Wednesday, March 2, 2022

Kegagalanku menjadi gambar rupa Allah

*Rabu Abu*  2 Maret 2022 
Bacaan liturgi hari ini
Pertama Yoel 3:12-18
Kedua 2Korintus 5:20-6:2
Injil Matius 6:1-6.16-18

*Kegagalanku menjadi gambar rupa Allah*

Hari ini kita merayakan Rabu Abu sebagai awal masa puasa dan pantang dalam masa Prapaskah. Kita akan berjalan selama empat puluh hari merenungkan hidup dan kehidupan kita di hadapan Tuhan dan sesama kita. Kita berjalan menuju Paskah, hari pembebasan kita dari perbudakan dosa. 

Pada hari Rabu Abu ini kita mulai mempersiapkan batin kita agar kita layak ditebus oleh penderitaan Dia yang dari Allah dan yang mengasihi kita. Jiwa kita yang sedang tergadai oleh kegagalan kita yang jatuh ke dalam dosa, mohon agar turut tertebus di hari kemenangan Yesus atas kematian. Di masa Prapaskah ini kita mau menjalani puasa, doa, derma dan matiraga.

*Koyakkanlah hati mu, jangan pakaianmu"* kata nabi Yoel ( lih. Yoel 2:14). Bukan tata-lahir, upacara atau ritual,  yang bisa dilihat orang, melainkan sikap hati, yang mau berbalik kepada Tuhan. Itulah makna puasa, doa, derma, matiraga yang menjadi ungkapan tobat.

Sejarah manusia itu memang sejarah dosa sejak peristiwa di Taman Firdaus, Air Bah yang dihadapi oleh  Nuh, ambisi manusia dalam peristiwa Menara Babel, sampai Perang Dunia Pertama, Perang Dunia Kedua hingga kini Perang Rusia dan Ukraina, bahkan  hingga  ancaman pemusnahan dunia dengan perang nuklir…Rupanya manusia belum sadar bahwa kelaparan itu disebabkan oleh keserakahan segolongan orang yang tak mau membagi, ketidakadilan oleh yang tak mengakui hak wewenang sesama. Kemerosotan akhlak mengancam kelangsungan, keselamatan bangsa.

Kristus telah dibuat dosa di kayu salib oleh  karena kita, meskipun la sendiri sebagai Putera Allah Bapa tanpa dosa. Sebab kita manusia yang berbuat dosa, dan kita sendiri tidak mampu berbuat apa-apa untuk menebusi dosa kita. Kita tergantung dari jasa dan pengampunan Tuhan. 

Masa puasa itu tepat untuk mengakui kemiskinan dan kerapuhan kita sebagai makhluk, yang dalam segala hal  tergantung dari Allah: Hidup kita, kesejahteraan, kesehatan kita. Apalagi kita masih makhluk berdosa, yang memerlukan pendamaian; ini kita siapkan dengan doa, puasa dan matiraga selama masa Prapaskah.

Karena matiraga ini adalah disebabkan oleh demi  Tuhan   dan untuk relasi kita dengan Tuhan, tentu ini adalah ruang privat antara  kita dengan Tuhan. Tuhan  saja yang berhak untuk melihat matiraga kita. Matiraga kita adalah milik Tuhan  yang tak layak untuk dilihat atau diketahui oleh sesama kita. Terlebih jika matiraga kita ini sampai menyusahkan sesama kita. *Kita tidak ingin mengganti upah Tuhan dengan upah dari manusia barang sedikitpun,* berupa keterlihatan atau pujian oleh manusia.

Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu ( lih. MATIUS 6:16-18).

_*Doa*: Tuhan Yesus sertailah kami dengan Roh Kudus-Mu, utuslah para malaikat-Mu untuk menyertai kami di dalam perjalanan matiraga pertobatan kami, agar kami layak Engkau bebaskan dari belenggu dosa oleh penderitaan salib, wafat dan kebangkitan-Mu Yesus. @jg_arif_wibowo_

https://awibowo325blog.wordpress.com/2022/03/02/kegagalanku-menjadi-gambar-rupa-allah/

No comments:

Post a Comment