*Kebangkitan Yesus adalah kasih Allah yang mengalahkan kuasa dosa.*
Refleksi Paskah 17 April 2022
Hari ini kita bersukacita penuh syukur merayakan kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian-Nya. Wafat dan kebangkitan Kristus adalah pokok dan dasar iman Kristiani. Peristiwa wafat dan kebangkitan Yesus telah menggenapi sosok Mesias yang dikehendaki oleh Allah Bapa Pencipta Alam Semesta _( bdk Lukas 24:44)_. Manusia, yang jatuh ke dalam dosa sejak kegagalan Adam, menjadi tanpa daya untuk kembali layak bersatu dengan Allah.
Nabi Yesaya telah menubuatkan Hamba Tuhan yang akan mencelikkan orang-orang buta, membuat telinga orang tuli mendengar, orang lumpuh berjalan dan orang bisu bersorak sorai _( bdk Yesaya 35:5-6 )_ namun Hamba Tuhan ini juga yang dihukum bersama para penjahat, yang menderita, wafat _( bdk Yes 53:2-7; Yes 53:12; Keb 2:12-20 )_ dan dibangkitkan dari antara orang-orang mati. Dia akan bangkit dari kematian _(Mzm 16:10; 30:3)_.
Pada masa awal Yesus berkarya, Dia menyembuhkan orang sakit, mengusir setan dan membuat banyak mujizat. Sebagian masyarakat Yahudi kala itu mengharapkan dan mendorong Yesus menjadi Mesias sebagaimana yang mereka kehendaki. Yaitu Mesias dengan kekuasaan politik dan militer untuk memimpin pembebasan mereka dari penjajahan Romawi. Hal itu karena sejak kembalinya bangsa Yahudi dari pembuangan Babel, kurang lebih 500 tahun sebelum Yesus, bangsa Yahudi telah merindukan pemimpin yang dapat mengembalikan kejayaan bangsa Yahudi seperti Daud atau Salomo. Pengalaman pembuangan Babel telah membuat bangsa Yahudi ingin mematuhi Taurat Musa secara ketat dan mengharapkan Mesias yang membebaskan mereka dari belenggu penjajahan politik.
Bagi kita para pengikut Kristus, Hamba Tuhan yang dinubuatkan oleh Nabi Yesaya itu adalah Tuhan Yesus Kristus. Semua manusia telah berdosa dan hukuman yang layak bagi mereka adalah kematian: karena upah dosa adalah maut _( bdk Roma. 6:23)_. Maut yang dimaksudkan adalah keterpisahan dari Allah _(bdk. Yoh. 17:3 tentang hidup kekal)_. Karena dosa-dosanya, manusia tidak layak menerima kebahagiaan abadi di surga. Tuhan Yesus yang tidak berdosa rela menjalani penderitaan sampai mati di kayu salib, yang turun ke tempat penantian, dan untuk sementara waktu terpisah dari Allah. Ia mengalami kematian seperti semua manusia dan masuk dengan jiwa-Nya ke tempat perhentian orang mati _( KGK 632 )_. Tuhan Yesus telah rela menanggung hukuman yang seharusnya ditanggung oleh semua manusia karena dosa-dosa mereka. Karena hukumannya telah dijalani oleh Kristus, manusia dianggap benar ( atau dibenarkan) oleh Allah, dan dibebaskan dari hukuman atas dosa, serta dianggap layak mendapatkan keselamatan dan mendapat bagian dalam kemuliaan Allah dalam kehidupan abadi.
Allah menyatakan kasih-Nya dalam Tuhan Yesus. Orang yang mengasihi tidak mencari keuntungan bagi dirinya sendiri dan tidak mengharapkan pamrih atau balasan apapun dari orang yang dikasihinya. Sebaliknya, ia hanya memikirkan kebaikan orang yang dikasihinya dan rela mengurbankan diri demi dia. Allah adalah Kasih _(1Yoh. 4:8, 16)_. la mengasihi manusia: la tidak menghendaki manusia dikuasai oleh dosa dan binasa _(Yoh. 3:16)_, tetapi menghendaki mereka hidup berbahagia selamanya di surga. Terdorong oleh kasih-Nya yang begitu besar kepada manusia, Allah telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal _(Yoh. 3:16)_.
Jika seseorang manusia berpikir "Saya berbuat baik supaya saya masuk surga," sebenarnya manusia itu menganggap keselamatan sebagai hasil kerja kerasnya sendiri. Jikalau manusia dapat menyelamatkan diri-Nya sendiri, Tuhan Yesus tidak perlu datang ke dalam dunia dan menyerahkan nyawa-Nya untuk menyelamatkan mereka. Tetapi, bagi orang Kristiani keselamatan abadi atau surga adalah karunia Allah, bukan hasil kerja keras manusia. Tidak mungkin bagi manusia yang dikuasai oleh dosa dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Surga itu diberikan oleh Allah berkat karya penyelamatan yang dilakukan oleh Kristus melalui peristiwa wafat dan kebangkitan-Nya.
Setiap orang yang percaya kepada Kristus harus berani berkata seperti Paulus: "Tuhan Yesus, Anak Allah, telah mengasihi aku dan telah mati di kayu salib supaya aku bisa selamat dan menikmati kemuliaan surgawi bersama Dia."
Jikalau kita merasakan bahwa Allah telah mengasihi kita, kita pun akan tergerak untuk mengasihi Allah. Kita mengasihi Allah karena Dia lebih dahulu mengasihi kita _(1Yoh. 4:19)_. Tetapi, bagaimanakah kita dapat mengasihi Allah? Kita mewujudkan kasih kepada Allah itu dengan mengasihi sesama karena orang yang mengasihi Allah harus juga mengasihi saudaranya _(1Yoh. 4:21)_. Kasih kepada Allah juga diwujudkan dengan melawan kecenderungan untuk berdosa karena Kristus telah membebaskan manusia dari kekuasaan dosa. Karena itu, kalau kita mengasihi Allah, kita tidak akan membiarkan diri dikuasai oleh dosa.
Sepanjang sejarah, Gereja telah banyak menghadapi berbagai upaya untuk meruntuhkan iman Kristiani dengan menyangkal kebangkitan Yesus. Cerita yang mutakhir adalah kisah penemuan makam yang diduga sebagai makam Yesus dan keluarga Yesus di Talpiot, Israel. Penemuan ini dipublikasikan melalui buku oleh Simcha Jacobovici dan Charles R. Pellegrino pada tahun 2007 (Wikipedia).
Penemuan makam Yesus dijadikan alasan untuk menolak percaya kepada Yesus, menolak kebangkitan-Nya, menolak ke-Allah-an-Nya, dan lain sebagainya. Penemuan ilmiah makam di Talpiot inipun disanggah dengan argumentasi ilmiah yang lain. Perdebatan ilmiah tidak ada maknanya atau kontribusinya bagi peruntuhan iman maupun pertumbuhan iman Kristiani. Iman Kristiani tetap tumbuh dan berbuah-berlimpah sepanjang sejarah hidup manusia sejak Gereja Kristen Perdana hingga sekarang. Pertumbuhan dan buah-buah iman akan Kristus yang bangkit, tidak pernah bisa dibatasi oleh ilmu pengetahuan ilmiah atau akal budi.
Gereja juga menghargai kebebasan berpendapat. Namun bukti-bukti ilmiah tentang makam Yesus tetaplah bukan sebuah argumen yang melawan iman Gereja. Iman Gereja adalah satu keyakinan bahwa Allah mengasihi manusia tanpa batas. Kepercayaan akan kebangkitan Kristus itu telah mengalahkan kuasa Iblis _( bdk Markus 16:16-18)_.
Kesaksian para murid Yesus tentang kubur yang kosong dan yang ada hanyalah kain kafan saja, menandakan bahwa Yesus sudah bangkit _(Lukas 24:12)_. Adanya malaikat yang mengatakan bahwa Tuhan Yesus telah bangkit kepada perempuan- perempuan yang pergi ke kubur Tuhan Yesus _(Lukas 24:5-7; Matius 28:5-7)_. Kemudian Tuhan Yesus sendiri beberapa kali menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sebelum Ia naik ke surga seperti: ketika Yesus memperlihatkan tangan, kaki, dan juga lambung-Nya yang ditusuk dan makan bersama murid-murid-Nya _( Lukas 24:13-49; Yohanes 20:19-29; Yohanes 21:1-14)_. Yesus menampakkan diri kepada mereka secara nyata, bukan imajinasi, kepada para murid. Rasul Paulus juga mengatakan bahwa selain kedua belas murid-Nya dan semua rasul, Yesus juga menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus orang dan juga telah menampakkan diri kepada Paulus _(I Korintus 15: 6 dan 8)_.
Pada saat Tuhan Yesus menampakkan diri, hal tersebut menyatakan bahwa Ia telah bangkit. Ia memiliki otoritas atau kemenangan atas kematian. Pusat dari fakta atas pemberitaan kebangkitan-Nya adalah ketika Kristus menampakkan diri. Jadi, semua bukti dan kesaksian tersebut mematahkan tuduhan dan pendapat yang menentang kebangkitan Yesus. Paskah kita adalah kebangkitan Yesus dari alam maut bukti kemenangan Kristus atas Iblis. Paskah adalah perayaan kasih Allah yang setia dan tanpa batas pada manusia. *Selamat Paskah, Amin*
_@jg_arif_wibowo:renugan_Minggu_Paskah_Pagi_17April2022_
https://awibowo325blog.wordpress.com/2022/04/16/kebangkitan-yesus-adalah-kasih-allah-yang-mengalahkan-kuasa-dosa/