Rabu 09 Februari 2022 Pekan Biasa ke 5
Bacaan liturgi hari ini
Pertama 1 Raja-raja 10: 1-9.
Injil Markus 7: 14-23
*Merindukan mata air di hati kita*
Bacaan Injil hari ini bercerita tentang Yesus yang mengingatkan kita bahwa kita ini punya telinga dan bisa mendengar ( Mrk 7:16). Rupanya Yesus telah berkali-kali mengamati bahwa kata-katanya sering tidak didengar dengan baik dan tidak dimengerti. Tidakkah Yesus merasa jengkel jika sekarangpun kita mengulangi kebodohan yang sama seperti yang dilakukan orang-orang terdahulu dulu?
Yesus mengingatkan kita pada hari ini, sekali lagi : Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban? Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal ( bdk Mrk 7:18-19 ).
Hati adalah pusat hidup manusia dan tempat Allah bersemayam. Dalam hatilah terpancar kualitas hidup. Hati adalah pendorong manusia untuk membarui diri, sehingga mampu untuk memberi makna dan berguna bagi Allah dan sesama. Di dalam hatilah kita membangun relasi kejujuran dan ketulusan dengan Allah. Hati untuk menunjuk keseluruhan pribadi orang yang meliputi kehidupan batin, afektif serta kehidupan intelektual kognitif.
Yesus berkata lagi : Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya,sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan ( bdk Mrk 7: 20-22)
Seberapa besarkah kita memberi ruang pada Allah di dalam hati kita? Atau, apakah kita lebih besar memberi ruang kepada setan untuk berdiam dalam hati kita? Beranikah kita sungguh masuk dan memurnikan hati kita untuk memberi ruang semakin besar untuk Allah berkuasa dalam hati kita?
Jika kita memberi ruang pada Allah untuk merajai kita, maka hal-hal yang dari Allah lah yang akan keluar dari hati kita melalui ucapan, sikap dan perilaku. Sebaliknya pula hal yang buruk menajiskan akan keluar jika kita tak mengijinkan Allah merajai hati kita.
Yesus mengajak kita untuk melihat dasar kehidupan kita beragama, yakni hati. Yesus mau menegaskan pemahaman yang tepat dan benar tentang 'najis'. Najis itu berarti dapat merusak, meracuni, dan berakhir pada dosa. Oleh karena itu, Yesus mengajarkan kepada kita bahwa yang dikatakan 'najis' adalah segala sesuatu yang keluar dari hati, bukan yang masuk ke dalam perut manusia. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam ( hati kita ) dan menajiskan orang ( bdk Mrk 7:23).
Apakah kita merasa lebih nyaman dan tentram hanya dengan mematuhi detil-detil aturan dalam agama kita? Beranikah kita bertolak ke tempat yang lebih dalam untuk memurnikan diri dan bertemu Allah dalam hati kita?
Bertemu dengan Allah yang adalah Kasih di dalam hati kita tentulah tidak semudah dan seringan mematuhi segala detil-detil aturan agama. Karena segala sesuatu yang najis itu keluar dari hati, maka kita perlu mengolah diri kita untuk menciptakan hati yang murni, hati yang berkenan pada Allah.
Akan ada pergulatan dan pengorbanan yang "menyakitkan". Akan ada kematian dan kelahiran baru dalam diri kita. Namun ketika kita menang dan bertemu Allah di pusat hati kita, kita akan memiliki mata air kasih nan jernih. Kita akan keluar dari hati kita dengan membawa keserupaan dengan Allah.
_@jg_arif_wibowo: TUHAN Yesus aku memohon rahmat-Mu untuk mampu memurnikan hatiku agar Engkau sungguh-sungguh merajai hatiku. Engkau mampukan aku mengalirkan kebaikan bagi sesama._
.
.
https://awibowo325blog.wordpress.com/2022/02/09/merindukan-mata-air-di-hati-kita/
No comments:
Post a Comment