Topik sejarah Indonesia dari Denise Lombard, yang menggambarkan bahwa Indonesia
atau nusantara atau dalam bukunya disebut sebagia Nusa Jawa, adalah
menggambarkan suatu entitas masyarakat yang dinamis. Ide bahwa lautan sebagai
penghubung dan bukan pemisah budaya antar pulau, saya kira itu menjadi penentu
elastisitas masyarakat plural di nusantara ini. Yang kelak disebut sebagai
warga Indonesia dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Yang menjadi refleksi, paling tidak bagi penulis, adalah : apakah yang menjadi
pengikat masyarakat atau warga pulau-pulau di Nusantara yang beraneka ragam ini
hingga mereka bisa menyatakan diri sebagai satu bangsa?
Sudah menjadi fakta sejarah masa lalu dan masa kini bahwa warga Tanah ini
adalah sangat majemuk, plural. Majemuk dari alam tempat tinggal mereka yang
ribuan pulau, bahasa, budaya, agama dan orientasi spiritualitas atau keyakinan.
Kemajemukan ini bukan semata oleh asal yang beraneka ragam tapi juga oleh
karena dinamika dan proses yang dialaminya dalam interaksi sosial dan sejarah.
Saat ini kita mewarisi Pancasila dari Para Pendiri Bangsa sebagai rumusan yang
mengikat warga Tanah ini ( Nusantara ) menjadi satu bangsa, bangsa Indonesia.
Lalu bagaimanakah ikatan itu mewujud, jika kita menolak tafsir tunggal
Pancasila? Karena Pancasila pun tak mau diartikan sebagai suatu warna atau satu
warna?
Penafsiran Pancasila atau bangsa Indonesia atau negara Indonesia menjadi suatu
proses yang dinamis. Suatu dinamika yang merupakan interaksi atau dialog atau
kadang benturan-benturan ide tentang bangsa itu sendiri. Pancasila, bangsa
Indonesia dan negara Indonesia adalah suatu dinamika sosial itu sendiri.
Drijarkara mengatakan bahwa negara bukan kata benda tapi kata kerja, karena itu
suatu proses. Proses yang mau semakin memanusiakan para anggotanya atau rakyat
Indonesia itu sendiri. Drijarkara mengatakan bahwa kita menegara, melakukan
proses penegaraan. Itu mau menunjukkan bahwa negara adalah suatu dinamika
proses.
Dari ringkasan buku Denise Lombard, menurut saya tercermin suatu pengalaman
warga Nusantara ini berproses. Bagaimana warga Tanah ini mengalami proses
hinduisasi, islamisasi, pembaratan hingga muncul suatu masyarakat yang membawa
semua ciri yang diinternalisasi oleh proses tersebut di atas. Warga Tanah ini
bisa jadi adalah Islam yang membawa kehinduan dan kebaratan. Atau perilaku
barat yang membawa keislaman dan kehinduan nya.
Tanah ini yang terdiri dari ribuan pulau dan dihubungkan oleh lautan,
menjadikannya memiliki garis pantai yang sangat panjang. Begitu banyak pantai
atau pelabuhan yang menjadi titik-titik pertemuan budaya. Baik itu pertemuan
budaya pedalaman dengan pendatang luar pulau atau pertemuan antar pendatang
dari berbagai pulau di berbagai pelabuhan. Sehingga interaksi budaya menjadi
sangat intens dan membiasakan para warga Tanah ini berdialog antar budaya.
Sifat-sifat lentur itu mulai terbentuk setelah proses berabad-abad. Sehingga
terbentuk refleks dialog peradaban terhadap pengaruh budaya baru pada warga
Tanah ini ketika berinteraksi dalam dialog perbedaan. Keluwesan itu bukan
berarti tanpa ada riak-riak pergesekan pemikiran dan fisik, bahkan pertumpahan
darah pernah terjadi.
Kemampuan dan kecerdasan sangat diperlukan dalam menanggapi dan mensintesa,
kemudian menjadi entitas yang "survive" menemukan keseimbangan
koeksistensi damai sangat penting dan menjadi modal utama untuk tetap rela
terikat dalam suatu bangsa. Dalam pembahasan tentang pemikiran dan perjuangan
AR Baswedan, kita belajar bahwa pendididikan sangat penting agar anggota
masyarakat menjadi cerdas dan paham untuk menjadi sukarela tetap bersatu. AR
Baswedan mengatakan bahwa tidak penting dari suku atau agama atau orientasi
spiritual apa, yang penting adalah pendidikan yang membuat orang menjadi cinta
pada Tanah Air.
Bukan darah yang menjadikan cinta Tanah Air, tetapi pendidikan. Bukan ras yang
menentukan rasa kebangsaan tetapi pendidikannya. Begitulah ungkapan yang tajam
dari AR Baswedan dari pengalaman perjuangannya mengindonesiakan Arab.
Pemberadaban menjadi kata kunci persatuan yang dinamis dari bangsa Indonesia.
Kata pemberadaban penulis temukan dalam diskusi mengenai pemikiran Kartini.
Pemberadaban adalah suatu proses evolusi dari entitas masyarakat. Suatu entitas
warga harus berevolusi mejadi semakin arif dan cerdas untuk semakin menyadari
panggilan hidup berbangsa. Kembali ini suatu proses pencerdasan para warga
anggota masyarakat. Itu berarti adalah pendidikan.
Jadi benarkah kunci ikatan bangsa ini adalah pedidikan yang menjadikan manusia
utama? Manusia utama adalah manusia yang tahu batas-batas. Jika setia pada
ajaran agama dan adat kita, seberapa jauh kita mesti setia? Di manakah
batas-batasnya?
Refleksi berikutnya adalah bagaimanakah pendidikan untuk bangsa ini harus
dirancang dan diselenggarakan? Tentunya pendidikan untuk bangsa ini harus
dibebaskan dari pengaruh ideologi yang sektarian. Karena sikap sektarian akan
memandegkan dinamika bangsa ini. Suatu dinamika yang memerlukan kecerdasan dan
pemberadaban terus-menerus.
Drijarkara mendambakan masyarakat yang harmoni namun bukan otoritarian.
Masyarakat yang seperti gamelan. Namun itu mempersyaratkan bahwa masing-masing
pemegang komponen gamelan yang berbeda-beda itu mempunyai ketrampilan, baca
kecerdasan.
Kecerdasan pemain komponen gamelan bukan sekedar penguasaan membunyikan alatnya
namun juga melihat, mendengar dan menyesuaikan diri dengan entitas gamelan agar
mengeluarkan suatu harmoni yang indah.
Anggota masyarakat yang berbeda-beda itu perlu menjadi cerdas dan arif untuk
menyelaraskan dirinya dengan komponen masyarakat yang lain agar menghasilkan
masyarakat yang harmoni dan bersukarela mengikatkan diri. Mengikatkan diri
menjadi suatu bangsa.
Kecerdasan itu memerlukan pendididikan, pemberadaban dan evolusi sosial.
Pendidikan sebagai upaya kebudayaan yang bermaksud memberikan bimbingan dalam
hidup tubuhnya jiwa raga anak-anak, agar dalam garis-garis kodrat pribadinya
serta pengaruh-pengaruh lingkungannya mereka memperoleh kemajuan dalam
hidupnya, baik lahir maupun batin, menuju ke arah adab kemanusiaan.
Sebagai usaha kebudayaan dan kemasyarakatan, setiap pendidikan wajib memelihara
dan mengembangkan garis-garis hidup dan kemasyarakatan yang terdapat dalam
setiap aliran kebatinan dan kemasyarakatan menuju ke arah adab kemanusiaan.
Sebagai ideologi yang riil, Pancasila senantiasa adanya dialektika dalam
realisasinya. Dialektika adalah usaha penyempurnaan menuju gambaran manusia
Pancasila. Yaitu manusia-manusia yang utama. Manusia-manusia yang tahu
batas-batas.
Masyarakat yang beraneka ragam ini perlu selalu mengembangkan “Common Public
Space” atau Ruang Publik Bersama atau
singkatnya kita sebut Ruang
Publik. Di dalam ruang publik inilah negara menjadi suatu percakapan. Di
dalam ruang publik inilah masyarakat yang beraneka ragam ini berbagi
nilai-nilai luhur bersama untuk mengembangkan koeksistensi damai, sejahtera dan
berkeadilan seraya saling mengasihi. Pancasila jadi bermakna cinta-kasih. Modal
utama untuk mengembangkan Ruang Publik adalah Pancasila dengan cita-cita
Bhinneka Tunggal Ika. Semakin
hari Ruang Publik ini harus semakin besar.
Demikanlah Pancasila menjadi modal ruang publik Bangsa Indonesia namun
juga Pancasila senantiasa perlu dibahas
dan berdialog dengan pemikiran-pemikiran baru.
Pendidikan harus
menghasilkan anak-anak bangsa yang berani angkat bicara untuk memerangi
deviasi Pancasila oleh masuknya ide yang
mau mempersempit ruang publik. Karena kemauan jahat bisa tampak dalam usaha
dari pihak tertentu untuk memaksakan ideologi lain di dalam Pancasila dan
mengklaim ideologinya ada dalam Pancasila. Itu biasa dikatakan sebagai
pemalsuan ide atau substitusi.
Kebebasan pers yang
bertanggung jawab, dialog dan argumentasi di mimbar, kebebasan untuk mengkritik
dan dikritik secara bertanggung jawab
perlu diperjuangkan terus. Tindakan tegas terhadap pemerintahan yang diktator
atau semi diktator perlu dilakukan. Bila penguasa sudah tidak sejalan dengan
Pancasila, yang bermakna sebagai ruang publik bangsa, perjuangan dapat
diarahkan pada penggantian para pemimpin tersebut.
Warga Tanah ini atau
Nusantara yang kini telah menjelma menjadi Bangsa Indonesia perlu memahami
sifat dan jati-dririnya. Dari sejarah pembentukannya dan alasan-alasan atau
syarat-syarat untuk tetap hidup.
Pendidikan menjadi kunci utama untuk tetap mempertahankan dan merawat
ruang publik Pancasila dengan cita-cita Bhinneka Tunggal Ika.
*)Negara Indonesia Sebagai Dinamika Proses. (Tugas Kuliah Extension Filasafat STF ) 23 May 2013
No comments:
Post a Comment