Wednesday, June 30, 2021

SANGKAN PARANING DUMADI DALAM SPIRITUALITAS KARYA KERASULAN AWAM KATOLIK


@jg_arif_wibowo 


Dumadi artinya lahir atau menjadi ada. Sebelum lahir, sebelum bernama, atau sebelum ada seperti ini, itulah Sang Asal. Sangkan paraning dumadi adalah ungkapan dari bahasa Jawa yang umumnya dipahami sebagai asal dan tujuan hidup atau “Dari mana manusia berasal dan kemana ia akan kembali”. Biasanya digabungkan dengan ungkapan “wong urip iku mung mampir ngombe lan murup”, yang arti harafiahnya adalah bahwa manusia hidup dunia ini hanya sekedar mampir untuk minum dan menyala. Tulisan ini hendak merefleksikan kedua frasa Jawa tersebut di dalam terang iman Katolik sebagai spiritualitas  untuk berkarya menata dunia dan kehidupan yang dikehendaki oleh Allah Sang Pencipta alam semesta yang kekal. Dia Yang Kekal tanpa awal dan akhir itu telah menemui manusia dengan masuk ke dalam ruang dan sejarah manusia menjadi manusia Yesus Kristus.


Di dalam kerangka menjawab pertanyaan-pertanyaan manusia, Kitab Suci atau Alkitab menceritakan bahwa karena cinta-Nya yang tak terbatas Allah telah  menciptakan alam semesta dan manusia. Allah menciptakan manusia seturut citra  dengan Allah Sang Pencipta sebagaimana ditulis dalam Kitab Kejadian bab 2:8-25. Artinya Allah dengan cintanya yang tak terbatas telah menciptakan manusia untuk  hidup bersama di dalam satu kemuliaan Allah. Demikianlah itu dipahami sebagai kehendak dan rencana Allah.


Manusia Adam dan Hawa yang diciptakan untuk hidup berbahagia dalam kemuliaan Allah namun telah gagal menjawab undangan  Allah untuk hidup dalam kemuliaan. Manusia jatuh ke dalam dosa dan terusir dari kesatuan dan kemuliaan dengan Allah sebagaimana diceritakan dalam  kitab Kej.3:1-24. Setelah manusia terusir dan  terpisah dari kemuliaan Allah, lebih jauh lagi dari kisah Kain dan Habil, ternyata manusia memiliki sifat untuk cenderung berbuat dosa sebagaimana bisa kita bisa pahami dari Kej. 4:1-16. 


Sejak Adam dan Hawa, juga Kain dan Habil, akar dari dosa adalah rasa tidak bisa menerima keadaan kekurangan diri sendiri atau ingin menyamai dengan TUHAN dan keliru dalam memahami kehendak TUHAN. Inilah yang menjadi sumber dosa yang yang menjadikan  keterpisahan manusia dengan Allah. Kecenderungan ini lebih luas lagi disebut sebagai  7 dosa pokok yang  membuat manusia  berlaku iri, sombong, tamak, hawa nafsu, rakus, marah atau dendam dan malas. 


Dengan kecenderungan berbuat dosa ini, manusia tidak bisa kembali untuk bersatu dalam kemuliaan Allah dengan usaha dan kekuatannya sendiri. Dengan kata lain manusia akan binasa, raga dan jiwanya, karena upah dosa adalah maut seperti yang bisa kita baca pada  Roma 6:23. Namun demikian, Allah tetap mencintai manusia dan menghendaki  manusia bisa kembali bersatu dengan Allah di dalam kemuliaan-Nya. 



"Keselamatan" Sebagai Tujuan Hidup


Manusia, yang diciptakan Allah terdiri dari jasmani dan jiwa ( dan roh ) ini, akan mati atau menemui maut karena dosa. Namun orang yang dibenarkan oleh Allah, jiwanya  akan menerima tubuh rohani yang mulia. Keselamatan adalah pemberian tubuh rohani yang mulia dan bersatu dengan Allah di Surga atau di dalam Kerajaan Allah.  


Keselamatan juga berarti manusia menemukan kembali situasi keadaan yang dikehendaki Allah seperti ketika diciptakan yaitu hidup di Taman Eden kembali. Atau disebut juga situasi edenik. Taman Eden yang baru ini digambarkan sebagai Yerusalem baru sebagaimana digambarkan dalam kitab Wahyu 21:11 - 22:5. 


Keadaan manusia yang sudah terpisah dari Allah dan memiliki sifat kecenderungan berbuat dosa menjadi mustahil untuk kembali bersatu dalam kemuliaan Allah. Untuk itu Allah harus turun tangan menyelesaikan masalah ini, menyelamatkan manusia.


Sebagaimana dikatakan dalam 1 Yoh. 4:8  bahwa, Allah adalah kasih. Itulah paham Allah yang diperkenalkan oleh Yesus Kristus. Oleh karena kasih-Nya yang tak terbatas, Allah bertindak menyelamatkan manusia.  Allah menghendaki manusia hidup berbahagia di surga. Allah memang sudah menyediakan Kerajaan-Nya atau surga untuk manusia ( bdk  Mat 25:34 ).


Tindakan kasih  Allah untuk menyelamatkan manusia  telah  diungkapkan atau dinubuatkan oleh  Nabi Yesaya tentang seorang hamba TUHAN yang menderita demi keselamatan umat Allah ( bdk Yes. 52:13 - 53:12).  Allah yang kekal itu telah masuk ke dalam ruang dan waktu dan menjadi manusia untuk menjumpai manusia. Yesus adalah Sabda Allah atau Firman yang adalah Allah itu sendiri, telah menjadi manusia.


Dengan mati di kayu salib, turun ke tempat penantian dan bangkit dari mati, Tuhan Yesus Kristus telah menanggung hukuman yang seharusnya ditanggung oleh semua manusia karena dosa-dosa mereka. Karena hukuman manusia telah dijalani oleh Tuhan Yesus Kristus, maka manusia dianggap benar ( dibenarkan ) oleh Allah, dibebaskan dari hukuman  atas dosa, dan dianggap layak mendapatkan hidup dalam kemuliaan yang abadi di hadapan Allah. Itulah KESELAMATAN. 

                                                                                                                                                                                                    

Keselamatan  juga berarti   benar atau dibenarkan di hadapan Allah.  Pembenaran atau keselamatan ini merupakan karya cinta kasih Allah yang paling agung. Pembenaran ini adalah tindakan kerahiman Allah yang diberikan dengan cuma-cuma yang menghapus dosa-dosa kita dan membuat kita menjadi benar dan kudus dalam keseluruhan keberadaan kita. 


Pembenaran ini digenapi melalui rahmat Roh Kudus yang dicurahkan kepada kita karena penderitaan Kristus dan diberikan dalam Sakramen Pembaptisan. Pembenaran adalah permulaan jawaban bebas manusia, yaitu beriman kepada Kristus dan bekerja sama dengan rahmat Roh Kudus.


Bagaimana Keselamatan Diperoleh dan Bagaimana Harus Hidup Sebagai Orang Yang Sudah Diselamatkan


Siapakah manusia yang akan hidup kekal karena pembenaran oleh Allah? Mereka adalah yang mendengar dan melaksanakan perkataan Yesus dan percaya kepada Allah yang mengutus Yesus, ia akan mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum ( dalam maut ), sebab ia sudah pindah dari alam maut ke dalam hidup ( yang kekal ), bandingkan dengan Yoh. 5:24.


Orang yang percaya kepada Kristus membuktikan kepercayaannya dengan membina relasi pribadi dengan Allah  dan mengasihi Allah selama hidup di dunia. Karena itu, ia tidak akan takut menghadapi pengadilan Allah karena dalam pengadilan itu Allah akan menyatakan dia sebagai orang yang benar di hadapan-Nya. 


Orang yang telah percaya kepada Allah yang menyelamatkan dia, akan membina relasi dengan Allah. Relasi pribadi orang beriman dengan Allah itu dapat disebut sebagai doa. Ia meluangkan banyak waktu untuk hadir di hadirat Allah, menikmati kebersamaan dengan Allah, dan untuk mendengarkan Sabda-Nya. Ia menikmati kehadiran Allah dan memandang Dia dengan penuh sukacita. Ia pun menyadari bahwa Allah senantiasa hadir dan menyertai dia selama menjalani kehidupan di dunia ini.


Kalau kita merasakan bahwa Allah telah mengasihi kita, kita pun akan tergerak untuk mengasihi Dia. Kita mengasihi Allah karena Dia telah lebih dahulu mengasihi kita (1 Yoh. 4:19 ). Tetapi, bagaimana kita dapat mengasihi Allah? Kita mewujudkan kasih kepada Allah itu dengan mengasihi sesama manusia. Karena orang yang mengasihi Allah harus juga mengasihi saudaranya ( 1 Yoh. 4:21 ). 


Orang yang percaya kepada Kristus akan mengungkapkan kepercayaannya itu dalam sikap dan tindakan. Karena percaya kepada Kristus, manusia akan bersikap dan bertindak menurut kehendak Allah.  Orang itu akan mengasihi Kristus yang telah mengasihi dia dan yang hadir dalam diri sesama manusia.


Sebagai orang yang dikasihi TUHAN, kita juga dipanggil selalu mengampuni orang yang bersalah atau menyakiti hati kita sebagaimana TUHAN tak henti-hentinya mengampuni kita seperti diajarkan Yesus sebanyak tujuh-puluh kali tujuh kali dalam Mat 18:21-22, bahkan kita diminta untuk mengasihi dan berdoa untuk musuh-musuh kita sebagaimana dalam Mat. 5:44.


Kasih kepada Allah juga diwujudkan dengan melawan kecenderungan untuk berdosa karena Kristus telah membebaskan manusia dari kekuasaan dosa. Karena itu, kalau kita mengasihi Allah, kita tidak akan membiarkan diri dikuasai oleh dosa.


Mewartakan Kabar Keselamatan.


Kita yang telah menikmati janji Kristus di dunia ini diutus menjadi saksi-saksi Kristus dengan membawa jiwa-jiwa kepada keselamatan di dalam Gereja Katolik. Atau kita membawa dunia untuk berpikir dan bertindak seperti Kristus. Itulah perutusan pada kita yang telah menerima keselamatan dari Kristus. Kita kaum awam  adalah anggota Gereja sebagai tubuh Kristus. Kita harus mengambil bagian dalam membangun Gereja sebagai persekutuan umat Allah. 


Sebagai pengikut Kristus, kita yang hidup sebagai warga masyarakat turut membangun kesejahteraan bersama dengan anggota masyarakat yang lain dan membina dunia agar menjadi sesuai kehendak Allah, kehendak cinta. Kita juga menjadi saksi Kristus yang menjadi kabar gembira tentang karya penyelamatan Kristus bagi semua manusia.


Di dalam kehidupan sosial, kita sebagai  orang yang sudah memahami dan percaya akan keselamatan yang diberikan oleh Kristus, kita  akan melakukan aksi sosial kemanusiaan sebagaimana ditunjukkan dalam Mat 25:34-40.  Segala sesuatu yang engkau lakukan pada orang yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk TUHAN.


Sebagai anggota Gereja kita  harus menjalankan kebiasaan umat Katolik  di dalam komunitas seperti menghadiri ekaristi secara teratur, kegiatan sosial di lingkungan, melakukan sakramen rekonsiliasi, berdoa dan membaca kitab suci bersama keluarga agar Sabda Allah dan Roh Allah selalu menerangi hidup kita.


Sebagai anggota Gereja, kita  kaum awam, dengan cara yang bermartabat, perlu terlibat dalam penguatan dan pembinaan iman umat anggota Gereja yang lain. Kita perlu mengambil bagian dalam berbagai pelayanan yang berbeda sesuai bakat, kemampuan dan karunia yang dimiliki oleh masing-masing dari kami.

 

Sangkan Paraning Dumadi di dalam terang iman Katolik : Kita berasal dari Allah, kita menerima kasih karunia keselamatan oleh Yesus Kristus, kita "menyala" karena dibimbing Roh Kudus untuk menghadirkan edenik atau Kerajaan Allah dan kita akan menerima hidup kekal karena kerahiman Allah oleh Yesus Kristus. 



 

No comments:

Post a Comment