indu Anjat di Batang Lunang daerah Perian Sekarang, dan Putri tersebut adalah Keponakan dari Seorang Petinggi Hulu Dusun bernama Babu Jaluma, dan Putri Tersebut anak Dari Serading Dipati bernama Karang Melenu dan Melahirkan Aji Paduka Nira, yang dalam tahun 1325 Aji Paduka Nira Menggantikan Aji Batara Agung Dewa Sakti sebagai Batara karena Aji Paduka Nira Berhasil Menaklukan daerah Buntang, Santan, Gunung Kemuning, Pandan Sari, Tanjung Semat, Rinjang, Rihang, Panyuangan, Senawan, Sangan-sangan, Kembang, Sungai Samir, Dundang, Manggar, Tanah Habang, Susuran Dagang, dan Tanah Malang, Pulau Atas, Karang Asam, Karang Mumus, Sambumi, Sembakung, Sabuyutan, Mangku Palas yang semula Negeri Wilayah Kerajaan Kutai Martapura yang berpusat di Muara Kaman. Dan Aji Paduka Nira berhasil Pula Melarikan Putri dari Kerajaan Kutai Martapura bernama Putri Indra Perwati Dewi, Putri ini sedang berada ke Mengkaying di Bungalo dan diambil Isteri oleh Aji Paduka Nira yang bergelar Aji Batara Agung Dewa Sakti dan Putri Indra Perati Dewi anak Maharaja Nala Guna Perana Tungga diberi Gelar Aji Paduka Suri atau Mahasuri Dibengalon.

Pada Tahun 1360 Aji Batara Agung Paduka Nira Mininggal Dunia dan Meninggalkan 7 Orang Putra Putri dari hasil perkawinanya dengan Aji Paduka Suri. Dan Baru pada tahun 1370 Maharaja Sultan datang Menghadap Brawidjaya III Raja Majapahit untuk meminta pengakuan diplomatic hal ini didukung oleh Anak Pembesar dari Suku Tunjung bernama Puncan Karna yang memperisteri Aji Raja Putri adik dari Maharaja Sultan yang telah membentuk system pemerintahan Dewan Ponco Prabu dan Dewan Perwalian Aji Sapta dan Menamakan Daerahnya Ing Kute Kartanegara yang mana nama ini adalah pengabadian dari nama Raja Singasari bernama Kartanegara.

Thursday, October 28, 2010

Sejarah Tanah Kutai (2)

Selain itu pula ada Suku Bola Bongan yang merupakan (Suku Darat atau Suku Dayak Benuaq), yang tinggal didaerah Sungai ohong dan menetap disekitar Kec.Bongan sekarang suku Dayak Benuaq menyebar hampir kepenjuru pulau Kalimantan mereka merupakan pendatang dari daratan Cina Selatan ras Mongolide yang semula merantau ke Dongson (Vietnam Sekarang). Bersamaan waktu jalanya pemerintahan Kemaharajaan Queitaire Maradapure, (Kerajaan Kutai di Martapura) banyak negeri bawahan kerajaan ini yg dipimpin oleh Raja Kecil yg dapat disamakan dengan Kepala Negeri setingkat Gubernur sekarang misalnya saja Negeri Talikat dan Negeri Daha wilayahnya di Daerah Kota Bangun dan Muara Muntai Sekarang, yang penduduknya merupakan Puak atau suku Kutai Kedang dan Suku Adat Lawas di Keham Dalam. Sedangkan Kutai Kedang Baroh mendiami wilayah Penyinggahan dan Muara Pahu selain Negeri Kelekat dipedalaman Sungai Belayan dan banyak Negeri lainya seperti Negeri Tanjung Gelumbang, Kanibungan, Jantur Tasik, Loa Niung dan Gelumbang Jo, Kumpai Menamang, Bunga Lo dan Negeri wilayah di Sungai Negeri Monggoh, serta lainya. Wilayahnya meliputi pulau Kalimantan daerah Tanah Merah, Sesayap, Batu Salah, Lemuntan, Long Nawan, Sembuan, Hawang Buta, Riwang, Sepaso, Petidan, Batu Putih, Seguntar, Teluk Bayur, Rantau Panjang, Langkap, Tanjung Batu, Tanjung Aru, Tanjung Layar, Palai Hari, Balandean, Paringin, Bongkang, Tanjung Putting, Kaluing, Mendawai, Tanjung Usu, Ma-Benagih, Muara Sepayang, Tami Layang, Pemangkat, Gunung Kaliangkang, Rengkang, Naga Sahe, Balai Karang, Sungai Kukap, Padang Tikar, Sukadana, Tanjung Sambar, Nanga Tayap, Sukaraja, Sungai Seruyan daerah atau negeri-negeri ini kemudian disebut wilayah Negeri Bakulapura yang merupakan wilayah Kekuasaan Maharaja Kutai di Martapura.

Perhara peperangan terjadi di Muara Sungai Mahakam, antara Pasukan Batara dari Majapahit dan Perahu Kapal Jong atau Wangkang Naga Cinta yang merupakan para pedagang menjalin hubungan deplomatik dengan Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman. Kekalahan diterima oleh Pasukan Cina yang lari kedaratan dan Menjadi Suku Dayak Basap mendiami daerah daratan pesisir pantai Kalimantan Bagian Timur, Bergolaknya perang diperairan Mahakam tepatnya di Tanjung Riwana yang merupakan Pangkalan atau Pelabuhan Syahbandar transit perdagangan yang merupakan wilayah Kerajaan Kutai Martapura yang berpusat di Muara Kaman, Jatuhnya Benteng Samsekepeng akibat serangan dari Pasukan pimpinan Raden Kusuma yang adalah adik dari Raden Wijaya Raja Majapahit yg berlainan Ibu ini, mengakibatkan jalur perekonomian dibidang perdagangan antar luar negeri diblokir Kerajaan Kutai Martapura semakin mengalami kemunduran karena para pedagang hanya melewati jalan Sungai menuju Muara Kaman. Tempat peperangan antar pasukan Kerajaan Kutai Martapura dan Cina serta Batara dari Majapahit ini diberinama Tanjung Riwana dan Kotanya diberinama Jahitan Layar dan sekarang namanya menjadi Kutai Lama dan atas kemenangan dari Sang Batara ini diperingati sebagai Hari Erau Tempong Tawar Mengulur Naga yang mengandung makna bahwa telah ditenggelamkanya kapal atau Jong Pedagang Cina yang bercorak Naga. Selain itupula Sang Batara menaklukan 4 wilayah Kerajaan Kutai yakni, Hulu Dusun, Binalu dan Sambaran serta Jahitan Layar maka atas keberhasilan tersebut Raden Kusuma di anugerahi Gelar Aji Batara Agung Dewa Sakti yang bertugas sebagai Batara (Pimpinan Militer) dan merangkap sebagai Mangkubumi

Tuesday, October 26, 2010

Sejarah Tanah Kutai (1)

Kutai Mulawarman Martapura di Muara Kaman dan Kutai Kartanegara di Tenggarong

Kerajaan Kutai Martapura telah berkuasa dari tahun 350 M dan Kerajaan ini berdaulat penuh atas hak negerinya dan mempunyai system pemerintahan Naladuta dimana Raja dipertuan Agung adalah seorang Maharaja dan dua orang Wakil menjadi Maharaja Negeri dan Menjadi Maharaja Penghulu dan para pembesar lainya adalah para Raja wilayah disebut Naladuta disetiap negeri jajahanya, undang-undang kerajaan ini diberinama Kalpa Nalaberaja yang mengatur sistem pemerintahan Beraja didalam Istana Induk dan Kalpa Naladipura merupakan Undang-undang yang mengatur Adat Istiadat dan Budaya serta Kalpanaladuta yang mengatur system pemerintahan Raja-Raja wilayah dan mengatur hukum hidup rakyat didalam wilayah taklukan, semua perundangan ini disendikan atas syara agama Hindu.

Suku Kutai Pantun adalah suku atau Puak yang paling Tua diantara 5 Suku atau Puak Kutai lainya dan Suku ini mendiami daerah Muara Kaman Kab. Kutai Kartanegara dan sampai Daerah Wahau dan Daerah Muara Ancalong, serta Daerah Muara Bengkal, Daerah Kombeng di dalam wilayah Kab.Kutai Timur sekarang, suku Kutai pantun dapat dikatakan sebagai turunan para bangsawan dan Pembesar di Kerajaan Kutai Martapura (Kutai Mulawarman) sebenarnya nama kerajaan ini awalnya disebut Queitaire (Kutai) oleh Pendatang dan Pedagang awal abad masehi yang datang dari India selatan yang artinya Belantara dan Ibukota Kerajaannya bernama Maradavure (Martapura) berada di Pulau Naladwipa dan letaknya di tepi Sungai Mahakam di seberang Persimpangan Sungai Kanan Mudik Mahakam yakni Sungai Kedang Rantau asal nama Kota Muara Kaman sekarang.

Hal diatas didasari dari pengkajian jalur pelayaran India, Indo Cina dan Kalimantan yang amat menarik dikaji secara mendalam, maka secara pasti kronologis sejarah ini juga termuat dalam berita jalur perdagangan timbal balik segitiga antar daerah, karena bukan saja dalam berita – berita dari India saja namun berita – berita dari cinapun dapat dijadikan bahan kajian mengenai asal nama Kutai, bahwa dalam hubungan dagang bangsa cina dengan Pulau Silalahi yang berada dibagian timur negeri Cina, dan mereka menyebut pulau tersebut dengan nama Zabudj artinya Kalimantan dan baru diketahui kemudian ada hubungan antara Kerajaan Campa dan Kho-Thay (Kutai) yg berasal dari makna Kerajaan Besar dipedalaman sungai Mahakam.

Memang nama Kutai baru dikenal dalam bahasa Melayu, sebutan awalnya menurut berita India adalah Queitaire artinya Belantara dan dalam berita Campa atau Cina disebut Kho-Thay artinya Kota Besar atau Bandar Kerajaan Besar. Dan kemudian perpindahan penduduk dari Campa sebagai buruh tambang Emas yang membangun sistim kesukuan dan dikepalai oleh seorang Raja Kecil bawahan dari Kemaharajaan Kutai Martapura dan dipimpin oleh seorang Kepala Puak Sendawar (Suku Dataran atau Dayak Tunjung), mereka mendiami daerah Melak sampai Barong Tongkok di Kab. Kutai Barat sekarang.

Friday, September 24, 2010

Sejarah Tanah Sunda

Kata Sunda artinya Bagus/ Baik/ Putih/ Bersih/ Cemerlang, segala sesuatu yang mengandung unsur kebaikan, orang Sunda diyakini memiliki etos/ watak/ karakter Kasundaan sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Watak / karakter Sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (pandai/ cerdas) yang sudah ada sejak jaman Salaka Nagara tahun 150 sampai ke Sumedang Larang Abad ke- 17, telah membawa kemakmuran dan kesejahteraan lebih dari 1000 tahun.

Sunda merupakan kebudayaan masyarakat yang tinggal di wilayah barat pulau Jawa dengan berjalannya waktu telah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Sebagai suatu suku, bangsa Sunda merupakan cikal bakal berdirinya peradaban di Nusantara, di mulai dengan berdirinya kerajaan tertua di Indonesia, yakni Kerajaan Salakanagara dan Tarumanegara sampai ke Galuh, Pakuan Pajajaran, dan Sumedang Larang. Kerajaan Sunda merupakan kerajaan yang cinta damai, selama pemerintahannya tidak melakukan ekspansi untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Keturunan Kerajaan Sunda telah melahirkan kerajaan- kerajaan besar di Nusantara diantaranya Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Mataram, Kerajaan Cirebon, Kerajaan Banten, dll.

Kronologi Sejarah Kerajaan Sunda

Kerajaan Sunda (669-1579 M), menurut naskah Wangsakerta merupakan kerajaan yang berdiri menggantikan kerajaan Tarumanagara. Kerajaan Sunda didirikan oleh Tarusbawa pada tahun 591 Caka Sunda (669 M). Menurut sumber sejarah primer yang berasal dari abad ke-16, kerajaan ini merupakan suatu kerajaan yang meliputi wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Banten, Jakarta, Provinsi Jawa Barat , dan bagian barat Provinsi Jawa Tengah.

Berdasarkan naskah kuno primer Bujangga Manik (yang menceriterakan perjalanan Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di Pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16), yang saat ini disimpan pada Perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627), batas Kerajaan Sunda di sebelah timur adalah Ci Pamali ("Sungai Pamali", sekarang disebut sebagai Kali Brebes) dan Ci Serayu (yang saat ini disebut Kali Serayu) di Provinsi Jawa Tengah.


Tome Pires (1513) dalam catatan perjalanannya, Suma Oriental (1513 – 1515), menyebutkan batas wilayah Kerajaan Sunda di sebelah timur sebagai berikut: “Sementara orang menegaskan bahwa kerajaan Sunda meliputi setengah pulau Jawa. Sebagian orang lainnya berkata bahwa Kerajaan Sunda mencakup sepertiga Pulau Jawa ditambah seperdelapannya lagi. Katanya, keliling Pulau Sunda tiga ratus legoa. Ujungnya adalah Ci Manuk.'

Menurut Naskah Wangsakerta, wilayah Kerajaan Sunda mencakup juga daerah yang saat ini menjadi Provinsi Lampung melalui pernikahan antara keluarga Kerajaan Sunda dan Lampung. Lampung dipisahkan dari bagian lain kerajaan Sunda oleh Selat Sunda.

Hubungan Kerajaan Sunda dengan Eropa

Kerajaan Sunda sudah lama menjalin hubungan dagang dengan bangsa Eropa seperti Inggris, Perancis dan Portugis. Kerajaan Sunda malah pernah menjalin hubungan politik dengan bangsa Portugis. Dalam tahun 1522, Kerajaan Sunda menandatangani Perjanjian Sunda-Portugis yang membolehkan orang Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kelapa. Sebagai imbalannya, Portugis diharuskan memberi bantuan militer kepada Kerajaan Sunda dalam menghadapi serangan dari Demak dan Cirebon (yang memisahkan diri dari Kerajaan Sunda).


Sejarah

Sebelum berdiri sebagai kerajaan yang mandiri, Sunda merupakan bagian dari Tarumanagara. Raja Tarumanagara yang terakhir, Sri Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirthabumi (memerintah hanya selama tiga tahun, 666-669 M), menikah dengan Déwi Ganggasari dari Indraprahasta. Dari Ganggasari, beliau memiliki dua anak, yang keduanya perempuan. Déwi Manasih, putri sulungnya, menikah dengan Tarusbawa dari Sunda, sedangkan yang kedua, Sobakancana, menikah dengan Dapuntahyang Sri Janayasa, yang selanjutnya mendirikan kerajaan Sriwijaya. Setelah Linggawarman meninggal, kekuasaan Tarumanagara turun kepada menantunya, Tarusbawa. Hal ini menyebabkan penguasa Galuh, Wretikandayun (612-702) memberontak, melepaskan diri dari Tarumanagara, serta mendirikan Galuh yang mandiri. dari pihak Tarumanagara sendiri, Tarusbawa juga menginginkan melanjutkan kerajaan Tarumanagara. Tarusbawa selanjutnya memindahkan kekuasaannya ke Sunda, di hulu sungai Cipakancilan dimana di daerah tersebut sungai Ciliwung dan sungai Cisadane berdekatan dan berjajar. Kurang lebih adalah Kotamadya Bogor saat ini. Sedangkan Tarumanagara diubah menjadi bawahannya. Beliau dinobatkan sebagai raja Sunda pada hari Radite Pon, 9 Suklapaksa, bulan Yista, tahun 519 Saka (kira-kira 18 Mei 669 M). Sunda dan Galuh ini berbatasan, dengan batas kerajaanya yaitu sungai Citarum (Sunda di sebelah barat, Galuh di sebelah timur).

Kerajaan kembar

Putera Tarusbawa yang terbesar, Rarkyan Sundasambawa, wafat saat masih muda, meninggalkan seorang anak perempuan, Nay Sekarkancana. Cucu Tarusbawa ini lantas dinikahi oleh Rahyang Sanjaya dari Galuh, sampai mempunyai seorang putera, Rahyang Tamperan.


Ibu dari Sanjaya adalah SANAHA, cucu Ratu Shima dari Kalingga, di Jepara. Ayah dari Sanjaya adalah Bratasenawa / SENA / SANNA, Raja Galuh ketiga, teman dekat Tarusbawa.

Sena adalah cucu Wretikandayun dari putera bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua (702-709 M). Sena di tahun 716 M dikudeta dari tahta Galuh oleh PURBASORA. Purbasora dan Sena sebenarnya adalah saudara satu ibu, tapi lain ayah.

Sena dan keluarganya menyelamatkan diri ke Pakuan, pusat Kerajaan Sunda, dan meminta pertolongan pada Tarusbawa. Ironis sekali memang, Wretikandayun, kakek Sena, sebelumnya menuntut Tarusbawa untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari Tarumanegara / Kerajaan Sunda. Dikemudian hari, Sanjaya yang merupakan penerus Kerajaan Galuh yang sah, menyerang Galuh, dengan bantuan Tarusbawa, untuk melengserkan Purbasora.

Saat Tarusbawa meninggal (tahun 723), kekuasaan Sunda dan Galuh berada di tangan Sanjaya. Di tangan Sanjaya, Sunda dan Galuh bersatu kembali.

Tahun 732 Sanjaya menyerahkan kekuasaan Sunda-Galuh ke puteranya, Tamperan / Rarkyan Panaraban. Di Kalingga, Sanjaya memegang kekuasaan selama 22 tahun (732-754), yang kemudian diganti oleh puteranya dari Déwi Sudiwara, yaitu Rarkyan Panangkaran / Rakai Panangkaran.

Rahyang Tamperan / RARKYAN PANARABAN berkuasa di Sunda-Galuh selama tujuh tahun (732-739), lalu membagi kekuasaan pada dua puteranya: Sang Manarah (dalam carita rakyat disebut Ciung Wanara) di Galuh serta Sang Banga (Hariang Banga) di Sunda.

Sang Banga (Prabhu Kertabhuwana Yasawiguna Hajimulya) menjadi raja selama 27 tahun (739-766), tapi hanya menguasai Sunda dari tahun 759. Dari Déwi Kancanasari, keturunan Demunawan dari Saunggalah, Sang Banga mempunyai putera, bernama Rarkyan Medang, yang kemudian meneruskan kekuasaanya di Sunda selama 17 tahun (766-783) dengan gelar Prabhu Hulukujang.

Karena anaknya perempuan, Rakryan Medang mewariskan kekuasaanya kepada menantunya, Rakryan Hujungkulon atau Prabhu Gilingwesi (dari Galuh, putera Sang Mansiri), yang menguasai Sunda selama 12 tahun (783-795).

Karena Rakryan Hujungkulon inipun hanya mempunyai anak perempuan, maka kekuasaan Sunda lantas jatuh ke menantunya, Rakryan Diwus (dengan gelar Prabu Pucukbhumi Dharmeswara) yang berkuasa selama 24 tahun (795-819).

Dari Rakryan Diwus, kekuasaan Sunda jatuh ke puteranya, Rakryan Wuwus, yang menikah dengan putera dari Sang Welengan (raja Galuh, 806-813). Kekuasaan Galuh juga jatuh kepadanya saat saudara iparnya, Sang Prabhu Linggabhumi (813-842), meninggal dunia. Kekuasaan Sunda-Galuh dipegang oleh RAKRYAN WUWUS (dengan gelar Prabhu Gajahkulon) sampai ia wafat tahun 891.

Sepeninggal Rakryan Wuwus, kekuasaan Sunda-Galuh jatuh ke adik iparnya dari Galuh, Arya Kadatwan. Hanya saja, karena tidak disukai oleh para pembesar dari Sunda, ia dibunuh tahun 895, sedangkan kekuasaannya diturunkan ke putranya, Rakryan Windusakti.

Kekuasaan ini lantas diturunkan pada putera sulungnya, Rakryan Kamuninggading (913). RAKRYAN KAMUNINGGADING menguasai Sunda-Galuh hanya tiga tahun, sebab kemudian direbut oleh adiknya, Rakryan Jayagiri (916).

RAKRYAN JAYAGIRI berkuasa selama 28 tahun, kemudian diwariskan kepada menantunya, Rakryan Watuagung, tahun 942.

Melanjutkan dendam orangtuanya, Rakryan Watuagung direbut kekuasaannya oleh keponakannya (putera Kamuninggading), Sang Limburkancana (954-964).

Dari Limburkancana, kekuasaan Sunda-Galuh diwariskan oleh putera sulungnya, Rakryan Sundasambawa (964-973). Karena tidak mempunyai putera dari Sundasambawa, kekuasaan tersebut jatuh ke adik iparnya, Rakryan Jayagiri (973-989).

Rakryan Jayagiri mewariskan kekuasaannya ka puteranya, Rakryan Gendang (989-1012), dilanjutkan oleh cucunya, Prabhu Déwasanghyang (1012-1019). Dari Déwasanghyang, kekuasaan diwariskan kepada puteranya, lalu ke cucunya yang membuat prasasti Cibadak, Sri Jayabhupati (1030-1042). Sri Jayabhupati adalah menantu dari Dharmawangsa Teguh dari Jawa Timur, mertua raja Erlangga (1019-1042).

Dari Sri Jayabhupati, kekuasaan diwariskan kepada putranya, Dharmaraja (1042-1064), lalu ke cucu menantunya, Prabhu Langlangbhumi ((1064-1154). Prabu Langlangbhumi dilanjutkan oleh putranya, Rakryan Jayagiri (1154-1156), lantas oleh cucunya, Prabhu Dharmakusuma (1156-1175). Dari Prabu Dharmakusuma, kekuasaan Sunda-Galuh diwariskan kepada putranya, Prabhu Guru Dharmasiksa, yang memerintah selama 122 tahun (1175-1297). Dharmasiksa memimpin Sunda-Galuh dari Saunggalah selama 12 tahun, tapi kemudian memindahkan pusat pemerintahan kepada Pakuan Pajajaran, kembali lagi ke tempat awal moyangnya (Tarusbawa) memimpin kerajaan Sunda.

Sepeninggal Dharmasiksa, kekuasaan Sunda-Galuh turun ke putranya yang terbesar, Rakryan Saunggalah (Prabhu Ragasuci), yang berkuasa selama enam tahun (1297-1303). Prabhu Ragasuci kemudian diganti oleh putranya, Prabhu Citraganda, yang berkuasa selama delapan tahun(1303-1311), kemudian oleh keturunannya lagi, Prabu Linggadéwata (1311-1333). Karena hanya mempunyai anak perempuan, Linggadéwata menurunkan kekuasaannya ke menantunya, Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340), kemudian ke Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350). Dari Prabu Ragamulya, kekuasaan diwariskan ke putranya, Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (1350-1357), yang di ujung kekuasaannya gugur di Bubat (baca Perang Bubat). Karena saat kejadian di Bubat, putranya -- Niskalawastukancana -- masih kecil, kekuasaan Sunda sementara dipegang oleh Patih Mangkubumi Sang Prabu Bunisora (1357-1371).

Prasasti Kawali di Kabuyutan Astana Gedé, Kawali, Ciamis.

Sapeninggal Prabu Bunisora, kekuasaan kembali lagi ke putra Linggabuana, Niskalawastukancana, yang kemudian memimpin selama 104 tahun (1371-1475). Dari isteri pertama, Nay Ratna Sarkati, ia mempunyai putera Sang Haliwungan (Prabu Susuktunggal), yang diberi kekuasaan bawahan di daerah sebelah barat Citarum (daerah asal Sunda). Prabu Susuktunggal yang berkuasa dari Pakuan Pajajaran, membangun pusat pemerintahan ini dengan mendirikan keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Pemerintahannya terbilang lama (1382-1482), sebab sudah dimulai saat ayahnya masih berkuasa di daerah timur.

Dari Nay Ratna Mayangsari, istrinya yang kedua, ia mempunyai putera Ningratkancana (Prabu Déwaniskala), yang meneruskan kekuasaan ayahnya di daerah Galuh (1475-1482).

Susuktunggal dan Ningratkancana menyatukan ahli warisnya dengan menikahkan Jayadéwata (putra Ningratkancana) dengan Ambetkasih (putra Susuktunggal). Tahun 1482, kekuasaan Sunda dan Galuh disatukan lagi oleh Jayadéwata (yang bergelar Sri Baduga Maharaja). Sapeninggal Jayadéwata, kekuasaan Sunda-Galuh turun ke putranya, Prabu Surawisésa (1521-1535), kemudian Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543), Prabu Sakti (1543-1551), Prabu Nilakéndra (1551-1567), serta Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579). Prabu Suryakancana ini merupakan pemimpin kerajaan Sunda-Galuh yang terakhir, sebab setelah beberapa kali diserang oleh pasukan Maulana Yusuf dari Kesultanan Banten, kerajaan Sunda lainnya, di tahun 1579, yang mengalibatkan kekuasaan Prabu Surya Kancana dan Kerajaan Pajajaran runtuh.

Sebelum Kerajaan Pajajaran runtuh Prabu Surya Kancana memerintahkan ke empat patihnya untuk membawa mahkota kerajaan beserta anggota kerajaan ke Sumedang Larang yang sama- sama merupakan keturunan Kerajaan Sunda untuk meneruskan pemerintahan.

Kerajaan Sumedang Larang berasal dari pecahan kerajaan Sunda-Galuh yang beragama Hindu, yang didirikan oleh Prabu Geusan Ulun Aji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pajajaran, Bogor. Seiring dengan perubahan zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang mengalami beberapa perubahan. Yang pertama yaitu Kerajaan Tembong Agung yang berlokasi di Desa Cipaku Kecamatan Darmaraja (Tembong artinya nampak dan Agung artinya luhur, memperlihatkan ke Agungan Yang Maha Kuasa) dipimpin oleh Prabu Guru Aji Putih pada abad ke XII. Prabu Guru Aji Putih memiliki putra yang bernama Prabu Tajimalela dan kemudian pada masa zaman Prabu Tajimalela, diganti menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam, Prabu Tajimalela pernah berkata “Insun medal; Insun madangan”. Artinya Aku dilahirkan; Aku menerangi. Kata Sumedang diambil dari kata Insun Madangan yang berubah pengucapannya menjadi Sun Madang yang selanjutnya menjadi Sumedang. Ada juga yang berpendapat berasal dari kata Insun Medal yang berubah pengucapannya menjadi Sumedang dan Larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingnya.



Pemerintahan berdaulat


Prabu Agung Resi Cakrabuana (950 M)

Prabu Agung Resi Cakrabuana atau lebih dikenal Prabu Tajimalela dianggap sebagai pokok berdirinya Kerajaan Sumedang. Pada awal berdiri bernama Kerajaan Tembong Agung dengan ibukota di Leuwihideung (sekarang Kecamatan Darmaraja). Beliau punya tiga putra yaitu Prabu Lembu Agung, Prabu Gajah Agung, dan Sunan Geusan Ulun.

Berdasarkan Layang Darmaraja, Prabu Tajimalela memberi perintah kepada kedua putranya (Prabu Lembu Agung dan Prabu Gajah Agung), yang satu menjadi raja dan yang lain menjadi wakilnya (patih). Tapi keduanya tidak bersedia menjadi raja. Oleh karena itu, Prabu Tajimalela memberi ujian kepada kedua putranya jika kalah harus menjadi raja. Kedua putranya diperintahkan pergi ke Gunung Nurmala (sekarang Gunung Sangkanjaya). Keduanya diberi perintah harus menjaga sebilah pedang dan kelapa muda (duwegan/degan). Tetapi, Prabu Gajah Agung karena sangat kehausan beliau membelah dan meminum air kelapa muda tersebut sehingga beliau dinyatakan kalah dan harus menjadi raja Kerajaan Sumedang Larang tetapi wilayah ibu kota harus mencari sendiri. Sedangkan Prabu Lembu Agung tetap di Leuwihideung, menjadi raja sementara yang biasa disebut juga Prabu Lembu Peteng Aji untuk sekedar memenuhi wasiat Prabu Tajimalela. Setelah itu Kerajaan Sumedang Larang diserahkan kepada Prabu Gajah Agung dan Prabu Lembu Agung menjadi resi. Prabu Lembu Agung dan pera keturunannya tetap berada di Darmaraja. Sedangkan Sunan Geusan Ulun dan keturunannya tersebar di Limbangan, Karawang, dan Brebes.


Setelah Prabu Gajah Agung menjadi raja maka kerajaan dipindahkan ke Ciguling. Ia dimakamkan di Cicanting Kecamatan Darmaraja. Ia mempunyai dua orang putra, pertama Ratu Istri Rajamantri, menikah dengan Prabu Siliwangi dan mengikuti suaminya pindah ke Pakuan Pajajaran. Kedua Sunan Guling, yang melanjutkan menjadi raja di Kerajaan Sumedang Larang. Setelah Sunan Guling meninggal kemudian dilanjutkan oleh putra tunggalnya yaitu Sunan Tuakan. Setelah itu kerajaan dipimpin oleh putrinya yaitu Nyi Mas Ratu Patuakan. Nyi Mas Ratu Patuakan mempunyai suami yaitu Sunan Corenda, putra Sunan Parung, cucu Prabu Siliwangi (Prabu Ratu Dewata). Nyi Mas Ratu Patuakan mempunyai seorang putri bernama Nyi Mas Ratu Inten Dewata (1530-1578), yang setelah ia meninggal menggantikannya menjadi ratu dengan gelar Ratu Pucuk Umun.

Ratu Pucuk Umun menikah dengan Pangeran Kusumahdinata, putra Pangeran Pamalekaran (Dipati Teterung), putra Aria Damar Sultan Palembang keturunan Majapahit. Ibunya Ratu Martasari/Nyi Mas Ranggawulung, keturunan Sunan Gunung Jati dari Cirebon. Pangeran Kusumahdinata lebih dikenal dengan julukan Pangeran Santri karena asalnya yang dari pesantren dan perilakunya yang sangat alim. Dengan pernikahan tersebut berakhirlah masa kerajaan Hindu di Sumedang Larang. Sejak itulah mulai menyebarnya agama Islam di wilayah Sumedang Larang.

Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri

Pada pertengahan abad ke-16, mulailah corak agama Islam mewarnai perkembangan Sumedang Larang. Ratu Pucuk Umun, seorang wanita keturunan raja-raja Sumedang kuno yang merupakan seorang Sunda muslimah; menikahi Pangeran Santri (1505-1579 M) yang bergelar Ki Gedeng Sumedang dan memerintah Sumedang Larang bersama-sama serta menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut. Pangeran Santri adalah cucu dari Syekh Maulana Abdurahman (Sunan Panjunan) dan cicit dari Syekh Datuk Kahfi, seorang ulama keturunan Arab Hadramaut yang berasal dari Mekkah dan menyebarkan agama Islam di berbagai penjuru daerah di kerajaan Sunda. Pernikahan Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umun ini melahirkan Prabu Geusan Ulun atau dikenal dengan Prabu Angkawijaya. Pada masa Ratu Pucuk Umun, ibukota Kerajaan Sumedang Larang dipindahkan dari Ciguling ke Kutamaya.

Prabu Geusan Ulun

Prabu Geusan Ulun (1580-1608 M) dinobatkan untuk menggantikan kekuasaan ayahnya, Pangeran Santri. Beliau menetapkan Kutamaya sebagai ibukota kerajaan Sumedang Larang, yang letaknya di bagian Barat kota. Wilayah kekuasaannya meliputi Kuningan, Bandung, Garut, Tasik, Sukabumi (Priangan) kecuali Galuh (Ciamis). Kerajaan Sumedang pada masa Prabu Geusan Ulun mengalami kemajuan yang pesat di bidang sosial, budaya, agama, militer dan politik pemerintahan. Setelah wafat pada tahun 1608, putera angkatnya, Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata atau Rangga Gempol I, yang dikenal dengan nama Raden Aria Suradiwangsa menggantikan kepemimpinannya.

Pada masa awal pemerintahan Prabu Geusan Ulun, Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan sedang dalam masa kehancurannya karena diserang oleh Kerajaan Banten yang dipimpin Sultan Maulana Yusuf dalam rangka menyebarkan Agama Islam. Oleh karena penyerangan itu Kerajaan Pajajaran hancur. Pada saat-saat kekalahan Kerajaan Pajajaran, Prabu Siliwangi sebelum meninggalkan Keraton beliau mengutus empat prajurit pilihan tangan kanan Prabu Siliwangi untuk pergi ke Kerajaan Sumedang dengan rakyat Pajajaran untuk mencari perlindungan yang disebut Kandaga Lante. Kandaga Lante tersebut menyerahkan mahkota emas simbol kekuasaan Raja Pajajaran, kalung bersusun dua dan tiga, serta perhiasan lainnya seperti benten, siger, tampekan, dan kilat bahu (pusaka tersebut masih tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun si Sumedang). Kandaga Lante yang menyerahkan tersebut empat orang yaitu Sanghyang Hawu atau Embah Jayaperkosa, Batara Dipati Wiradijaya atau Embah Nangganan, Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot.

Walaupun pada waktu itu tempat penobatan raja direbut oleh pasukan Banten (wadyabala Banten) tetapi mahkota kerajaan terselamatkan. Dengan diberikannya mahkota tersebut kepada Prabu Geusan Ulun, maka dapat dianggap bahwa Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan menjadi bagian Kerajaan Sumedang Larang, sehingga wilayah Kerajaan Sumedang Larang menjadi luas. Batas wilayah baratnya Sungai Cisadane, batas wilayah timurnya Sungai Cipamali (kecuali Cirebon dan Jayakarta), batas sebelah utaranya Laut Jawa, dan batas sebelah selatannya Samudera Hindia.

Secara politik Kerajaan Sumedang Larang didesak oleh tiga musuh: yaitu Kerajaan Banten yang merasa terhina dan tidak menerima dengan pengangkatan Prabu Geusan Ulun sebagai pengganti Prabu Siliwangi; pasukan VOC di Jayakarta yang selalu mengganggu rakyat; dan Kesultanan Cirebon yang ditakutkan bergabung dengan Kesultanan Banten. Pada masa itu Kesultanan Mataram sedang pada masa kejayaannya, banyak kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara yang menyatakan bergabung kepada Mataram. Dengan tujuan politik pula akhirnya Prabu Geusan Ulun menyatakan bergabung dengan Kesultanan Mataram. Prabu Geusan Ulun merupakan raja terakhir Kerajaan Sumedang Larang, karena selanjutnya menjadi bagian Mataram dan pangkat raja turun menjadi adipati (bupati).

Raja-raja Kerajaan Sunda dari Salaka Nagara s/d Sumedang Larang

Di bawah ini deretan raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Sunda menurut naskah Pangéran Wangsakerta (waktu berkuasa dalam tahun Masehi):

Periode Salaka Nagara dan Taruma Nagara (Dewawarman - Linggawarman, 150 - 669).

0. Dewawarman I - VIII, 150 - 362
1. Jayasingawarman, 358-382
2. Dharmayawarman, 382-395
3. Purnawarman, 395-434
4. Wisnuwarman, 434-455
5. Indrawarman, 455-515
6. Candrawarman, 515-535
7. Suryawarman, 535-561
8. Kertawarman, 561-628
9. Sudhawarman, 628-639
10. Hariwangsawarman, 639-640
11. Nagajayawarman, 640-666
12. Linggawarman, 666-669

Periode Kerajaan Galuh - Pakuan - Pajajaran - Sumedang Larang

1. Tarusbawa (menantu Linggawarman, 669 - 723)
2. Harisdarma, atawa Sanjaya (menantu Tarusbawa, 723 - 732)
3. Tamperan Barmawijaya (732 - 739)
4. Rakeyan Banga (739 - 766)
5. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766 - 783)
6. Prabu Gilingwesi (menantu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang, 783 - 795)
7. Pucukbumi Darmeswara (menantu Prabu Gilingwesi, 795 - 819)
8. Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon (819 - 891)
9. Prabu Darmaraksa (adik ipar Rakeyan Wuwus, 891 - 895)
10. Windusakti Prabu Déwageng (895 - 913)
11. Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi (913 - 916)
12. Rakeyan Jayagiri (menantu Rakeyan Kamuning Gading, 916 - 942)
13. Atmayadarma Hariwangsa (942 - 954)
14. Limbur Kancana (putera Rakeyan Kamuning Gading, 954 - 964)
15. Munding Ganawirya (964 - 973)
16. Rakeyan Wulung Gadung (973 - 989)
17. Brajawisésa (989 - 1012)
18. Déwa Sanghyang (1012 - 1019)
19. Sanghyang Ageng (1019 - 1030)
20. Sri Jayabupati (Detya Maharaja, 1030 - 1042)
21. Darmaraja (Sang Mokténg Winduraja, 1042 - 1065)
22. Langlangbumi (Sang Mokténg Kerta, 1065 - 1155)
23. Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur (1155 - 1157)
24. Darmakusuma (Sang Mokténg Winduraja, 1157 - 1175)
25. Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu (1175 - 1297)
26. Ragasuci (Sang Mokténg Taman, 1297 - 1303)
27. Citraganda (Sang Mokténg Tanjung, 1303 - 1311)
28. Prabu Linggadéwata (1311-1333)
29. Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340)
30. Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350)
31. Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (yang gugur dalam Perang Bubat, 1350-1357)
32. Prabu Bunisora (1357-1371)
33. Prabu Niskalawastukancana (1371-1475)
34. Prabu Susuktunggal (1475-1482)
35. Prabu Jayadéwata (Sri Baduga Maharaja, 1482-1521)
36. Prabu Surawisésa (1521-1535)
37. Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543)
38. Prabu Sakti (1543-1551)
39. Prabu Nilakéndra (1551-1567)
40. Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579)
41. Prabu Geusan Ulun (1580-1608 M)



Sumber:
- Herwig Zahorka, The Sunda Kingdoms of West Java, From Taruma Nagara to Pakuan Pajajaran with Royal Center of Bogor, tahun 2007.
- Saleh Danasasmita, Sajarah Bogor, Tahun 2000
- Ayatrohaedi: Sundakala, Cuplikan Sejarah Sunda Berdasar Naskah-naskah "Panitia Wangsakerta" Cirebon. Pustaka Jaya, 2005.
- Aca. 1968. Carita Parahiyangan: naskah titilar karuhun urang Sunda abad ka-16 Maséhi. Yayasan Kabudayaan Nusalarang, Bandung.

- Edi S. Ekajati. 2005. Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta. Pustaka Jaya, Jakarta. ISBN 979-419-329-1
- Yoséph Iskandar. 1997. Sejarah Jawa Barat: yuganing rajakawasa. Geger Sunten, Bandung.

Thursday, July 15, 2010

Megalithicum Heritage: Taman Waruga Sawangan , Minahasa People Ancient Tomb

SULAWESI is a place in the world that still keeps the cultural greatness of megalithic ( huge stone age ) who have lived 1500 years ago . Besides Toraja in South Sulawesi , there are also Minahasa in North Sulawesi . One of the ancient cultural heritage is waruga  in Sawangan village. We managed to visit this place during our trip to North Sulawesi  23-26 June 2010.This cemetery is located in the village of Sawangan , Airmadidi District , North Minahasa regency .  Waruga is an ancient cemetry or tomb of the old time Minahasa people.The form of this tomb was similar to a traditional house of Minahasa form . It is said that this is a legacy of Megalithic period till about the mid - 19th century . Waruga, to be more specific, are coffins made of stone and works well as a cemetery .

During our visit, we were welcome and accompanied by Anton the guard of the waruga. " They were buried with the position like in the womb . So like a squat . The man hands intertwined , while for the women's hands were clenched , "explained Anton . Then the plate is also included in the tomb. For the male one plate at the bottom it occupies , while women two plates , for the occupied as well as a hood . " You see more women by nature , they used to take her jewelry , too, "adds Anton . Interestengly enough, we still questioning how the  people from 1200 years ago knew exactly the  position of the baby in the womb ?


Waruga : the house shape stone served as a cemetery of ancient Minahasa tribe

In Sawangan , the waruga complex area is 1866 square meters. There are 144 waruga there. Actually , waruga placed in the yard of the house . However, in 1817 , the government collected the waruga's in to  one complex . The waruga was most recently created in 1947 .

This is not an ordinary coffin. Waruga consists of two parts, namely body and lid . Each part was made from a piece of stone ( monolith ) are carved to resemble a cube , octagonal , or round .The ancient Minahasa people who died was inserted into the cavity of the rectangular shape of stone of a waruga, the position of the squat or knee position against the chin . In view of the Minahasa people , humans started living in a squat position on the mother's womb , so when they dead they must be in a squatting position as well.

.
We were in the waruga complex of Sawangan village


Inside the waruga it was often found human bones mixed with other materials , like ceramics of China , gold jewelry , or metal tools and beads . Goods that are favored during life . It was put together with the dead body  with the intention of supplies for the next life .

In the lid of waruga, various ornament or relief was carved . It shows various  relief  to image positions such as human , animals , natural objects , plants , sun, tumpal , a string of jewels , the tassel , decorative geometric and others . The relief carved on the top or lid of waruga relates to the profession of the people who were buried there. Some are describing the process of human birth on four sides .  Meaning, she was a midwife or peoplel who help womaen giving a birth. There are also pictures of buffalo , and a spear at the bottom. This means that this was a  grave of a hunter . Then , cupola - crowned cupola with the human form , meaning that a leader was buried there.


The pictures or relief carve on the lid of the waruga explain the profession and social status of the family head who was buried inside the waruga.

Then , was it all people buried in waruga originally from Minahasa? Apparently not. Anton showed waruga with motifs typical cupola , which have historical significance . On the back of the complex there are many graves Waruga those foreigner of hundreds of years ago . There are of Mongollian , marked with distinctive symbols snake Mongols. Then the tomb of the Japanese long before the Japanese colonial period in Indonesia before World War II . Then there were more Portuguese , which is marked by the figure of the Portuguese army with the typical army helmet .



Anton the guide explain us about the Waruga at Sawangan.

It was interesting when we asked , how many people needed to lift these stones - which according to my estimates need 3-4 people to move from the location of the mountain where the rocks . " Ah , a stone tomb was brought by one person in one  hand , "said Anton , pointing to the reliefs along the entrance path to the complex. " Our people here  in the past time was so big and very strong " he added. It was true ,  when I looked into relief. There  is a picture of the people who brought the stone tomb with only one hand .


A sign board in the entrance gate requested us to appreciate and protect the nation heritage.

Actually , Waruga originally was a means to a family funeral , which is placed in the yard or under the house . But did not everyone have a waruga in North Minahasa . Only people with high social status possessed it. There are not much . According to records, in the entire northern part of the Minahasa region , including the municipality of Manado , there are only about 2,000 waruga scattered in several places . The largest was in Sawangan , there are 142 pieces , which was then concentrated .


The waruga museum where we can see the relics
Inside the museum are also stored in Sawangan Waruga relics people who are buried there. Among them there are many different kinds of rings , bracelets , necklaces , Chinese ceramics from the Ming and Ching , human bones and so forth . Why are there in the museum ?In the early 20th century , the tradition of burying the corpse in this waruga was discontinued because of the outbreaks of cholera emerged that allegedly came from a decomposing corpse in waruga . Belongings of people who were buried were collected.


The relic of the people belonging who buried in the waruga was stored in the cupboard of the museum.

We asked if there any relationship between Sawangan in Depok West Java with the village in here. According to Anton , it turns out , there are residents from the Minahasa in the past Sawangan who later moved to West Java , bought land and opened a farm in the area now in Depok , West Java

Thursday, July 1, 2010

My Video on our Bunaken National Marine Park Under Water Adventuress

The weather in Bunaken on 24 June 2010 was very sunny and bright. We sailed from Manado Bay to the Bunaken Island.We brought under water camera, so we could record a movie shot during under water adventure. The icon below is the video that we took during snorkeling in Bunaken North Sulawesi.



Wednesday, June 30, 2010

Taman Laut Nasional Bunaken - at Our North Sulawesi Trip

During my family trip to North Sulawesi, we managed to visit the Bunaken National Marine Park. It was at June 24, 2010 or the second day of our trip. We was lucky on that day, the morning was bright and the night before was not raining. If it was raiining, we would not be able to see the under water since the water would be muddy. We started in the morning aroun 8 o'clock in the Manado Bay and hired a motor boat to go to the Bunaken Island. It took one and half hours from Manado bay to the Bunaken Island.

The Bunaken National Marine Park was formally established in 1991 and is among the first of Indonesia's growing system of marine parks. The park covers a total surface area of 89,065 hectares, 97% of which is overlain by sparkling clear, warm tropical water. The remaining 3% of the park is terrestrial, including the five islands of Bunaken, Manado Tua, Mantehage, Nain and Siladen. Although each of these islands has a special character, it is the aquatic ecosystem that attracts most naturalists like our selves. I and my family like nature and outdoor activities.




We brought our under water camera around with us. So we could take many photos and video below.


                           

From many literature we understand that the waters of Bunaken National Marine Park are extremely deep (1566 m in Manado Bay), clear (up to 35-40 m visibility), refreshing in temperature (27-29 C) and harbor some of the highest levels of biodiversity in the world. Pick any of group of interest - corals, fish, echinoderms or sponges - and the number of families, genera or species is bound to be astonishingly high. For example, 7 of the 8 species of giant clams that occur in the world, occur in Bunaken. The park has around 70 genera of corals; compare this to a mere 10 in Hawaii. Although the exact number of fish species is unknown, it may be slightly higher than in the Philippines, where 2,500 species, or nearly 70% of all fish species known to the Indo-western Pacific, are found.

I touched the reef under water.


We were all happy enjoying the under water life.

My wife and Smita



My daughter Smita holding tight on the reef, to keep her body under water.


My wife surfaced out from under water.



Beautiful under water life

The white on the left was our boat.








 
                           


We ate lunch , a delicious original fresh sea food from Bunaken water.

Tuesday, June 29, 2010

North Sulawesi Trip - Bukit Kasih at Kanonang Village, Kawangkoan

In this vacation time we went to North Sulawesi or Manado. We flew from Jakarta  on 23 June 2010, early in the  morning at 5 o'clock  and arrive at manado on 9 o'clock. After check in the hotel in Manado we went up the  Bukit Kasih.
The above picture was taken on the top of Bukit Kasih. Almost on the Top of the hill
Bukit Kasih – or the Hill of Love is located in the village of Kanonang at Kawangkoan, some 55 kilometers from Manado, North Sulawesi. It was built in 2002 as a spiritual center where religious followers from various faiths can gather, meditate and worship side by side in this lush and misty tropical hill.

The pole statue  with relion prayer at each side taken from the top of the hill.

This hill is called the Hill of Love because it is where people from different religions can gather and worship side by side as a symbol of religious and peaceful harmony. Five houses of worship are here, a Catholic Church, a Christian church, a temple, a mosque and Hindu temple built on the second peak. On the first peak is a 53 meter tall white cross which can be seen even from the Boulevard beach in Manado.

The five religious house on the the top of the hill Bukit Kasih.

In addition, this place is believed to be the original place where lived original ancestors of the Minahasa tribe, Toar and Lumimuut. Their faces are carved on the hillside beneath the second peak.

Faces of Toar , the ancestor of Minahasa tribe, carved on the hill