Sunday, October 14, 2012
Dominasi Patriarkhi Yang Merusak Nurani Bangsa Ini?
Ternyata Bangsa Indonesia dikuasai oleh para manusia yang tak paham betapa kejinya kejahatan perkosaan perempuan terhadapan kualitas peradaban dan kemanusiaan.
Perkosaan terhadap perempuan adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Kejahatan terhadap kaum yang melahirkan anak-anak peradaban. Dan setiap terjadi perkosaan, reaksi pertama penguasa adalah menyalahkan perilaku dan cara berpakaian perempuan. Ini adalah simplifikasi masalah yang merugikan perempuan dan menjadikan masayarakat makin serampangan dan tidak adil terhadap perkosaan dan perempuan.
Kekuasaan-kekuasaan telah dimanfaatkan untuk pemenuhan nafsu syahwat kehewanan para penegak moral atas nama agama. Polisi moral di Aceh, telah menghadirkan citra yang menakutkan dan citra menakutkan itu telah dimanfaatkan untuk kepentingan syahwat pribadi polisi moral tersebut. Polisi moral ini telah melakukan kejahatan kemanusiaan dan penghinaan terhadap agama yang dijadikannya sebagai acuan. Lihat link-link di bawah ini.
Yang sangat menyedihkan adalah pernyataan seorang menteri pendidikan nasional Indonesia di depan wartawan, bahwa perkosaan itu bisa jadi atas dasar suka sama suka. Pernyataan ini menanggapi kasus siswi SMP di Depok yang setelah mengalami perkosaan lalu di tolak kembali ke sekolahnya. Anak ini telah diperkosa, ditolak kembali masuk sekolah, lalu dihina oleh Mendiknas sebagai suka sama suka yang diakui sebagai perkosaan. Walaupun -suka-sama-suka- itu baru dugaan, tak pantas itu diucapkan seorang Mendiknas di depan masyarakat. Mendiknas telah menjadi representasi masyarakat patriarki yang memberi stigma hina pada perempuan yang dirugikan. Bagaimanakah rasa hati nurani nya bisa terlontar kata-kata seperti itu?
Apapun latar belakang terjadinya perkosaan, tak layak masyarakat menghina dan memberi stigma aib pada pihak perempuan. Perkataan seperti yang terlontar oleh Mendiknas, seperti dalam link di bawah ini, adalah ucapan khas lelaki yang sangat patriarkhi. Masyarakat patriarkhi cenderung menjadikan selera lelaki sebagai standard moral dengan mengatur perilaku perempuan tanpa mempedulikan perilaku lelaki yang juga amoral. Masyarakat patriarkhi cenderung menjadikan perempuan sebagai perusak moral. Untuk itu mereka mengatur cara berpakaian perempuan secara berlebihan. Dan yang lebih parah, masyarakat patriarki menggunakan agama untuk mengatur dan menindas perempuan agar sesuai dengan seleranya.
Dari bacaan link-link di bawah ini adakah kemiripan akar moral penyebabnya?
1) http://news.detik.com/read/2010/01/15/113634/1279122/10/wanita-aceh-diperkosa-bergantian-di-dalam-tahanan-oleh-polisi-syariat?utm-source=topshare
2) http://euro.harianjogja.com/read/euro/tiga-polisi-syariat-perkosa-wanita-di-tahanan-11970
3) http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita-pendidikan/12/10/11/mbq8gr-m-nuh-kadangkadang-samasama-senang-ngakunya-diperkosa/a>a br />
4) http://kbr68h.com/berita/nasional/37578-satgas-pa-menteri-m-nuh-harus-minta-maaf-pada-anak-korban-perkosaan
5) http://kbr68h.com/berita/nasional/37583-menteri-m-nuh-menolak-minta-maaf-pada-anak-korban-perkosaan
6) http://kbr68h.com/berita/nasional/37601-anggota-dpr-kectaan-mendikbud-yang-remehkan-perkosaan erkosaan
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment