Sunday, October 31, 2010

Sejarah Tanah Kutai ( 9 )

Dari tujuh turunan itu, terdapat Kerincing bin Salong — gelar Nala Mayang – beristrikan Tidok binti Seta. Mereka melahirkan enam anak, yakni Ugeng, Said, Mas alias Sumik, Engkeh, Lamah dan Jamal. Dan, melalui Jamal itulah tetesan darah biru Labok atau Maharaja SPA Iansyahrechza Fachlevie Wangsawarman terlahir. Labok memiliki zuriat paling tertinggi sehingga pantas menjadi Kepala Adat Besar RI itu.

Disebutkan, Jamal sendiri mulanya punya anak perempuan bernama Dedong yang diperistri Bone bin Sampo – sepupu sekali Rongge, gelar Suta Kanan – di Kota Bangun. Lantas Dedong melahirkan sepuluh anak, yakni Hajjah Rohani Bombay, Usman, Bakri, Borhan Ibor, Maskoer, Anuar B, Ifah, Masfah, Idariansyah Pidoy dan Abdul Hamid.

Masfah dan Abdul Hamid tak punya keturunan. Hj Rohani Bombay sendiri bergelar Mahaputri Sri Nala Marta Dewi. Ia bersuamikan Amer dan melahirkan tujuh anak, yakni Ahmid, Jamli, Aliansyah, Hanafi, Sabran, Rusdiana, dan Aswar Bueng. Lantas Usman yang beristri Juyah dan Timah melahirkan Rustini, Mohdar, Nyok, Jainal dan Iriani. Bakri yang beristri Diok (Tuana Tuha) melahirkan anak seperti Kartini, Suryadi, Artinah, Sapri (gelar Pangeran Srinala Wangsa Indra), Rusniah, dan Ratnawati (gelar Mahaputri Mayang Nila Dewi), Endang dan Saniah.

Borhan Ibor dengan gelar Pangeran Srinala Nata Kusuma beristrikan Badriah (gelar Mahaputri Srinila Purna Dewi) melahirkan Saidi, Sahruni, Hadri, Astuty, Rahmadi (gelar Pangeran Srinala Mangku Negara), dan Mulyadi (gelar Ni Raden Nala Kusuma Negara). Sedang Maskoer yang bergelar Pangeran Srinala Prabu Wangsa Warman yang beristrikan Rakni (gelar Mahasuri Srinila Dewi Gari) melahirkan delapan anak.

Delapan anak Pangeran Srinala Prabu Wangsa Warman itu adalah Sadeli (gelar Pangeran Srinala Wangsaragen), Fathul (gelar Pangeran Srinala Wangsayuda), Indar Nur Aini (gelar Mahaputri Srinila Kumala Dewi), Azis (meninggal), Muraini (gelar Pangeran Srinala Wangsa Warman), Murniwati (gelar Mahaputri Srinila Ratu Kumala), A Iansyahrechza Fachlevi (gelar Maharaja Srinala Pradhita Wangsawarman), dan Iliansyah (gelar Pangeran Srinala Wangsaperdana).




Melihat sejarah di atas, urai Hermawan, maka gelar Kebangsawanan adalah hak dari kerabat Kerajaan Kutai Martapura. Sebab, di dalamnya terdapat muatan pelestarian tata nilai adat istiadat dan budaya. “Tak heran, kalau seorang Labok dengan jabatan Kepala Lembaga Adat Besar di Muara Kaman dan Kepala Adat Besar RI itu merupakan jabatan secara Kelembagaan dan Keorganisasian. Ada pun gelar kebangsawanan yang digelarnya sepanjang para kerabat Kerajaan Kutai Martapura sepakat atas kerapatan Dewan Adatnya itu merupakan Haknya Kerabat,” katanya mengakhiri perbincangan.

Di bagian lain, Maharaja Srinala Sukran Wangsa Kusuma Mangku Adat melihat, sosok Labok atau Maharaja Srinala Pradhita Alpiansyahrechza Fachlevie Wangsawarman merupakan tokoh yang kharismatik. “Walau pun usianya relatif muda, dan saya lebih tua, saya sangat kagum dan patut menaruh hormat kepadanya. Dialah satu-satunya putra dari Muara Kaman yang patut dijadikan tauladan pemuda masa kini,” ucap Maharaja Srinala Sukran ketika dijumpai di daerah Liang Buaya, Muara Kaman.

Di mata Sukran, Labok adalah sosok yang cerdas, pandai, punya ilmu pengetahuan dan berwawasan luas dalam kepemimpinan. “Dia juga piawai, mudah bergaul, dan bisa menempatkan diri dalam suasana apa pun. Perilakunya sopan dan bersahaja, termasuk bertutur kata yang santun, membuat lawan bicaranya selalu senang dengannya,” timpal Maharaja Srinala Sukran, seraya mengimbau kepada semua pihak kalau menilai seseorang jangan hanya dari satu sisi saja. “Negara kita ini adalah berazaskan Pancasila dan rakyatnya berhak berkarya buat bangsanya sendiri.

Sejarah Tanah Kutai ( 8 )

Sosok Labok yang terpilih sebagai Kepala Adat Besar RI itu diyakini memang termasuk turunan Raja Mulawarman di Muara Kaman, Kukar.


TEKA TEKI gelar kebangsawanan Labok alias Maharaja Srinala Praditha Alpiansyahrechza Fachlevie Wangsawarman mulai terkuak. Setidaknya, dua tokoh berpengaruh dari garis keturunan Raja Mulawarman di Muara Kaman, Kukar, angkat bicara. Labok yang diangkat jadi Kepala Adat Besar RI itu diakui PAR (Pangeran Aji Raden) Hermawan Wiranata, pemerhati LAI (Lembaga Adat Indonesia) dan Maharaja Srinala Sukran Wangsakusuma Mangku Adat memang termasuk turunan Raja Mulawarman yang pantas dikagumi.

Dua tokoh itu perlu mengungkap silsilah Labok, guna menjawab keragu-raguan sejumlah pihak, termasuk Karo Humas Setprov Kaltim, Zairin Zain dan pemerhati sejarah lainnya. Harapannya, dengan mengetahui silsilah Maharaja SPA Iansyachrechza Fachlevie Wangsawarman alias Labok, maka semuanya jelas siapa sebenarnya penerus Raja Mulawarman yang pernah berjaya pada zamannya itu.

Hermawan menguraikan, sejarah telah mencatat Kerajaan Hindu Tertua di Indonesia adalah Kerajaan Kutai Martapura dengan Rajanya Mulawarman. Kerajaan ini berpusat di Muara Kaman, Kabupaten Kukar, Kaltim. Tanpa memandang sederhana untuk menilai sejarah — apalagi sejarah kerajaan – logika berpikir pun harus universal. “Kalau kita menapaki sejarah hari ini, tentu tak lepas sejarah masa lalu, dan masa datang. Menilai sejarah pun harus obyektif, harus berdasarkan fakta dan data yang didasari analisa dan kajian, baik di atas meja atau pun di lapangan,” ungkapnya melalui siaran pers kepada BONGKAR!

Ia menyebut, kalau ada kerajaan pasti ada Raja, Rakyat, Istana dan lain sebagainya. Nah, kerajaan Kutai Martapura yang dimulai tahun 350 – 1605 M, memang ada. Proses pembuktiannya dibuktikan dengan peninggalan sejarah berupa tulisan Prasasti Yupa. “Dalam Prasasti Yupa itu ada dua tulisan yang dibahas dalam bahasa Sanskekerta, dan lima tulisan lainnya dibahas dalam bahasa Inggris,” ujarnya.

Seperti apa silsilahnya? Ia menceritakan, era tahun 1900, wilayah Muara Kaman menjadi Districk Hoofd masa penjajahan Belanda. Kepala wilayahnya sendiri diangkat dari kerabat Raja-raja dari Kutai Kartanegara. Sedang kerabat Kerajaan Kutai di Muara Kaman hanya menjadi Kepala Kampung. Dan, dalam catatan keluarga tersusun silsilahnya adalah Maja, gelar Nala Raja Tuha bin Danda, gelar Nala Guna. Mereka melahirkan tujuh turunan, yakni Salong, gelar Nala Mayang, disusul Tapa, Tira, Seta, Salar, Dita, dan Dira.

1. Salong, gelar Nala Mayang bin Maja, gelar Nala Raja Tuha melahirkan 4 orang anak. 1. Bendul, gelar Jaya Kerana (belum diketahui keturunannya), 2. Kerincing. 3. Selat, 4. Nai (belum diketahui keturunannya).

2. Tapa bin Maja, gelar Nala Raja Tuha melahirkan 1. Moyah, 2. Bunggek, 3. Biyah alias Mang dan 4. Ali.

3. Tira bin Maja, gelar Nala Raja Tuha melahirkan 1. Kamew, 2. Semar, 3. Pindok.

4. Seta bin Maja, gelar Nala Raja Tuha melahirkan 1. Kader, 2. Tidok, 3. Nyombet, dan 4. Amsa.

5. Dita bin Manja, gelar Nala Raja Tuha melahirkan Uwon. (anak tunggal, tak ada saudara).

6. Salar bin Maja, gelar Nala Raja Tuha melahirkan 1. Ipil, 2. Mamat, 3. Yew dan 4. Kepang.

7. Dira bin Maja, gelar Nala Raja Tuha melahirkan 1. Pangeran Perdah, 2. Kompal, 3. Lagok.

 
 
BERSAMBUNG

Sejarah Tanah Kutai ( 7 )

Dan Kesempatan ini digunakan oleh pihak Pemerintah Inggris mengirim Bill Dalton ke Kutai guna mengadakan penyelidikan dengan motib sebagai Ahli Antropologi yang meneliti daerah Kutai selama 15 bulan yakni pada tahun 1827 – 1828. Hingga laporan ini memancing keinginan pemerintah Inggris untuk memperkuat hubungan ke kutai dan pada bulan februari 1844 pemerintah Inggris mengirim ekspedisi yang dipimpin oleh Jhon Erskine Murray dengan tujuan untuk memonopoli perdagangan dan ekspedisi ini berakhir dengan peperangan antara Kutai dan Inggris dan melibatkan perampokan atas kapal dagang Belgia sehingga menjadi perhatian dunia yang mana beritanya ditulis pada surat kabar harian Hongkong dan belanda merasa berhak untuk mengambil tindakan atas perkara tersebut karena Belgia menuntut ganti rugi kepada pihak belanda, yang bertanggung jawab atas perlakuan dari Pasukan Kesultanan Kutai. Sehingga pada bulan april 1844 Belanda mengirim 2 buah kapal tempur bernama The Anna dan The Young yang dibawah komando Letnan Laut I T Hoof yang menembaki Kota Samarinda sampai Kota Tenggarong sehingga Ibukota Kesultanan Kutai ini dibumi hanguskan Istana dan Mesjidnya terbakar dan pimpinan perang Kutai Kalamenteri Awang Long gelar Ni’Raden Sujidiselerong alias Pangeran Ariyo Senopati meninggal dunia terkena runtuhan benteng dari kayu ulin.  Sehingga Aji Sultan diungsikan ke Kota Bangun dan akhirnya takluk kepada Pemerintah Belanda sesuai pakta perjanjian Tepian Pandan Tracktat yang isinya menyatakan kedaulatan penuh ditangan Pemerintah Belanda Aji Sultan diangkat berdasarkan Besluit oleh Pemerintah Kerajaan Belanda dan menjalankan pemerintahan atas perkenan Kanjeng Gubernur Belanda di Batavia sehingga kekuasaan penuh berada ditangan pemerintah belanda yang memberikan Gelar Lider, Niu Van Oranje Nasau kepada para pembesar Kesultanan Kutai, dan sampai pada pemerintahan penjajah Jepang Kesultanan mengabdi Pada Jepang dan Mendapat Gelar Khoti dan Indonesia merdeka Kekuasaan Kesultanan benar benar dihapuskan pada tanggal 1 Januari tahun 1960 dan baru di hidupkan Kesultanan ini pada tahun pada tanggal, 22 september 2001 dengan di Tabalnya Aji Pangeran Adipati Praboe Anoem Suryadiningrat dengan gelar Aji Sultan Salehuddin II dan tidak mempunyai hak memerintah hanya sebagai pemangku adat atau pelestari budaya Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan sama halnya pada tanggal sebelumnya yakni tanggal 3 September 2001 di Muara Kaman didaulatnya A.IANSYAHRECHZA.F gelar Maharaja Srinala Praditha Wangsawarman sebagai Pemangku Kerajaan Kutai Mulawarman sebagai pewaris dan pelestari budaya Kerajaan Kutai Martapura sekali gus Kepala Adat Besar Kec. Muara Kaman. Inilah perjalanan panjang Kutai dari Masa Kemasa. Mari kita belajar dari sejarah dan bukan kita membuat sejarah namun sejarah itulah yang membawa kita pada masa-dan ruang serta waktunya.(MK)

Sejarah Tanah Kutai ( 6 )

Pada tahun 1778, pemuka Bugis mengutus Nachoda Labai dan adiknya La Made Daeng Punggawa disertai Tuan Sajid Alwi bin Hosen Al ‘mardjak berangkat ke Wajo guna berjumpa dengan Peta Cakurdi alias Aji Imbut dan rombongan ini tiba pada tahun 1779, disambut oleh Aji Imbut. Dan dalam tahun 1780 Aji Imbut berada di Segara (Samarinda seberang), disebut Mangku Jenang dan disitulah Aji Imbut di Daulat menjadi Sultan dengan gelar Aji Sultan Muhammad Muslihuddin yang memberikan perintah kepada Mangkubumi Ni’Raden Perbangsa untuk menangkap Aji Kado gelar Aji Sultan Muhammad Aliyiddin dan dijatuhi Hukum Krenet (Mati Tanpa Mengeluarkan Darah), pada tanggal, 22 September 1782 atas perkarsa Mangkubumi Ni’Raden Bangsa, Perdana Menteri Pangeran Masjurit dan Pua Ado Latodjeng Daeng Petta serta La’made Daeng Punggawa serta atas perkenan Pembesar Kerajaan Kutai Martapura yang menjadi Kepala Suku Kedang Lampong yakni Sri Mangku Jagat dan Sri Mangku Setia diperkenanlah Aji Sultan Muhammad Muslihudin Membangun Kota di Sebelah Hilir Tepian Pandan dan oleh orang Bugis Kota ini dinamakan Tangg-Arung, yang kelamaan menjadi Tenggarong sekarang.


Hal yang sangat membuat Kutai semakin tak menentu atas kekuasan De-Paktonya dikarenakan berdasarkan Surat perjanjian Kompeni Belanda dan Sultan Banjar yakni Sultan Tamjidillah II di tahun 1787, menyatakan bahwa Kutai diserahkan kepada pihak Belanda maka atas dasar itulah Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura tidak membayar upeti Kebanjar Masin melainkan harus membayar pajak kepada pemerintah Kompeni Belanda, namun atas dasar perjanjian Belanda dan Inggris tertanggal, 29 Mei 1809, Pemerintah Inggris meminta agar Belanda meninggalkan Banjarmasin karena kekuasan diserahkan pada pemerintah Inggris dan baru pada tahun 1812, A. Hare sebagai Residen berkedudukan di Banjarmasin menandatangai kontrak dengan sultan Banjar.

Pada tahun 1814 diadakan perjajian dalam Converensi Van London, yang mengakibatkan pada tanggal 1 Januari 1817 Sultan Kutai membuat perjanjian baru dengan pemerintah Belanda didasari bahwa Sultan Banjar telah menyerahkan kembali Kutai kepada Belanda perjanjian ini ditandatangani oleh kedua belah pihak Aji Sultan Muhammad Salehuddin selaku Sultan Kutai dan Van Bukholz selaku Pemerintah Belanda yang mengangkat seorang Civet Gezeg Hebber bernama H. Van Dewell sebagai Asisten Residente berkedudukan di Kutai dan pengangkatan ini tertulis pula dalam naskah perjanjian tahun 1825 yang ditandatangani oleh Aji Sultan Muhammad Salehuddin dengan G. Muller selaku Residen berkedudukan di Banjarmasin atas nama Pemerintah Kerajaan Belanda. Dalam tahun itu juga G. Muller mengadakan perjalanan ke pedalaman dan sehingga adanya nama pegunungan Muller di Kalimantan dan atas ketidak senangan rakyat kepada pihak penjajah maka Muler di bunuh di Muara Kaman hal ini dilaporkan oleh H. Van Dewell dan S.C. Knappert kepada Pemerintah Kerajaan Belanda yang pada saat itu sibuk dengan perlawanan Perang Di Ponegoro di Jawa.

BERSAMBUNG



Saturday, October 30, 2010

Sejarah Tanah Kutai ( 5)

Perhara tetap menimpa Kutai dan walapun Aji Kiji Pati Jaya Perana telah menamakan Kerajaanya Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan membuat Kitab Panji Selaten dan Beraja Niti (Maharajaniti) yang merubah dewan Ponco prabu dan Aji Sapta dengan Dewan Perwalian terdiri dari Mangkubumi, Perdana Menteri dan Oria Menteri, Kala Menteri dan Asma Menteri, tapi tetap saja kemelut melada kerajaan ini, dan pada tanggal, 7 Nopember 1635, tujuh buah kapal terdiri dari 5 kapal pemburu dan 2 buah kapal Belanda lainya memasuki Sungai Mahakam dipimpin oleh Kapten Grit Thomassen Pool. Dan Baru pada tanggal, 18 Nopember 1635 terjadi perundingan antara Belanda dan Kutai dan isi perundingan tersebut ditulis dalam bahasa Belanda sebagai berikut :

“In het vervolg aijk aan de javanen makassaren en andere vreemde handelaarste ontzeggen. De vrije on Belemmerde handel in zijn landen alleen aan de banjareen en nederlaners, met uitsluiting van alleandre natlen te vergunnen.”

Perjanjian ini ditandatangani oleh pihak Belanda dan Kutai tertanda Adji Pengeron Cinom Pansegy Anoemdappa Ingh Martadipoera dan Onderkoopman Pieter Pietersz dan perjanjian ini mengalami stage selama 22 tahun karena pada tahun 1638, Rakyat Kesultanan Banjar menyerbu benteng VOC dan pada tahun 1668 atas perkenan Sultan Banjar member ijin pada orang Bugis untuk menetap di Kutai hal ini terkait dengan permintaan dari Mangkubumi Raja Goa Kraing Patinggalon terhadap Pua Adi yang membangun pemukiman di Mangku Jenang dalam wilayah Kutai. Dan dalam tahu 1671 Kompeni Belanda mengirim utusan ke Kutai bernama Kapten Paoeloes De Bock namun tidak mendapat simpati dan baru pada tahun 1673 diutuslah Kapten Nachoda Van Heys sehingga pada tanggal 23 Desember 1675 Kapten Nachoda Van Heys menyampaikan laporan ke Pemerintah Kerajaan Belanda isisalinanya sebagai berikut :

“Orang Kutai itu jahat, mereka punya benteng serta kapal-kapal sedalam 10-20 kaki, mereka menembaki dari pinggir benteng yang dilakukan oleh sekitar 200 prajurit yang mengakibatkan kerugian pada VOC.”

Dalam tahun 1686, Aji Pangeran Majakusuma bersama Raja Pasir berangkat ke Makasar dengan tujuan mempererat hubungan dikutai pemerintahan dipegang oleh Aji Ragi gelar Aji Ratu Agung dan tahun 1700 M adik Aji Ragi bernama Aji Mangkurat gelar Aji Pangeran Adipati Tua Ing Martadipura dinobat menjadi Raja Kutai dan didalam tahun 1705 Raja Kutai tersebut melangsungkan perkawinan, dengan Anak Karaeng Baturombo Raja Wajo sehingga pada tahun 1730 orang Bugis Wajo dipimpin Petta Sebenggareng dan Pangeran To Rawei diberi ijin oleh Aji Mangkurat membuka pemukiman diseberang Mangku Jenang dan Menjadi Kota Samarinda sekarang.

Dalam Tahun 1738, Aji Kado yang merupakan anak keturunan dari Maharaja Kutai Martapura yang diperisteri oleh Meruhum Pamerangan mengadakan Kudeta dan merebut kekuasaan dari Aji Sultan Muhammad Idris yang diihtiarkan dibunuh di Tanah Wajo, dan atas desakan dari Aji Kado yang juga mengambil isteri Aji Sultan Muhammad Idris dan memangku anak tirinya bernama Aji Imbut, dan Aji Intan diaberdalih untuk diangkat menjadi Aji Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dengan gelar Aji Sultan Muhammad Aliyiddin yang sempat berkuasa selama 42 tahun dan pusat pemerintahan Kutai di Pamerangan (Jembayan sekarang), sehingga orang-orang bugis yang patuh dengan Aji Sultan Muhammad Idris mencari cara agar dapat menaklukan Aji Sultan Aliyiddin (alangkah sayang nama Sultan ini tidak dimasukan dalam Silsilah Kesultana walaupun berkuasa selama 42 tahun dikarenakan dia berdarah Kerajaan Kutai Martapura), maka atas ihktiar orang bugis akhirnya pada tahun 1752 Poa Ado (Puak Adi) bernama La Sawedi Daeng Sitebba mendapat dukungan dari Dato Tan Perana lela sebagai pimpinan Bajak Sulu Kebuntalan dari Filipina yang dibiarkan merampas harta Kerajaan Kutai di Pamerangan, sehingga Aji Sultan Aliyiddin meminta Bantun dari Belanda tetapi Belanda sedang dalam peperangan dengan Kesultanan Berau.

BERSAMBUNG

Sejarah Tanah Kutai ( 4 )

Dewan Ponco Prabu adalah Dewan Lima Raja yang mempunyai hak atas mengatur kebijakan dalam roda pemerintahan dibawah naungan Raja Wilwatita yang merupakan Kerajaan Kecil dalam persekutuan Negara Majapahit dewan ini diketuai oleh Aji Maharaja Sakti dan beranggotakan antara lain : 1. Aji Maharaja Sakti, 2. Aji Maharaja Suradiwangsa, 3. Aji Maharaja Indrawangsa dan 4. Aji Maharaja Darmawangsa adapun Dewan perwalian Aji Sapta yng bertugas dalam menyelenggarakan siding-sidang di kepalai oleh Aji Maharaja Sakti dan beranggotakan 1. Puncan Karna, 2. Aji Maharaja Suradiwangsa, 3. Aji Maharaja Indrawangsa dan 4. Aji Maharaja Darmawangsa, 5. Aji Raja Putrid dan 6. Aji Dewa Putri. Sejak itulah kekuasaan Kerajaan Kutai Martapura tidak mendapat pengakuan sebagai wilayah Kerajaan Majapahit dikarenakan Maharaja Indra Mulia dari Muara Kaman, tidak mau tunduk dan takluk dibawah Kekuasaan Kerajaan Majapahit dan atas dasar tersebut Kerajaan Kutai Martapura ini pula memiliki hak penuh dalam negaranya dikarenakan keinginannya yang keras dalam mempertahankan kedaulatan dan tidak ingin dijajah oleh pihak Majapahit.

Pada Masa kedatangan Mubalik dari penyiar Agama Islam awalnya datang ke Sulawesi kekerajaan Goa dan Bone dan terus Nusa Tenggara dan ke Kalimantan melalui jalur Perdagangan. Kesultanan Banjar di Kalimantan Selatan yang bersekutu dengan Kesultanan Demak menyerbu darah Kutai dan secara de-Fakto Kutai menjadi wilayah taklukan Sultan Banjar hal ini terjadi dijaman pemerintahan Aji Mahkota dan agama Islam terus berkembang dan dalam pemerintahan Kutai harus membayar upeti kepada Sultan Banjar dan telah Melepaskan hubungan biletral dengan Kerajaan Majapahit yang sudah melemah oleh Kekuasaan Kesultanan Demak dan dijaman Pemerintahan Aji Mahkota sampai Aji Dilagar Mubalik bernama Datuk Ribadang gelar Dato Tunggang Parangan atau Syeikh Abdul Kadir Khotib Tunggal telah menetap dikutai guna menjadi Mufti merangkap Qadi pada tahun 1410 M.

Dampak perkembangan agama Islam membuat persaingan ketat antara Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman dan Kutai Kartanegara di Jahitan Layar, atas bantuan dari Sultan Banjar dan Penyiar Islam mereka melakukan Kudeta atas Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman, Kerajaan ini diserang dengan pasukan tentara laut yang dipimpin oleh 3 orang pembesar Kutai Kartanegara antaranya Aji Kijipati Jaya Perana dan Aji Kijipati Senja dan Aji Kijipati Mangkuyuda dan dibantu oleh Hulubalang Labda dan Tuan Kucang mereka menyerbu benteng Kota Martapura yang merupakan pusat peradapan Agama Hindu pertempuran ini berlangsung dari tahun 1603 M, dan berakhir pada tahun 1605 M, Karena Kematian dari Tiga Raja Sekali Nobat yankni Maharaja Dermasetya, Maharaja Setiayuda dan Maharaja Setiaguna, dan penaklukan ini membuat kelumpuhan total system pemerintahan Kerajaan Kutai Martapura yang dikemudian hari diketahui bahwa para bangsawan yang selamat banyak melarikan diri ke pedalaman seperti Perian, Lebak Mantan dan Lebak Cilong serta ke Sendawar dan ke Gunung Kombeng di Wahau, karena disitulah banyak diketemukan jejak-jejak peradapan hindu dan budha dijaman Kerajaan Kutai Martapura yg berpusat di Muara Kaman dan dimuara Kaman ditempatkan seorang Syeikh Muhammad Suleman yang kawin dengan Putri Niradiah Keturunan Raja Mulawarman di Sabintulung dan Menurunkan Sarifah Kencana dan Makam mereka inilah dianggap keramat di Muara Kaman.


BERSAMBUNG

Sejarah Tanah Kutai ( 4 )

Dewan Ponco Prabu adalah Dewan Lima Raja yang mempunyai hak atas mengatur kebijakan dalam roda pemerintahan dibawah naungan Raja Wilwatita yang merupakan Kerajaan Kecil dalam persekutuan Negara Majapahit dewan ini diketuai oleh Aji Maharaja Sakti dan beranggotakan antara lain : 1. Aji Maharaja Sakti, 2. Aji Maharaja Suradiwangsa, 3. Aji Maharaja Indrawangsa dan 4. Aji Maharaja Darmawangsa adapun Dewan perwalian Aji Sapta yng bertugas dalam menyelenggarakan siding-sidang di kepalai oleh Aji Maharaja Sakti dan beranggotakan 1. Puncan Karna, 2. Aji Maharaja Suradiwangsa, 3. Aji Maharaja Indrawangsa dan 4. Aji Maharaja Darmawangsa, 5. Aji Raja Putrid dan 6. Aji Dewa Putri. Sejak itulah kekuasaan Kerajaan Kutai Martapura tidak mendapat pengakuan sebagai wilayah Kerajaan Majapahit dikarenakan Maharaja Indra Mulia dari Muara Kaman, tidak mau tunduk dan takluk dibawah Kekuasaan Kerajaan Majapahit dan atas dasar tersebut Kerajaan Kutai Martapura ini pula memiliki hak penuh dalam negaranya dikarenakan keinginannya yang keras dalam mempertahankan kedaulatan dan tidak ingin dijajah oleh pihak Majapahit.

Pada Masa kedatangan Mubalik dari penyiar Agama Islam awalnya datang ke Sulawesi kekerajaan Goa dan Bone dan terus Nusa Tenggara dan ke Kalimantan melalui jalur Perdagangan. Kesultanan Banjar di Kalimantan Selatan yang bersekutu dengan Kesultanan Demak menyerbu darah Kutai dan secara de-Fakto Kutai menjadi wilayah taklukan Sultan Banjar hal ini terjadi dijaman pemerintahan Aji Mahkota dan agama Islam terus berkembang dan dalam pemerintahan Kutai harus membayar upeti kepada Sultan Banjar dan telah Melepaskan hubungan biletral dengan Kerajaan Majapahit yang sudah melemah oleh Kekuasaan Kesultanan Demak dan dijaman Pemerintahan Aji Mahkota sampai Aji Dilagar Mubalik bernama Datuk Ribadang gelar Dato Tunggang Parangan atau Syeikh Abdul Kadir Khotib Tunggal telah menetap dikutai guna menjadi Mufti merangkap Qadi pada tahun 1410 M.

Dampak perkembangan agama Islam membuat persaingan ketat antara Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman dan Kutai Kartanegara di Jahitan Layar, atas bantuan dari Sultan Banjar dan Penyiar Islam mereka melakukan Kudeta atas Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman, Kerajaan ini diserang dengan pasukan tentara laut yang dipimpin oleh 3 orang pembesar Kutai Kartanegara antaranya Aji Kijipati Jaya Perana dan Aji Kijipati Senja dan Aji Kijipati Mangkuyuda dan dibantu oleh Hulubalang Labda dan Tuan Kucang mereka menyerbu benteng Kota Martapura yang merupakan pusat peradapan Agama Hindu pertempuran ini berlangsung dari tahun 1603 M, dan berakhir pada tahun 1605 M, Karena Kematian dari Tiga Raja Sekali Nobat yankni Maharaja Dermasetya, Maharaja Setiayuda dan Maharaja Setiaguna, dan penaklukan ini membuat kelumpuhan total system pemerintahan Kerajaan Kutai Martapura yang dikemudian hari diketahui bahwa para bangsawan yang selamat banyak melarikan diri ke pedalaman seperti Perian, Lebak Mantan dan Lebak Cilong serta ke Sendawar dan ke Gunung Kombeng di Wahau, karena disitulah banyak diketemukan jejak-jejak peradapan hindu dan budha dijaman Kerajaan Kutai Martapura yg berpusat di Muara Kaman dan dimuara Kaman ditempatkan seorang Syeikh Muhammad Suleman yang kawin dengan Putri Niradiah Keturunan Raja Mulawarman di Sabintulung dan Menurunkan Sarifah Kencana dan Makam mereka inilah dianggap keramat di Muara Kaman.


BERSAMBUNG

Friday, October 29, 2010

Sejarah Tanah Kutai (3 )

Dari nama antara Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman dan Kesultanan Kutai Kartanegara di Tenggarong, membuat kita lebih dapat memahami bentuk dan teori beririnya Kerajaan Kutai bahkan sangat jelas bahwa Kerajaan Kutai Martapura ini berada di wilayah pedalaman sungai Mahakam bermula di abad ke 4 M, sedangkan Kesultanan Kutai Kartanegara baru ada dimulai abad ke 13 M, bahkan sejak kurun waktu 14 abad Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman ini memiliki hak secara De-Jure dan De-Fakto dalam pemerintahan sebagai Negara Berdaulat penuh tanpa pernah menjadi bawahan dari Negara Kerajaan Manapun hal ini berlangsung dari Tahun 350 M-1605 M, sedangkan Kesultanan Kutai Kartanegara ini tidak memiki hak De-Fakto hanya memiliki hak De-Jure saja hal ini dibuktikan bahwa dinyatakannya dalam tambo bahwa didaerah pesisir pantai Timur Kalimantan dipimpi oleh seorang Batara dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit, Batara ini sekaligus sebagai Pimpinan Militer dan Merangkap Hamangkubumi Wilayah setingkat Adipati, yang menguasai daerah Hulu Dusun, Jahitan Layar Sambaran dan Binalu yang dipusatkan di Jahitan Layard an Batara Tersebut adalah Raden Kusuma pembesar dari Keturunan Raja Singasari.

Aji Batara Agung Dewa Sakti memperisteri anak Seorang Adipati Indu Anjat di Batang Lunang daerah Perian Sekarang, dan Putri tersebut adalah Keponakan dari Seorang Petinggi Hulu Dusun bernama Babu Jaluma, dan Putri Tersebut anak Dari Serading Dipati bernama Karang Melenu dan Melahirkan Aji Paduka Nira, yang dalam tahun 1325 Aji Paduka Nira Menggantikan Aji Batara Agung Dewa Sakti sebagai Batara karena Aji Paduka Nira Berhasil Menaklukan daerah Buntang, Santan, Gunung Kemuning, Pandan Sari, Tanjung Semat, Rinjang, Rihang, Panyuangan, Senawan, Sangan-sangan, Kembang, Sungai Samir, Dundang, Manggar, Tanah Habang, Susuran Dagang, dan Tanah Malang, Pulau Atas, Karang Asam, Karang Mumus, Sambumi, Sembakung, Sabuyutan, Mangku Palas yang semula Negeri Wilayah Kerajaan Kutai Martapura yang berpusat di Muara Kaman. Dan Aji Paduka Nira berhasil Pula Melarikan Putri dari Kerajaan Kutai Martapura bernama Putri Indra Perwati Dewi, Putri ini sedang berada ke Mengkaying di Bungalo dan diambil Isteri oleh Aji Paduka Nira yang bergelar Aji Batara Agung Dewa Sakti dan Putri Indra Perati Dewi anak Maharaja Nala Guna Perana Tungga diberi Gelar Aji Paduka Suri atau Mahasuri Dibengalon.

Pada Tahun 1360 Aji Batara Agung Paduka Nira Mininggal Dunia dan Meninggalkan 7 Orang Putra Putri dari hasil perkawinanya dengan Aji Paduka Suri. Dan Baru pada tahun 1370 Maharaja Sultan datang Menghadap Brawidjaya III Raja Majapahit untuk meminta pengakuan diplomatic hal ini didukung oleh Anak Pembesar dari Suku Tunjung bernama Puncan Karna yang memperisteri Aji Raja Putri adik dari Maharaja Sultan yang telah membentuk system pemerintahan Dewan Ponco Prabu dan Dewan Perwalian Aji Sapta dan Menamakan Daerahnya Ing Kute Kartanegara yang mana nama ini adalah pengabadian dari nama Raja Singasari bernama Kartanegara.

Sejarah Tanah Kutai (3 )

Dari nama antara Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman dan Kesultanan Kutai Kartanegara di Tenggarong, membuat kita lebih dapat memahami bentuk dan teori beririnya Kerajaan Kutai bahkan sangat jelas bahwa Kerajaan Kutai Martapura ini berada di wilayah pedalaman sungai Mahakam bermula di abad ke 4 M, sedangkan Kesultanan Kutai Kartanegara baru ada dimulai abad ke 13 M, bahkan sejak kurun waktu 14 abad Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman ini memiliki hak secara De-Jure dan De-Fakto dalam pemerintahan sebagai Negara Berdaulat penuh tanpa pernah menjadi bawahan dari Negara Kerajaan Manapun hal ini berlangsung dari Tahun 350 M-1605 M, sedangkan Kesultanan Kutai Kartanegara ini tidak memiki hak De-Fakto hanya memiliki hak De-Jure saja hal ini dibuktikan bahwa dinyatakannya dalam tambo bahwa didaerah pesisir pantai Timur Kalimantan dipimpi oleh seorang Batara dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit, Batara ini sekaligus sebagai Pimpinan Militer dan Merangkap Hamangkubumi Wilayah setingkat Adipati, yang menguasai daerah Hulu Dusun, Jahitan Layar Sambaran dan Binalu yang dipusatkan di Jahitan Layard an Batara Tersebut adalah Raden Kusuma pembesar dari Keturunan Raja Singasari.

Aji Batara Agung Dewa Sakti memperisteri anak Seorang Adipati Indu Anjat di Batang Lunang daerah Perian Sekarang, dan Putri tersebut adalah Keponakan dari Seorang Petinggi Hulu Dusun bernama Babu Jaluma, dan Putri Tersebut anak Dari Serading Dipati bernama Karang Melenu dan Melahirkan Aji Paduka Nira, yang dalam tahun 1325 Aji Paduka Nira Menggantikan Aji Batara Agung Dewa Sakti sebagai Batara karena Aji Paduka Nira Berhasil Menaklukan daerah Buntang, Santan, Gunung Kemuning, Pandan Sari, Tanjung Semat, Rinjang, Rihang, Panyuangan, Senawan, Sangan-sangan, Kembang, Sungai Samir, Dundang, Manggar, Tanah Habang, Susuran Dagang, dan Tanah Malang, Pulau Atas, Karang Asam, Karang Mumus, Sambumi, Sembakung, Sabuyutan, Mangku Palas yang semula Negeri Wilayah Kerajaan Kutai Martapura yang berpusat di Muara Kaman. Dan Aji Paduka Nira berhasil Pula Melarikan Putri dari Kerajaan Kutai Martapura bernama Putri Indra Perwati Dewi, Putri ini sedang berada ke Mengkaying di Bungalo dan diambil Isteri oleh Aji Paduka Nira yang bergelar Aji Batara Agung Dewa Sakti dan Putri Indra Perati Dewi anak Maharaja Nala Guna Perana Tungga diberi Gelar Aji Paduka Suri atau Mahasuri Dibengalon.

Pada Tahun 1360 Aji Batara Agung Paduka Nira Mininggal Dunia dan Meninggalkan 7 Orang Putra Putri dari hasil perkawinanya dengan Aji Paduka Suri. Dan Baru pada tahun 1370 Maharaja Sultan datang Menghadap Brawidjaya III Raja Majapahit untuk meminta pengakuan diplomatic hal ini didukung oleh Anak Pembesar dari Suku Tunjung bernama Puncan Karna yang memperisteri Aji Raja Putri adik dari Maharaja Sultan yang telah membentuk system pemerintahan Dewan Ponco Prabu dan Dewan Perwalian Aji Sapta dan Menamakan Daerahnya Ing Kute Kartanegara yang mana nama ini adalah pengabadian dari nama Raja Singasari bernama Kartanegara.

Thursday, October 28, 2010

Sejarah Tanah Kutai (2)

Selain itu pula ada Suku Bola Bongan yang merupakan (Suku Darat atau Suku Dayak Benuaq), yang tinggal didaerah Sungai ohong dan menetap disekitar Kec.Bongan sekarang suku Dayak Benuaq menyebar hampir kepenjuru pulau Kalimantan mereka merupakan pendatang dari daratan Cina Selatan ras Mongolide yang semula merantau ke Dongson (Vietnam Sekarang). Bersamaan waktu jalanya pemerintahan Kemaharajaan Queitaire Maradapure, (Kerajaan Kutai di Martapura) banyak negeri bawahan kerajaan ini yg dipimpin oleh Raja Kecil yg dapat disamakan dengan Kepala Negeri setingkat Gubernur sekarang misalnya saja Negeri Talikat dan Negeri Daha wilayahnya di Daerah Kota Bangun dan Muara Muntai Sekarang, yang penduduknya merupakan Puak atau suku Kutai Kedang dan Suku Adat Lawas di Keham Dalam. Sedangkan Kutai Kedang Baroh mendiami wilayah Penyinggahan dan Muara Pahu selain Negeri Kelekat dipedalaman Sungai Belayan dan banyak Negeri lainya seperti Negeri Tanjung Gelumbang, Kanibungan, Jantur Tasik, Loa Niung dan Gelumbang Jo, Kumpai Menamang, Bunga Lo dan Negeri wilayah di Sungai Negeri Monggoh, serta lainya. Wilayahnya meliputi pulau Kalimantan daerah Tanah Merah, Sesayap, Batu Salah, Lemuntan, Long Nawan, Sembuan, Hawang Buta, Riwang, Sepaso, Petidan, Batu Putih, Seguntar, Teluk Bayur, Rantau Panjang, Langkap, Tanjung Batu, Tanjung Aru, Tanjung Layar, Palai Hari, Balandean, Paringin, Bongkang, Tanjung Putting, Kaluing, Mendawai, Tanjung Usu, Ma-Benagih, Muara Sepayang, Tami Layang, Pemangkat, Gunung Kaliangkang, Rengkang, Naga Sahe, Balai Karang, Sungai Kukap, Padang Tikar, Sukadana, Tanjung Sambar, Nanga Tayap, Sukaraja, Sungai Seruyan daerah atau negeri-negeri ini kemudian disebut wilayah Negeri Bakulapura yang merupakan wilayah Kekuasaan Maharaja Kutai di Martapura.

Perhara peperangan terjadi di Muara Sungai Mahakam, antara Pasukan Batara dari Majapahit dan Perahu Kapal Jong atau Wangkang Naga Cinta yang merupakan para pedagang menjalin hubungan deplomatik dengan Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman. Kekalahan diterima oleh Pasukan Cina yang lari kedaratan dan Menjadi Suku Dayak Basap mendiami daerah daratan pesisir pantai Kalimantan Bagian Timur, Bergolaknya perang diperairan Mahakam tepatnya di Tanjung Riwana yang merupakan Pangkalan atau Pelabuhan Syahbandar transit perdagangan yang merupakan wilayah Kerajaan Kutai Martapura yang berpusat di Muara Kaman, Jatuhnya Benteng Samsekepeng akibat serangan dari Pasukan pimpinan Raden Kusuma yang adalah adik dari Raden Wijaya Raja Majapahit yg berlainan Ibu ini, mengakibatkan jalur perekonomian dibidang perdagangan antar luar negeri diblokir Kerajaan Kutai Martapura semakin mengalami kemunduran karena para pedagang hanya melewati jalan Sungai menuju Muara Kaman. Tempat peperangan antar pasukan Kerajaan Kutai Martapura dan Cina serta Batara dari Majapahit ini diberinama Tanjung Riwana dan Kotanya diberinama Jahitan Layar dan sekarang namanya menjadi Kutai Lama dan atas kemenangan dari Sang Batara ini diperingati sebagai Hari Erau Tempong Tawar Mengulur Naga yang mengandung makna bahwa telah ditenggelamkanya kapal atau Jong Pedagang Cina yang bercorak Naga. Selain itupula Sang Batara menaklukan 4 wilayah Kerajaan Kutai yakni, Hulu Dusun, Binalu dan Sambaran serta Jahitan Layar maka atas keberhasilan tersebut Raden Kusuma di anugerahi Gelar Aji Batara Agung Dewa Sakti yang bertugas sebagai Batara (Pimpinan Militer) dan merangkap sebagai Mangkubumi

Tuesday, October 26, 2010

Sejarah Tanah Kutai (1)

Kutai Mulawarman Martapura di Muara Kaman dan Kutai Kartanegara di Tenggarong

Kerajaan Kutai Martapura telah berkuasa dari tahun 350 M dan Kerajaan ini berdaulat penuh atas hak negerinya dan mempunyai system pemerintahan Naladuta dimana Raja dipertuan Agung adalah seorang Maharaja dan dua orang Wakil menjadi Maharaja Negeri dan Menjadi Maharaja Penghulu dan para pembesar lainya adalah para Raja wilayah disebut Naladuta disetiap negeri jajahanya, undang-undang kerajaan ini diberinama Kalpa Nalaberaja yang mengatur sistem pemerintahan Beraja didalam Istana Induk dan Kalpa Naladipura merupakan Undang-undang yang mengatur Adat Istiadat dan Budaya serta Kalpanaladuta yang mengatur system pemerintahan Raja-Raja wilayah dan mengatur hukum hidup rakyat didalam wilayah taklukan, semua perundangan ini disendikan atas syara agama Hindu.

Suku Kutai Pantun adalah suku atau Puak yang paling Tua diantara 5 Suku atau Puak Kutai lainya dan Suku ini mendiami daerah Muara Kaman Kab. Kutai Kartanegara dan sampai Daerah Wahau dan Daerah Muara Ancalong, serta Daerah Muara Bengkal, Daerah Kombeng di dalam wilayah Kab.Kutai Timur sekarang, suku Kutai pantun dapat dikatakan sebagai turunan para bangsawan dan Pembesar di Kerajaan Kutai Martapura (Kutai Mulawarman) sebenarnya nama kerajaan ini awalnya disebut Queitaire (Kutai) oleh Pendatang dan Pedagang awal abad masehi yang datang dari India selatan yang artinya Belantara dan Ibukota Kerajaannya bernama Maradavure (Martapura) berada di Pulau Naladwipa dan letaknya di tepi Sungai Mahakam di seberang Persimpangan Sungai Kanan Mudik Mahakam yakni Sungai Kedang Rantau asal nama Kota Muara Kaman sekarang.

Hal diatas didasari dari pengkajian jalur pelayaran India, Indo Cina dan Kalimantan yang amat menarik dikaji secara mendalam, maka secara pasti kronologis sejarah ini juga termuat dalam berita jalur perdagangan timbal balik segitiga antar daerah, karena bukan saja dalam berita – berita dari India saja namun berita – berita dari cinapun dapat dijadikan bahan kajian mengenai asal nama Kutai, bahwa dalam hubungan dagang bangsa cina dengan Pulau Silalahi yang berada dibagian timur negeri Cina, dan mereka menyebut pulau tersebut dengan nama Zabudj artinya Kalimantan dan baru diketahui kemudian ada hubungan antara Kerajaan Campa dan Kho-Thay (Kutai) yg berasal dari makna Kerajaan Besar dipedalaman sungai Mahakam.

Memang nama Kutai baru dikenal dalam bahasa Melayu, sebutan awalnya menurut berita India adalah Queitaire artinya Belantara dan dalam berita Campa atau Cina disebut Kho-Thay artinya Kota Besar atau Bandar Kerajaan Besar. Dan kemudian perpindahan penduduk dari Campa sebagai buruh tambang Emas yang membangun sistim kesukuan dan dikepalai oleh seorang Raja Kecil bawahan dari Kemaharajaan Kutai Martapura dan dipimpin oleh seorang Kepala Puak Sendawar (Suku Dataran atau Dayak Tunjung), mereka mendiami daerah Melak sampai Barong Tongkok di Kab. Kutai Barat sekarang.