( Refleksi tentang Kitab Suci )
_Tariklah aku di belakangmu, marilah kita cepat-cepat pergi! Sang raja telah membawa aku ke dalam maligai-maligainya. Kami akan bersorak-sorai dan bergembira karena engkau, kami akan memuji cintamu lebih dari pada anggur! Layaklah mereka cinta kepadamu!_
[Kidung Agung 1:4]]
Maligai adalah ruang di istana tempat kediaman raja. Kitab Suci ( Alkitab ) adalah gerbang istana tempat kediaman Allah. Kita rindu untuk diundang masuk ke dalam istana Allah Sang Raja. Diantara gadis-gadis Yerusalem yang mencari dan merindukan menjadi mempelai Sang Raja, kamulah yang mendapat kesempatan memasuki maligai istananya. Begitulah jiwa manusia mencari dan merindukan Allah.
_Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair._ Mazmur 63:2
Di dalam membaca kitab suci, kita bisa membayangkan ada tiga ruang yang akan kita lalui dan masuki untuk semakin dalam. Yaitu ruang taman, ruang gudang dan ruang kamar pengantin. Kita membaca kitab suci mulai dari penciptaan sampai pada penebusan. Ruang taman adalah menggambarkan makna yang gamblang dan polos dari kitab suci yang kita baca, sebagaimana adanya. Di ruang taman ini saja kita sudah bisa terpesona dan menikmati banyak keindahan.
_Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup._ Mazmur 84:3
Lalu kita memasuki ruang gudang-gudang penyimpanan, yakni makna moral yang mengajari kita untuk mengatur perilaku kita. Di gudang itu jiwa dimurnikan dengan praktek cinta kasih. Dari ruang gudang itu kita bisa mengambil dan membawa "benda-benda" moral sebagai bekal kita untuk melangkah maju dalam peziarahan hidup kita.
Akhirnya, jiwa diperbolehkan masuk ke "kamar tidur" atau "ruang kamar pengantin" dan bertemu sang mempelai pria dan mengalami tatapan Allah. Kamar tidur menggambarkan misteri kontemplasi ilahi.
_10Kekasihku mulai berbicara kepadaku: "Bangunlah manisku, jelitaku, marilah!_
_11Karena lihatlah, musim dingin telah lewat, hujan telah berhenti dan sudah lalu._
_12Di ladang telah nampak bunga-bunga, tibalah musim memangkas; bunyi tekukur terdengar di tanah kita._
_13Pohon ara mulai berbuah, dan bunga pohon anggur semerbak baunya. Bangunlah, manisku, jelitaku, marilah!_ [Kidung Agung 2:10-13]
Ketika mempelai wanita mencari pengantin prianya "pada malam hari" di dalam kamar tidur nya, itu memperlihatkan kepada kita arti penting dari kesederhanaan. Kesederhanaan dalam berpikir ketika membaca ayat-ayat itu, bahkan miskin di hadapan Allah.
_Di atas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia._ [Kidung Agung 3: 1]
Senandung ini tidak dapat dipahami secara rasional. Maknanya adalah "misteri" yang "tersembunyi" di dalam teks, yang mau menggapai transendensi menyeluruh yang selalu luput dari tangkapan konseptual kita.
Begitulah peziarahannya bahwa membaca perlu sampai pada membawa transformasi pada diri kita. Kidung Agung melambangkan kerinduan akan harmoni dan kesatuan yang merembesi semua tingkat eksistensi diri kita.
Kamu yang mencari dan rindu, kamu sudah ada di dalam Gereja-Nya. Kamu sudah menerima pembaptisan di dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Kamu sudah di gerbang istana-Nya. Mari masuk dan lihatlah!
.
.
@jg_arif_wibowo ; 18 Mei 2021
.
.
No comments:
Post a Comment