Wednesday, February 27, 2013

Jadi Penulis, Apakah bisa?

Apakah bisa, aku menjadi penulis novel yang bisa mengharu-biru pembacanya? Aku saja tak tahan mendengar kisah nyata yang sedih. Sejak kecil aku biasa menata hidupku begitu terencana dengan cermat. Sehingga, puji Tuhan, hidupku lancar dan hampir selalu sesuai ekspektasiku.

Sebelum menikah dulu aku punya teman seorang petroleum engineer, Edward Tobing namanya. Aku lajang dan dia pun lajang. Namun dia 3 tahun lebih tua daripadaku. Pada suatu hari, selesai makan siang bersama di kantor, aku tanya padanya, mengapa dia belum menikah dan mengapa belum punya pacar. Padahal sebagai konsultan dia banyak uang dan tampang juga ganteng. Lalu dia jawab bahwa baginya hidup mengalir saja tak perlu dibuat target-targetan. Lalu dia balik kasih pertanyaan sama padaku. Aku lupa apa jawabanku persisnya. Tapi tanggapan dia atas jawabanku yang kuingat adalah bahwa ia menilai aku sangat cermat buat rencana dan target hidup seakan aku tak akan gagal atau jatuh. Jika rencana satu gagal selalu ada rencana dua dan tiga yang semuanya membuat hidupku aman.

Aku memang tidak mau hidup susah jika memang itu bisa dihindarkan dan direncanakan dengan baik. Sedemikian ekstrimmya kesannya aku sangat rasional tanpa unsur untung-untungan sama sekali. Nyaris tanpa petualangan dramatis. Yang ada hanya petualangan di alam bebas.

Percakapan ku dengan Edward Tobing itu kini sudah berlalu lebih dari 25 tahun yang lalu. Aku bersyukur pada Tuhan bahwa aku punya keluarga yang bahagia dan anak-anak yang hampir semua sudah kuliah. Nah, sekarang aku pengin jadi penulis sastra? Dari mana aku punya bahan untuk membuat cerita yang bisa mengharu-biru? Tapi aku yakin suatu ketika akan punya gaya tulisan yang khas dan memukau pembaca tanpa mngandalkan pengalaman pribadi yang dramatis seperti banyak penulis cerita-cerita dramatis itu.



- Posted using BlogPress from my iPad

Sunday, February 24, 2013

Berdua Saja Sama Tyas

Kami sudah duduk berhadapan di Red Bean Pondok Indah Mall 1. Kami cuma berdua saja jalan-jalan di hari minggu ini. Ibu Tari sedang ke Jogya untuk reuni FISIP UI 85. Kami sudah pisah dari Mbak Ginta karena mau rapat Merry Riana Campus Ambassador. Smita dari Bogor tadi kirim message mau ke Bandung layat ayah temannya yang meninggal di Bandung. Turut berduka. Silahkan kamu kunjungin temanmu di Bandung hari ini.

Kami pesan hot sour soup, nasi goreng Hongkong dan sayuran Broccoli kepiting untuk makan siang kami. Selesai pesan makanan, Tyas bicara minta dibelikan Blackberry yang ada hotspot mobile nya. Dia sudah bilang sama ibunya bahwa dia mau beli dengan uang pinjaman dan mengangsur pada ibunya. Aku tidak tegas menyetujui atau menolaknya. Memang itu sudah jadi kebutuhan dan gaya hidup anak remaja jaman sekarang. Tetapi itu juga beresiko membuat anak tidak "tough". Apakah ini khas kekawatiran orang tua produk baby boomer yang di masa kecilnya serba kurang fasilitas?

Hot sour soup dan nasi goreng Hongkong sudah datang dengan mangkok-mangkok kecilnya. Kami hanya berdua. Tyas masih menghilang mencari kado buat temannya Celine yang ulang tahun.

Aku minum dulu teh tawar panas yang sudah terhidang. Tenggorokan terasa haus. Aku belum minum sejak tadi sebelum Misa di St John Block B yang jam 10.30. Brokoli kepiting juga sudah hadir tetapi Tyas belum kembali. Aku mau mulai makan duluan saja.

Bon a petite....happy sunday...


- Posted using BlogPress from my iPad

Saturday, February 23, 2013

Anas Mengundurkan Diri

Akhirnya putusan itu datang juga. Bung Anas ditetapkan sebagai tersangka jumat malam kemarin dan sabtu siang, 23 februari 2013, tadi sekitar jam 3 an mengundurkan diri dari Ketum Demokrat.

Menarik sekali menyimak pidato pengunduran dirinya. Kalimat-kalimatnya yang bersayap namun jelas memberi kemudahan pada para penonton ( baca rakyat ) untuk berspekulasi apa yang terjadi di balik itu semua.

Bahasa tubuh Anas yang melepas jaket PD setelah pengunduran diri mengindikasikan suatu ketetapan hati. Orang bisa berseloroh sinis tentang gantung diri di Monas, tetapi pihak yang diperkirakan paling kuat dan merasa kuat bisa mulai ragu atas langkah-langkah politis yang baru saja dieksekusi.

Anas katakan ini baru halaman pertama dari suatu buku yang akan ditulis dan mengajak kita semua untuk membacanya bersama-sama. Ketika proses dalam komputer kita tak bisa kita kendalikan, kita tekan ctrl-alt-del. jika proses komputer tak juga mati, maka battere dan kabel powernya kita cabut. Namun ini adalah proses politik dan demokrasi dari suatu negara yang sedang berlangsung. Mudah-mudahan negara kita tidak berasap. Eh! Maksud saya komputer kita yang tidak jadi berasap ..:).

Kita akan punya Presiden baru di tahun 2013 ini? ...Ah! Terlalu jauh mikirnya.....negara dan rakyat tidak seperti komputer. Stay tune to VRF ....:) dan ...mari kita nikmati akhir pekan dan malam minggu kita yang masih renyah....

Hujan turun di sekitar Jakarta....yang mau kelonan dan selimutan...bocor...bocor...:)


- Posted using BlogPress from my iPad

Japanese Underground Bunker in Bukittinggi

In the second world war, Japanese won in many places in Asia. They swept out many European colonization in Asia, including Dutch in Indonesia which had been accupied by Dutch for almost 300 years. Really 300 years?? The new theory now starts arguing that.

Japanese occupation lasted during 1942 to 1945. During that period Japanese had fought against the allied forces. In 1944 the Japanese Army landed in Belawan Port, North Sumatera and marched to the South. They found Bukittinggi with its Ngarai Sianok, was an ideal and strategic place for the center of Japanese defence in Sumatera.



Lobang Jepang or Japanese underground bunker, the figure on the left, is located in the centre of Bukittinggi town, at the Panorama Garden. It is the site view to Ngarai Sianok. This site is visited either by local and foreign tourists at Sunday and the other holidays. “Lobang” is more appropriately called Japanese “Bunker”. It was established in March to June 1944 for the interest of Japanese’s army entrenchment during 2nd World War.

Lobang Jepang is created based on the instruction of Japanese’s Army Military Government (25th Army) for Sumatera region which is positioned in Bukittinggi under the command of Moritake Tanabe as a General Army of Sumatera’s entrenchment.

Seeing the hilly topography of this city, valleys and canyons, then General Toriko Tanabe ordered the construction of tunnel hole which is more popular known as “Lobang Jepang”.The establishment is done by human labor forced (Romusha Kisohoshi) on military requirement. At the beginning, it is done voluntarily, then it turned into forced labour (romusha). Many workers were imported from Java.




Since the work was done by forcing, many people died in the workplace. It was also caused by exhaustion and lack of food. When the workers rebel, they would be whipped and shot until they died.


This tunnel is made at the depth of 40 to 50 metres (underground). The lenght of this tunnel is 1470 metres which is divided into 20 (twenty) rooms; bedroom, hiding room, treatment room, kitchen, prison and ammunition repository. The design of room is deliberately made tortuous with several trap rooms. The bunker can house 1000 troops and protect the troops from as large as 500 kilogram TNT.






The Local government thought that if the interior wall of the bunker is cemented, it would strengthen the bunker against the earthquake but apparently not. The cement was cracked by the earthquake but the bunker was not.

The original wall exhibited the geological formation of the subsurface. It was from volcanism lithology. Then it can be a museum of geology as well. People could learn geology from the bunker wall but it could not now. Some of the wall is still expose and not cemented. It showed the section of quarternary volcanism that was chatacterized by the existence of pumice stones.

- Posted using BlogPress from my iPad

Pagi Yang Menggugah


Terkantuk-kantuk, antara tidur dan terjaga dalam mobil yang melaju di jalan tol dalam kota Jakarta. Alam bawah sadarku dengan halus mengugahku. Waktu menunjukkan 06:18 .

Dalam renung pagi ini aku mulai menyadari bahwa aku ada kemunduran dalam agresifitas memimpin gang geoscience. Aku mulai melihat orang lain bergerak maju sementara aku melambat. Aku harus segera memacu lagi agresifitasku. Di dunia kerja memang tak boleh lengah. Harus "keep on passion". Dan itu adalah passion di bidang profesi yang menjadi sumber penghasilan.

Geoscience adalah bidang yang aku tekuni untuk menghidupi keluargaku. Tetapi minat dan hobiku adalah sastra. Panjang ceritanya mengapa aku bisa sampai di sini. Membaca sastra adalah saat-saat yang selalu aku rindukan. Aku serasa tak ingin ketinggalan dalam membaca sastra. Dulu ketika muda aku tak punya cukup uang untuk membeli buku sastra. Kini, puji Tuhan, aku selalu punya uang untuk membeli buku. Aku merasa hobiku membeli dan baca buku terasa murah. Sehingga aku beli buku lebih banyak dari kemampuanku membaca cepat.

Sebenarnya profesi petroleum geoscience menuntut aku untuk banyak membaca. Membaca jurnal profesi dan textbook terbaru di bidang geosains eksplorasi. Irama membacaku pasang surut. Kadang membaca terus tentang geosains, kadang tentang sastra. Jika sudah terlalu banyak baca sastra aku merasa tertinggal dari teman kerjaku dan aku harus segera beralih.

Sekarang aku sudah keluar tol jagorawi menuju Sukabumi. Pagi tadi subuh aku antar perempuan yang aku sangat kasihi ke bandara Soekarno-Hatta mau terbang ke Jogyakarta. Dia mau berkumpul dengan teman-temannya mahasiswa FISIP UI.

Dia mau reuni di Jogya. Sejak 3 minggu yang lalu dia sudah minta ijin padaku dan aku sangat tak keberatan. Iapun segera pesan dan bayar tiket Air Asia Jakarta-Jogya-Jakarta.

Aku sangat senang dan mendukung dia berkumpul dengan teman-teman lamanya. Teman-teman nya di FISIP UI dulu. Aku ingin dia senang dan bisa menikmati hidupnya. Menikmati indahnya punya teman-teman lama dengan kenangan semasa mahasiswa. Dari hari ke hari aku melihatnya menjadi semakin cantik dan aku selalu rindu padanya. Aku memang merasa sangat mencintainya dan semakin ingin membuatnya bahagia.

Aku menengok ke kiri dan ke kanan. Melihat pemandangan dari jendela mobilku yang terus melaju menuju Sukabumi. Cuaca agak mendung dan dingin. Lalulintas di Ciawi masih lancar. Kutengok arlojiku, dia menunjukkan 6 lewat 45 menit. Pagi yang agak mendung. Pikiranku kembali melayang mau menemukan cara menjadi lebih agresif dalam persaingan profesi.



- Posted using BlogPress from my iPad

Tuesday, February 19, 2013

Hunting for Oil in Central Sumatera

The day was already dark when we landed in the Sultan Kasim II international airport in Pekanbaru of Riau Province. We flew from Jakarta with Garuda. I was astonished to see the new airport of Pekanbaru. I think this was the first time I came back to Pekanbaru since the new airport was constructed. The airport was amazed. Eventhough the construction was not finished yet but the atmosphere has changed a lot. This airport can compete with the one in Kuala Lumpur Malayasia.

Ten geoscientist were with us in this field trip. Most of them were the experience geoscientist who have ever worked with the central Sumatera Basin. Some of them were the team who did the seismic and reservoir modeling for the Pematang sequence in our block.

Agus Guntoro and Ali Djambak were the expert geologist of Trisakti University whom we asked to be the resource persons for us in this field trip. A seven-year uncut long hair, Agus was an expert in tectonic geology of Sumatera. While Ali Djambak was an expert in field surface geology. They brought us to many significant and typical outcrop of various geological sequence.

In my opinion, it was too late for Riau province to have such a big airport. Riau is a rich province. Rich of oil. A major US company, Chevron, or Caltex and Stanvac in the past made a lot of fortune. The Pematang-sihapas petroleum system was known to expelled 12.8 BBOE ( billion barrel oil) that had been trap in many Sihapas reservoir and had been produced in years. Central Sumatera Basin has been one of the largest oil prone basin in the world. Now, we would like to hunt for oil ini Pematang reservoir since we already produced oil from Pematang in our block with a considerable potential. Unfortunately Pematang is different to Sihapas ini reservoir character. Pematang is more tight and difficult to flow oil. It needs artificial fract to produce the oil.




Why Pematang Formation becomes an interesting object for field trip? Pematang Formation is a syn-rift sequent deposited in South Bengkalis area following the opening of Central Sumatera Basin during at Late Cretaceous to Early. Two main facies have been described based on lithological character, Pematang Sandstone, and Pematang Brown Shale. Both of Pematang sub-facies has special reservoir characteristic and also proven as hydrocarbon bearing reservoir in Malacca Strait Area. Pematang Brown Shale is also interesting as a part of Pematang Formation. It mainly acts as source rock in Malacca Strait Area since it comprise dominantly of shale. Through this field trip, we found and understood the relationship between surface and subsurface outcrops of Pematang Formation to optimize geological and geophysical study of hydrocarbon exploration in discovering a new potential source rock and reservoir rock at Bengkalis area.



We started the field trip from Pekanbaru on 15 February 2013. We went a long the road to Bangkinang and finished on 17 February 2013 in Bukittingi.

- Posted using BlogPress from my iPad.

Sunday, February 17, 2013

Ngarai Sianok Bukittinggi and Japanese Bunker

Sunday 17 February 2013. The morning was bit cool in Bukittinggi. After three days we did the geological field of Central Sumatera Basin, we spent the morning with friends visiting the Ngarai Sianok at Bukittinggi. This would the end of the field trip. We started the field trip on Friday 15 February 2013. We travelled from Pekanbaru to Bukittinggi.

In the Ngarai Sianok Bukittinggi, we visited Japanes Hole or cave. The cave was dug and constructed by the Japanes troop in the year 1944 as a bunker in the second World War. In 1944 Japanese troop landed in Belawan and soon captured Bukittinggi.

The bunker could withstand or protects the troops from a 500 TNT bomb explosion. The bunker could accommodate around 1000 troops. The Japanese troop used the Javanese romusha to dig and constructed the bunker. According to Taufik, the torist guide, It took 3 months to construct the bunker.

For us as geoscientist, Ngarai Sianok was,amazing. We coul use it as an analog to understand braided channel system configuration. We have a producing reservoir that can be understood with this Ngarai Sianok model. Our field was estimated to have 60 million barrel in place but the reservoir is very much heterogen laterally. We found different drilling result for the same reservoir in the distance of 50 meters. Different reservoir character. We imagine the reservoir is like the braided river channel within the Ngarai below. It was a stacking of braided sandstone reservoir.

From this field trip we learned how the Central Sumatera Basin was formed. The edge of the Central Sumatera Basin could be seen in West Sumatera Basin. That was why went along the West Sumatera province. We visited many typical outcrop of various geological formation that represented the composing rock of Central Sumatera Basin.





Central Sumatera Basin is one of the most prolific basin in the world that produced millionsof barrel oil. Chevron and EMP are some the big producer in this basin.



Posted using BlogPress from my iPad

Saturday, February 16, 2013

Taking a Rest in Bukittinggi

#Pekanbaru-Bukittinggi Central Sumatera Basin Field Trip

I am just lying on my bedroom in Bukittinggi. Feeling very tired after finishing our field trip. Tomorrow I will fly back to Jakarta. I wish I can have a good sleep tonight. We started our field trip from Pekanbaru on Friday 15 February 2013.



- Posted using BlogPress from my iPad

Saturday, February 9, 2013

Pasar Tradisionil Taman Alfa

Hampir 2 minggu sekali di sabtu pagi hari aku bersepeda sendiri ke pasar tradisionil. Sambil berolahraga blusukan di pasar tradisionil. Di pasar tradisonil biasanya aku beli daging kesukaanku. Tapi pagi tadi aku bersepeda dengan anak gadisku yang lagi liburan dari kuliahnya di Bogor.Selesai belanja aku baru sarapan bubur atau bihun goreng di dalam pasar.

Di dalam pasar tadisionil aku senang memperhatikan para penjual dan pembeli. Senang memperhatikan para pedagang daging yang mem "bokis" para pembelinya agar mau membeli lebih banyak dari yang diminta pembelinya. Senang melihat ibu-ibu ngeyel nawar harga sama pedagang. Kadang-kadang ibu-ibu itu berteriak ketika potongan daging kelebihan berat itu diambil lagi oleh pedagangnya.

Aku bukan ahli belanja. Kalo pulang belanja aku suka "dimarahi" isteriku karena aku katanya belanja terlalu banyak. Mungkin aku termasuk golongan yang bisa dibokis oleh tukang daging pasar tradisionil atau mungkin aku suka lapar mata....karena doyan makan.

Di pasar tradisionil, aku suka memperhatikan orang-orang yang datang dan pergi pada suatu kios. Yang sering aku perhatikan kios daging. Ada yang datang dengan sangat yakin akan apa yang akan dibeli, berapa banyak dan langsung bayar. Ada yang ragu-ragu penuh pertimbangan. Mungkin kawatir harganya terlalu mahal.

Yang menarik ketika aku lihat singkong yang baru dicabut dari tanah. Lihat singkong aku ngiler banget. Aku langsung beli 3 kilo. Murah banget kupikir harganya 2 ribu sekilo. Terbayang 2 ribu beli goreng singkong di seberang kantor cuma dapat 2 potong. Ini beli 3 kilo, sampe di rumah diomelin beli singkong banyak amat??.

Tadi pagi aku ulangi kesalahanku lagi. Itu karena aku tergiur kacang tanah bogor yang masih dibungkus tanah. Aku teringat kampungku, ingat nikmatnya kacang bogor rebus. Beli 2 kilo, sampe rumah...eh ini kebanyakan belinya....hahaha...lucu emang.

Bersepeda dan blusukan ke pasar tradisionil lama-lama jadi hobi dan refreshing tersendiri di sabtu pagi. Kadang ketika istirahat sarapan bihun kuah, bisa ikut dengerin gosip-2 yang diomongin para pedagang dengan pembeli langgganannya. Aku suka berlagak autis tapi mendengarkan gosip mereka. Mereka ngomongin mulai dari acara-acara di lingkungan Taman Alfa sampe berita politik di TV.

Tapi yang menarik di pasar tradisional Taman Alfa ini sungguh menampilkan Indonesia kecil yang pluralitas. Pedagang dari berbagai etnis bercampur, kadang terlihat saling bantu. Pembeli juga dari berbagai etnis ada di sini. Berbagai macam daging dan ikan ada di sini.

Tanpa aku sadari ternyata aku menikmati blusukan di Pasar Tradisionil.

Selamat menikmati week end bersama keluarga untuk warga VRF semua.....Kayaknya harum sop daging belanjaanku yang dimasak istriku harumnya sudah mulai menguar....membikin perutku memberontak...:)


- Posted using BlogPress from my iPad

Saturday, February 2, 2013

Misa Jumat Pertama Yang Perdana di Bakrie Tower

Terima kasih atas sambutan yang indah dan penuh semangat di awal tahun 2013. Tahun yang penuh tantangan dan harapan bagi kita semua.

Pertama-tama saya secara pribadi mau mengucapkan terima kasih atas telah berhasilnya UMKRIS menyelenggarakan Misa Jumat Pertama yang perdana di Bakrie Tower pada hari Jumat 1 February 2013 kemarin.

Bagi kami umat Katolik, menjalankan ibadah Misa Jumat Pertama adalah sangat penting bagi kehidupan rohani kami dan sangat dirindukan. Dan kami selalu mengejar kesempatan Misa Jumat Pertama di manapun kami berada. Tapi kini kami merasa sangat terlayani dan dimudahkan karena kita telah memilikinya di gedung Bakrie Tower. Selamat dan terima kasih untuk UMKRIS, semoga ini bisa berjalan terus dan memperkaya kegiatan rohani UMKRIS.

Umat beragama di Indonesia adalah khas dibanding di negara-negara lain. Di Indonesia kita hidup dalam keanekaragaman suku, agama dan keyakinan. Bahkan dalam agama yang sama pun kita bisa berbeda. Namun kearifanlokal Indonesia dalam Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan semangat kemanusiaan telah menjadikan perbedaan sebagai kekayaan dan keunggulan. Demikian juga umat Kristen di Indonesia dan di lingkungan tempat kita bekerja.

"Demikianlah Allah telah menciptakan kamu dalam berbangsa-bangsa, bersuku-suku dan berbeda-beda keyakinan agar kalian saling mengenal dan mengisi satu dengan yang lain" - itulah dulu Gus Dur selalu mengingatkan bangsa kita yang majemuk ini. Dan kebaikan Allah bisa hadir di manapun juga dan lewat apapun juga.


Kami selalu mendoakan agar para pelayan Tuhan untuk senantiasa di berkati Allah dan kita percaya bahwa kita selalu bisa menjadi teladan dan saksi kasih Kristus di tempat kita bekerja dan di manapun.

Dalam persaudaraan Kristus ini, semoga kita menjadi terang dan harapan bagi teman-teman dan masyarakat yang lelah di dalam pergulatan hidupnya. Acara dan pelayanan yang diberikan oleh UMKRIS telah menyumbangkan kekuatan rohani bagi kita yang bergulat dalam kehidupan kita.

Semoga damai dan berkat Tuhan Kita Yesus Kristus senantiasa melimpahi keluarga kita, karya kita dan cita-cita baik kita.


- Posted using BlogPress from my iPad