Tuesday, March 1, 2022

Apakah sungguh kita merindukan kehidupan kekal?

*Syukur penutup hari*, 🛌💤

Selasa 1 Maret 2022, Pekan Biasa ke 8 
Bacaan liturgi hari ini 
Pertama 1 Petrus: 10-16
Injil Markus 10:28-31 

*Apakah sungguh kita merindukan kehidupan kekal?*

Kalau tidak merindukan hidup kekal lalu setelah mati mau kemana? Yesus Kristus datang ke dunia untuk memberi kabar gembira yaitu kabar datangnya Kerajaan Allah dan kehidupan kekal melalui penderitaan salib, wafat dan kebangkitan-Nya. Kehidupan kekal artinya hidup bersatu dengan Allah. Di dalam masa hidup kita  di dunia ini pun kita bisa bersatu dalam keserupaan atau segambar dengan Allah, sebagaimana rencana Allah menciptakan manusia. 

Jika kita tidak merindukan kehidupan kekal tentu tidak akan bisa mengikuti Kristus. Bahkan murid Yesus, Petrus bertanya, apa upahnya mengikuti Kristus?  _"Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau."_ Lalu kami dapat apa?  ( Lih Markus 10: 28 ). 

Kehidupan kekal mensyaratkan hidup di dunia yang bersatu dalam keserupaan dengan Allah. Suatu cara hidup yang hanya berpusat dan bersandar pada Allah melalui Yesus Kristus. 

Maka Yesus menjawab pertanyaan Perus di atas :. "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, barang siapa meninggalkan rumah, saudara-saudari, ibu atau bapa, anak-anak atau ladangnya, pada masa ini juga ia akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak-anak, dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan; dan di masa datang ia akan menerima hidup yang kekal ( lih. Markus 10:29-30). 

Tuhan memberi kita karunia sarana dan kebahagiaan dalam hidup di dunia namun tidak untuk melekat pada karunia yang Tuhan berikan. Tuhan meminta kita tetap berpusat pada Allah dalam menikmati karunia Tuhan. Allah tidak hanya mau memberi *"hadiah"* karunia tetapi justru mau memberikan diri-Nya. 

Dalam mengabdi Tuhan orang tidak bisa berhitung-hitung seperti pedagang memperhitungkan untung atau pegawai menghitung kenaikan gajinya. Ada hukum yang berjalan terbalik.  Banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu ( lih. Markus 10:31).

Tidak semua yang terpanggil akan terpilih. Orang tidak bisa sekali jadi, langsung sekali pasti. Manusia harus bekerja terus, dari hari ke hari, dengan berganti-gantinya situasi, berjuang dengan tuntutan Yesus yang dipegang, tanpa kendur, tidak mundur, berusaha menjadi hamba yang terbaik, dan dalam pada itu menyerahkan segala ganjaran kepada Tuhan. 

Perjuangan ini tidak hanya tak pernah rampung, tetapi bentuk dan jalannya ditentukan oleh Tuhan setiap waktu, dan manusia sebagai pengabdi harus menyesuaikan diri. Di sini orang selaku manusia akan merencanakan, dan Tuhan yang menentukan. Yang mendapat  ganjaran, bukan yang dikejar manusia menurut cita-citanya, tetapi yang dilaksanakan sesuai kehendak Tuhan. 

Mereka yang berbangga seperti orang  Farisi, yang menghitung dan menjumlah jasa, akan ditolak, tetapi si pemungut cukai yang menyesal dan minta dikasihani, diterima baik.

Yang memberi banyak uang  dilewatkan dalam pandangan Yesus, tetapi janda yang memberikan dua peser uang, menarik perhatian-Nya, karena yang diberikan itu seluruh kehidupannya. Tuhan mempunyai penilaian sendiri. 

_*Doa*:  Tuhan Yesus, Juruselamatku, seturut sabda-Mu, "Banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu." Tuhan, jangan biarkan aku terlena oleh tawaran-tawaran semu dunia yang selalu menggoda. Ajarilah aku untuk berani berkata *'cukup'* sehingga aku dapat menemukan kesejatian hidup di dalam Engkau. Amin. @jg_arif_wibowo_
.
https://awibowo325blog.wordpress.com/2022/03/01/apakah-sungguh-kita-merindukan-kehidupan-kekal/

No comments:

Post a Comment