Thursday, June 24, 2010

Sejarah Sunda

Kata Sunda artinya Bagus/ Baik/ Putih/ Bersih/ Cemerlang, segala sesuatu yang mengandung unsur kebaikan, orang Sunda diyakini memiliki etos/ watak/ karakter Kasundaan sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Watak / karakter Sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (pandai/ cerdas) yang sudah ada sejak jaman Salaka Nagara tahun 150 sampai ke Sumedang Larang Abad ke- 17, telah membawa kemakmuran dan kesejahteraan lebih dari 1000 tahun.




Sunda merupakan kebudayaan masyarakat yang tinggal di wilayah barat pulau Jawa dengan berjalannya waktu telah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Sebagai suatu suku, bangsa Sunda merupakan cikal bakal berdirinya peradaban di Nusantara, di mulai dengan berdirinya kerajaan tertua di Indonesia, yakni Kerajaan Salakanagara dan Tarumanegara sampai ke Galuh, Pakuan Pajajaran, dan Sumedang Larang. Kerajaan Sunda merupakan kerajaan yang cinta damai, selama pemerintahannya tidak melakukan ekspansi untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Keturunan Kerajaan Sunda telah melahirkan kerajaan- kerajaan besar di Nusantara diantaranya Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Mataram, Kerajaan Cirebon, Kerajaan Banten, dll.


Kronologi Sejarah Kerajaan Sunda



Kerajaan Sunda (669-1579 M), menurut naskah Wangsakerta merupakan kerajaan yang berdiri menggantikan kerajaan Tarumanagara. Kerajaan Sunda didirikan oleh Tarusbawa pada tahun 591 Caka Sunda (669 M). Menurut sumber sejarah primer yang berasal dari abad ke-16, kerajaan ini merupakan suatu kerajaan yang meliputi wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Banten, Jakarta, Provinsi Jawa Barat , dan bagian barat Provinsi Jawa Tengah.



Berdasarkan naskah kuno primer Bujangga Manik (yang menceriterakan perjalanan Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di Pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16), yang saat ini disimpan pada Perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627), batas Kerajaan Sunda di sebelah timur adalah Ci Pamali ("Sungai Pamali", sekarang disebut sebagai Kali Brebes) dan Ci Serayu (yang saat ini disebut Kali Serayu) di Provinsi Jawa Tengah.







Tome Pires (1513) dalam catatan perjalanannya, Suma Oriental (1513 – 1515), menyebutkan batas wilayah Kerajaan Sunda di sebelah timur sebagai berikut: “Sementara orang menegaskan bahwa kerajaan Sunda meliputi setengah pulau Jawa. Sebagian orang lainnya berkata bahwa Kerajaan Sunda mencakup sepertiga Pulau Jawa ditambah seperdelapannya lagi. Katanya, keliling Pulau Sunda tiga ratus legoa. Ujungnya adalah Ci Manuk.'


Menurut Naskah Wangsakerta, wilayah Kerajaan Sunda mencakup juga daerah yang saat ini menjadi Provinsi Lampung melalui pernikahan antara keluarga Kerajaan Sunda dan Lampung. Lampung dipisahkan dari bagian lain kerajaan Sunda oleh Selat Sunda.







Hubungan Kerajaan Sunda dengan Eropa





Kerajaan Sunda sudah lama menjalin hubungan dagang dengan bangsa Eropa seperti Inggris, Perancis dan Portugis. Kerajaan Sunda malah pernah menjalin hubungan politik dengan bangsa Portugis. Dalam tahun 1522, Kerajaan Sunda menandatangani Perjanjian Sunda-Portugis yang membolehkan orang Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kelapa. Sebagai imbalannya, Portugis diharuskan memberi bantuan militer kepada Kerajaan Sunda dalam menghadapi serangan dari Demak dan Cirebon (yang memisahkan diri dari Kerajaan Sunda).







Sejarah



Sebelum berdiri sebagai kerajaan yang mandiri, Sunda merupakan bagian dari Tarumanagara. Raja Tarumanagara yang terakhir, Sri Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirthabumi (memerintah hanya selama tiga tahun, 666-669 M), menikah dengan Déwi Ganggasari dari Indraprahasta. Dari Ganggasari, beliau memiliki dua anak, yang keduanya perempuan. Déwi Manasih, putri sulungnya, menikah dengan Tarusbawa dari Sunda, sedangkan yang kedua, Sobakancana, menikah dengan Dapuntahyang Sri Janayasa, yang selanjutnya mendirikan kerajaan Sriwijaya. Setelah Linggawarman meninggal, kekuasaan Tarumanagara turun kepada menantunya, Tarusbawa. Hal ini menyebabkan penguasa Galuh, Wretikandayun (612-702) memberontak, melepaskan diri dari Tarumanagara, serta mendirikan Galuh yang mandiri. dari pihak Tarumanagara sendiri, Tarusbawa juga menginginkan melanjutkan kerajaan Tarumanagara. Tarusbawa selanjutnya memindahkan kekuasaannya ke Sunda, di hulu sungai Cipakancilan dimana di daerah tersebut sungai Ciliwung dan sungai Cisadane berdekatan dan berjajar. Kurang lebih adalah Kotamadya Bogor saat ini. Sedangkan Tarumanagara diubah menjadi bawahannya. Beliau dinobatkan sebagai raja Sunda pada hari Radite Pon, 9 Suklapaksa, bulan Yista, tahun 519 Saka (kira-kira 18 Mei 669 M). Sunda dan Galuh ini berbatasan, dengan batas kerajaanya yaitu sungai Citarum (Sunda di sebelah barat, Galuh di sebelah timur).







Kerajaan kembar



Putera Tarusbawa yang terbesar, Rarkyan Sundasambawa, wafat saat masih muda, meninggalkan seorang anak perempuan, Nay Sekarkancana. Cucu Tarusbawa ini lantas dinikahi oleh Rahyang Sanjaya dari Galuh, sampai mempunyai seorang putera, Rahyang Tamperan.







Ibu dari Sanjaya adalah SANAHA, cucu Ratu Shima dari Kalingga, di Jepara. Ayah dari Sanjaya adalah Bratasenawa / SENA / SANNA, Raja Galuh ketiga, teman dekat Tarusbawa.







Sena adalah cucu Wretikandayun dari putera bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua (702-709 M). Sena di tahun 716 M dikudeta dari tahta Galuh oleh PURBASORA. Purbasora dan Sena sebenarnya adalah saudara satu ibu, tapi lain ayah.







Sena dan keluarganya menyelamatkan diri ke Pakuan, pusat Kerajaan Sunda, dan meminta pertolongan pada Tarusbawa. Ironis sekali memang, Wretikandayun, kakek Sena, sebelumnya menuntut Tarusbawa untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari Tarumanegara / Kerajaan Sunda. Dikemudian hari, Sanjaya yang merupakan penerus Kerajaan Galuh yang sah, menyerang Galuh, dengan bantuan Tarusbawa, untuk melengserkan Purbasora.







Saat Tarusbawa meninggal (tahun 723), kekuasaan Sunda dan Galuh berada di tangan Sanjaya. Di tangan Sanjaya, Sunda dan Galuh bersatu kembali.





Tahun 732 Sanjaya menyerahkan kekuasaan Sunda-Galuh ke puteranya, Tamperan / Rarkyan Panaraban. Di Kalingga, Sanjaya memegang kekuasaan selama 22 tahun (732-754), yang kemudian diganti oleh puteranya dari Déwi Sudiwara, yaitu Rarkyan Panangkaran / Rakai Panangkaran.







Rahyang Tamperan / RARKYAN PANARABAN berkuasa di Sunda-Galuh selama tujuh tahun (732-739), lalu membagi kekuasaan pada dua puteranya: Sang Manarah (dalam carita rakyat disebut Ciung Wanara) di Galuh serta Sang Banga (Hariang Banga) di Sunda.







Sang Banga (Prabhu Kertabhuwana Yasawiguna Hajimulya) menjadi raja selama 27 tahun (739-766), tapi hanya menguasai Sunda dari tahun 759. Dari Déwi Kancanasari, keturunan Demunawan dari Saunggalah, Sang Banga mempunyai putera, bernama Rarkyan Medang, yang kemudian meneruskan kekuasaanya di Sunda selama 17 tahun (766-783) dengan gelar Prabhu Hulukujang.







Karena anaknya perempuan, Rakryan Medang mewariskan kekuasaanya kepada menantunya, Rakryan Hujungkulon atau Prabhu Gilingwesi (dari Galuh, putera Sang Mansiri), yang menguasai Sunda selama 12 tahun (783-795).







Karena Rakryan Hujungkulon inipun hanya mempunyai anak perempuan, maka kekuasaan Sunda lantas jatuh ke menantunya, Rakryan Diwus (dengan gelar Prabu Pucukbhumi Dharmeswara) yang berkuasa selama 24 tahun (795-819).







Dari Rakryan Diwus, kekuasaan Sunda jatuh ke puteranya, Rakryan Wuwus, yang menikah dengan putera dari Sang Welengan (raja Galuh, 806-813). Kekuasaan Galuh juga jatuh kepadanya saat saudara iparnya, Sang Prabhu Linggabhumi (813-842), meninggal dunia. Kekuasaan Sunda-Galuh dipegang oleh RAKRYAN WUWUS (dengan gelar Prabhu Gajahkulon) sampai ia wafat tahun 891.







Sepeninggal Rakryan Wuwus, kekuasaan Sunda-Galuh jatuh ke adik iparnya dari Galuh, Arya Kadatwan. Hanya saja, karena tidak disukai oleh para pembesar dari Sunda, ia dibunuh tahun 895, sedangkan kekuasaannya diturunkan ke putranya, Rakryan Windusakti.







Kekuasaan ini lantas diturunkan pada putera sulungnya, Rakryan Kamuninggading (913). RAKRYAN KAMUNINGGADING menguasai Sunda-Galuh hanya tiga tahun, sebab kemudian direbut oleh adiknya, Rakryan Jayagiri (916).







RAKRYAN JAYAGIRI berkuasa selama 28 tahun, kemudian diwariskan kepada menantunya, Rakryan Watuagung, tahun 942.







Melanjutkan dendam orangtuanya, Rakryan Watuagung direbut kekuasaannya oleh keponakannya (putera Kamuninggading), Sang Limburkancana (954-964).







Dari Limburkancana, kekuasaan Sunda-Galuh diwariskan oleh putera sulungnya, Rakryan Sundasambawa (964-973). Karena tidak mempunyai putera dari Sundasambawa, kekuasaan tersebut jatuh ke adik iparnya, Rakryan Jayagiri (973-989).







Rakryan Jayagiri mewariskan kekuasaannya ka puteranya, Rakryan Gendang (989-1012), dilanjutkan oleh cucunya, Prabhu Déwasanghyang (1012-1019). Dari Déwasanghyang, kekuasaan diwariskan kepada puteranya, lalu ke cucunya yang membuat prasasti Cibadak, Sri Jayabhupati (1030-1042). Sri Jayabhupati adalah menantu dari Dharmawangsa Teguh dari Jawa Timur, mertua raja Erlangga (1019-1042).







Dari Sri Jayabhupati, kekuasaan diwariskan kepada putranya, Dharmaraja (1042-1064), lalu ke cucu menantunya, Prabhu Langlangbhumi ((1064-1154). Prabu Langlangbhumi dilanjutkan oleh putranya, Rakryan Jayagiri (1154-1156), lantas oleh cucunya, Prabhu Dharmakusuma (1156-1175). Dari Prabu Dharmakusuma, kekuasaan Sunda-Galuh diwariskan kepada putranya, Prabhu Guru Dharmasiksa, yang memerintah selama 122 tahun (1175-1297). Dharmasiksa memimpin Sunda-Galuh dari Saunggalah selama 12 tahun, tapi kemudian memindahkan pusat pemerintahan kepada Pakuan Pajajaran, kembali lagi ke tempat awal moyangnya (Tarusbawa) memimpin kerajaan Sunda.







Sepeninggal Dharmasiksa, kekuasaan Sunda-Galuh turun ke putranya yang terbesar, Rakryan Saunggalah (Prabhu Ragasuci), yang berkuasa selama enam tahun (1297-1303). Prabhu Ragasuci kemudian diganti oleh putranya, Prabhu Citraganda, yang berkuasa selama delapan tahun(1303-1311), kemudian oleh keturunannya lagi, Prabu Linggadéwata (1311-1333). Karena hanya mempunyai anak perempuan, Linggadéwata menurunkan kekuasaannya ke menantunya, Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340), kemudian ke Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350). Dari Prabu Ragamulya, kekuasaan diwariskan ke putranya, Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (1350-1357), yang di ujung kekuasaannya gugur di Bubat (baca Perang Bubat). Karena saat kejadian di Bubat, putranya -- Niskalawastukancana -- masih kecil, kekuasaan Sunda sementara dipegang oleh Patih Mangkubumi Sang Prabu Bunisora (1357-1371).







Prasasti Kawali di Kabuyutan Astana Gedé, Kawali, Ciamis.





Sapeninggal Prabu Bunisora, kekuasaan kembali lagi ke putra Linggabuana, Niskalawastukancana, yang kemudian memimpin selama 104 tahun (1371-1475). Dari isteri pertama, Nay Ratna Sarkati, ia mempunyai putera Sang Haliwungan (Prabu Susuktunggal), yang diberi kekuasaan bawahan di daerah sebelah barat Citarum (daerah asal Sunda). Prabu Susuktunggal yang berkuasa dari Pakuan Pajajaran, membangun pusat pemerintahan ini dengan mendirikan keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Pemerintahannya terbilang lama (1382-1482), sebab sudah dimulai saat ayahnya masih berkuasa di daerah timur.







Dari Nay Ratna Mayangsari, istrinya yang kedua, ia mempunyai putera Ningratkancana (Prabu Déwaniskala), yang meneruskan kekuasaan ayahnya di daerah Galuh (1475-1482).









Susuktunggal dan Ningratkancana menyatukan ahli warisnya dengan menikahkan Jayadéwata (putra Ningratkancana) dengan Ambetkasih (putra Susuktunggal). Tahun 1482, kekuasaan Sunda dan Galuh disatukan lagi oleh Jayadéwata (yang bergelar Sri Baduga Maharaja). Sapeninggal Jayadéwata, kekuasaan Sunda-Galuh turun ke putranya, Prabu Surawisésa (1521-1535), kemudian Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543), Prabu Sakti (1543-1551), Prabu Nilakéndra (1551-1567), serta Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579). Prabu Suryakancana ini merupakan pemimpin kerajaan Sunda-Galuh yang terakhir, sebab setelah beberapa kali diserang oleh pasukan Maulana Yusuf dari Kesultanan Banten, kerajaan Sunda lainnya, di tahun 1579, yang mengalibatkan kekuasaan Prabu Surya Kancana dan Kerajaan Pajajaran runtuh.





Sebelum Kerajaan Pajajaran runtuh Prabu Surya Kancana memerintahkan ke empat patihnya untuk membawa mahkota kerajaan beserta anggota kerajaan ke Sumedang Larang yang sama- sama merupakan keturunan Kerajaan Sunda untuk meneruskan pemerintahan.





Kerajaan Sumedang Larang berasal dari pecahan kerajaan Sunda-Galuh yang beragama Hindu, yang didirikan oleh Prabu Geusan Ulun Aji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pajajaran, Bogor. Seiring dengan perubahan zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang mengalami beberapa perubahan. Yang pertama yaitu Kerajaan Tembong Agung yang berlokasi di Desa Cipaku Kecamatan Darmaraja (Tembong artinya nampak dan Agung artinya luhur, memperlihatkan ke Agungan Yang Maha Kuasa) dipimpin oleh Prabu Guru Aji Putih pada abad ke XII. Prabu Guru Aji Putih memiliki putra yang bernama Prabu Tajimalela dan kemudian pada masa zaman Prabu Tajimalela, diganti menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam, Prabu Tajimalela pernah berkata “Insun medal; Insun madangan”. Artinya Aku dilahirkan; Aku menerangi. Kata Sumedang diambil dari kata Insun Madangan yang berubah pengucapannya menjadi Sun Madang yang selanjutnya menjadi Sumedang. Ada juga yang berpendapat berasal dari kata Insun Medal yang berubah pengucapannya menjadi Sumedang dan Larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingnya.




Pemerintahan berdaulat


Prabu Agung Resi Cakrabuana (950 M)



Prabu Agung Resi Cakrabuana atau lebih dikenal Prabu Tajimalela dianggap sebagai pokok berdirinya Kerajaan Sumedang. Pada awal berdiri bernama Kerajaan Tembong Agung dengan ibukota di Leuwihideung (sekarang Kecamatan Darmaraja). Beliau punya tiga putra yaitu Prabu Lembu Agung, Prabu Gajah Agung, dan Sunan Geusan Ulun.







Berdasarkan Layang Darmaraja, Prabu Tajimalela memberi perintah kepada kedua putranya (Prabu Lembu Agung dan Prabu Gajah Agung), yang satu menjadi raja dan yang lain menjadi wakilnya (patih). Tapi keduanya tidak bersedia menjadi raja. Oleh karena itu, Prabu Tajimalela memberi ujian kepada kedua putranya jika kalah harus menjadi raja. Kedua putranya diperintahkan pergi ke Gunung Nurmala (sekarang Gunung Sangkanjaya). Keduanya diberi perintah harus menjaga sebilah pedang dan kelapa muda (duwegan/degan). Tetapi, Prabu Gajah Agung karena sangat kehausan beliau membelah dan meminum air kelapa muda tersebut sehingga beliau dinyatakan kalah dan harus menjadi raja Kerajaan Sumedang Larang tetapi wilayah ibu kota harus mencari sendiri. Sedangkan Prabu Lembu Agung tetap di Leuwihideung, menjadi raja sementara yang biasa disebut juga Prabu Lembu Peteng Aji untuk sekedar memenuhi wasiat Prabu Tajimalela. Setelah itu Kerajaan Sumedang Larang diserahkan kepada Prabu Gajah Agung dan Prabu Lembu Agung menjadi resi. Prabu Lembu Agung dan pera keturunannya tetap berada di Darmaraja. Sedangkan Sunan Geusan Ulun dan keturunannya tersebar di Limbangan, Karawang, dan Brebes.







Setelah Prabu Gajah Agung menjadi raja maka kerajaan dipindahkan ke Ciguling. Ia dimakamkan di Cicanting Kecamatan Darmaraja. Ia mempunyai dua orang putra, pertama Ratu Istri Rajamantri, menikah dengan Prabu Siliwangi dan mengikuti suaminya pindah ke Pakuan Pajajaran. Kedua Sunan Guling, yang melanjutkan menjadi raja di Kerajaan Sumedang Larang. Setelah Sunan Guling meninggal kemudian dilanjutkan oleh putra tunggalnya yaitu Sunan Tuakan. Setelah itu kerajaan dipimpin oleh putrinya yaitu Nyi Mas Ratu Patuakan. Nyi Mas Ratu Patuakan mempunyai suami yaitu Sunan Corenda, putra Sunan Parung, cucu Prabu Siliwangi (Prabu Ratu Dewata). Nyi Mas Ratu Patuakan mempunyai seorang putri bernama Nyi Mas Ratu Inten Dewata (1530-1578), yang setelah ia meninggal menggantikannya menjadi ratu dengan gelar Ratu Pucuk Umun.







Ratu Pucuk Umun menikah dengan Pangeran Kusumahdinata, putra Pangeran Pamalekaran (Dipati Teterung), putra Aria Damar Sultan Palembang keturunan Majapahit. Ibunya Ratu Martasari/Nyi Mas Ranggawulung, keturunan Sunan Gunung Jati dari Cirebon. Pangeran Kusumahdinata lebih dikenal dengan julukan Pangeran Santri karena asalnya yang dari pesantren dan perilakunya yang sangat alim. Dengan pernikahan tersebut berakhirlah masa kerajaan Hindu di Sumedang Larang. Sejak itulah mulai menyebarnya agama Islam di wilayah Sumedang Larang.







Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri



Pada pertengahan abad ke-16, mulailah corak agama Islam mewarnai perkembangan Sumedang Larang. Ratu Pucuk Umun, seorang wanita keturunan raja-raja Sumedang kuno yang merupakan seorang Sunda muslimah; menikahi Pangeran Santri (1505-1579 M) yang bergelar Ki Gedeng Sumedang dan memerintah Sumedang Larang bersama-sama serta menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut. Pangeran Santri adalah cucu dari Syekh Maulana Abdurahman (Sunan Panjunan) dan cicit dari Syekh Datuk Kahfi, seorang ulama keturunan Arab Hadramaut yang berasal dari Mekkah dan menyebarkan agama Islam di berbagai penjuru daerah di kerajaan Sunda. Pernikahan Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umun ini melahirkan Prabu Geusan Ulun atau dikenal dengan Prabu Angkawijaya. Pada masa Ratu Pucuk Umun, ibukota Kerajaan Sumedang Larang dipindahkan dari Ciguling ke Kutamaya.







Prabu Geusan Ulun



Prabu Geusan Ulun (1580-1608 M) dinobatkan untuk menggantikan kekuasaan ayahnya, Pangeran Santri. Beliau menetapkan Kutamaya sebagai ibukota kerajaan Sumedang Larang, yang letaknya di bagian Barat kota. Wilayah kekuasaannya meliputi Kuningan, Bandung, Garut, Tasik, Sukabumi (Priangan) kecuali Galuh (Ciamis). Kerajaan Sumedang pada masa Prabu Geusan Ulun mengalami kemajuan yang pesat di bidang sosial, budaya, agama, militer dan politik pemerintahan. Setelah wafat pada tahun 1608, putera angkatnya, Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata atau Rangga Gempol I, yang dikenal dengan nama Raden Aria Suradiwangsa menggantikan kepemimpinannya.







Pada masa awal pemerintahan Prabu Geusan Ulun, Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan sedang dalam masa kehancurannya karena diserang oleh Kerajaan Banten yang dipimpin Sultan Maulana Yusuf dalam rangka menyebarkan Agama Islam. Oleh karena penyerangan itu Kerajaan Pajajaran hancur. Pada saat-saat kekalahan Kerajaan Pajajaran, Prabu Siliwangi sebelum meninggalkan Keraton beliau mengutus empat prajurit pilihan tangan kanan Prabu Siliwangi untuk pergi ke Kerajaan Sumedang dengan rakyat Pajajaran untuk mencari perlindungan yang disebut Kandaga Lante. Kandaga Lante tersebut menyerahkan mahkota emas simbol kekuasaan Raja Pajajaran, kalung bersusun dua dan tiga, serta perhiasan lainnya seperti benten, siger, tampekan, dan kilat bahu (pusaka tersebut masih tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun si Sumedang). Kandaga Lante yang menyerahkan tersebut empat orang yaitu Sanghyang Hawu atau Embah Jayaperkosa, Batara Dipati Wiradijaya atau Embah Nangganan, Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot.







Walaupun pada waktu itu tempat penobatan raja direbut oleh pasukan Banten (wadyabala Banten) tetapi mahkota kerajaan terselamatkan. Dengan diberikannya mahkota tersebut kepada Prabu Geusan Ulun, maka dapat dianggap bahwa Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan menjadi bagian Kerajaan Sumedang Larang, sehingga wilayah Kerajaan Sumedang Larang menjadi luas. Batas wilayah baratnya Sungai Cisadane, batas wilayah timurnya Sungai Cipamali (kecuali Cirebon dan Jayakarta), batas sebelah utaranya Laut Jawa, dan batas sebelah selatannya Samudera Hindia.







Secara politik Kerajaan Sumedang Larang didesak oleh tiga musuh: yaitu Kerajaan Banten yang merasa terhina dan tidak menerima dengan pengangkatan Prabu Geusan Ulun sebagai pengganti Prabu Siliwangi; pasukan VOC di Jayakarta yang selalu mengganggu rakyat; dan Kesultanan Cirebon yang ditakutkan bergabung dengan Kesultanan Banten. Pada masa itu Kesultanan Mataram sedang pada masa kejayaannya, banyak kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara yang menyatakan bergabung kepada Mataram. Dengan tujuan politik pula akhirnya Prabu Geusan Ulun menyatakan bergabung dengan Kesultanan Mataram. Prabu Geusan Ulun merupakan raja terakhir Kerajaan Sumedang Larang, karena selanjutnya menjadi bagian Mataram dan pangkat raja turun menjadi adipati (bupati).







Raja-raja Kerajaan Sunda dari Salaka Nagara s/d Sumedang Larang



Di bawah ini deretan raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Sunda menurut naskah Pangéran Wangsakerta (waktu berkuasa dalam tahun Masehi):





Periode Salaka Nagara dan Taruma Nagara (Dewawarman - Linggawarman, 150 - 669).



0. Dewawarman I - VIII, 150 - 362



1. Jayasingawarman, 358-382



2. Dharmayawarman, 382-395



3. Purnawarman, 395-434



4. Wisnuwarman, 434-455



5. Indrawarman, 455-515



6. Candrawarman, 515-535



7. Suryawarman, 535-561



8. Kertawarman, 561-628



9. Sudhawarman, 628-639



10. Hariwangsawarman, 639-640



11. Nagajayawarman, 640-666



12. Linggawarman, 666-669









Periode Kerajaan Galuh - Pakuan - Pajajaran - Sumedang Larang





1. Tarusbawa (menantu Linggawarman, 669 - 723)



2. Harisdarma, atawa Sanjaya (menantu Tarusbawa, 723 - 732)



3. Tamperan Barmawijaya (732 - 739)



4. Rakeyan Banga (739 - 766)



5. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766 - 783)



6. Prabu Gilingwesi (menantu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang, 783 - 795)



7. Pucukbumi Darmeswara (menantu Prabu Gilingwesi, 795 - 819)



8. Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon (819 - 891)



9. Prabu Darmaraksa (adik ipar Rakeyan Wuwus, 891 - 895)



10. Windusakti Prabu Déwageng (895 - 913)



11. Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi (913 - 916)



12. Rakeyan Jayagiri (menantu Rakeyan Kamuning Gading, 916 - 942)



13. Atmayadarma Hariwangsa (942 - 954)



14. Limbur Kancana (putera Rakeyan Kamuning Gading, 954 - 964)



15. Munding Ganawirya (964 - 973)



16. Rakeyan Wulung Gadung (973 - 989)



17. Brajawisésa (989 - 1012)



18. Déwa Sanghyang (1012 - 1019)



19. Sanghyang Ageng (1019 - 1030)



20. Sri Jayabupati (Detya Maharaja, 1030 - 1042)



21. Darmaraja (Sang Mokténg Winduraja, 1042 - 1065)



22. Langlangbumi (Sang Mokténg Kerta, 1065 - 1155)



23. Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur (1155 - 1157)



24. Darmakusuma (Sang Mokténg Winduraja, 1157 - 1175)



25. Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu (1175 - 1297)



26. Ragasuci (Sang Mokténg Taman, 1297 - 1303)



27. Citraganda (Sang Mokténg Tanjung, 1303 - 1311)



28. Prabu Linggadéwata (1311-1333)



29. Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340)



30. Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350)



31. Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (yang gugur dalam Perang Bubat, 1350-1357)



32. Prabu Bunisora (1357-1371)



33. Prabu Niskalawastukancana (1371-1475)



34. Prabu Susuktunggal (1475-1482)



35. Prabu Jayadéwata (Sri Baduga Maharaja, 1482-1521)



36. Prabu Surawisésa (1521-1535)



37. Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543)



38. Prabu Sakti (1543-1551)



39. Prabu Nilakéndra (1551-1567)



40. Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579)



41. Prabu Geusan Ulun (1580-1608 M)



Sumber:



- Herwig Zahorka, The Sunda Kingdoms of West Java, From Taruma Nagara to Pakuan Pajajaran with Royal Center of Bogor, tahun 2007.



- Saleh Danasasmita, Sajarah Bogor, Tahun 2000



- Ayatrohaedi: Sundakala, Cuplikan Sejarah Sunda Berdasar Naskah-naskah "Panitia Wangsakerta" Cirebon. Pustaka Jaya, 2005.



- Aca. 1968. Carita Parahiyangan: naskah titilar karuhun urang Sunda abad ka-16 Maséhi. Yayasan Kabudayaan Nusalarang, Bandung.



- Edi S. Ekajati. 2005. Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta. Pustaka Jaya, Jakarta. ISBN 979-419-329-1



- Yoséph Iskandar. 1997. Sejarah Jawa Barat: yuganing rajakawasa. Geger Sunten, Bandung.

Wednesday, June 23, 2010

Aranya Giri Sakta on Trees Adoption in Pondok Halimun, Sukabumi

In conjunction with the 1st anniversary of Keluarga Aranya Giri Sakta ( Ka-Agisa ), we conducted trees adoption for re-greening prgram in Pondok Halimun Sukabumi. It was done when we did family camping in Pondok Halimun 19-20 June 2010.











Tuesday, June 22, 2010

Aranya Giri Sakta on Field Popular Forest Ecology at Pondok Halimun Sukabumi

Forest ecology is the scientific study of the interrelated patterns, processes, flora, fauna and ecosystems in forests react with each other, and interact with the environment of a forest ecosystem. This particular field of study is very important for those who are concerned about forest conservation.

The richness of biodiversity of Taman nasional Gunung Gede Pangrango. The misty morning of Pondok Halimun

A popular forest ecology is necessary to be taught to the society. So, people can appreciate the value of the forest ecology for human being. Aranya Giri Sakta, one of the nature lover family, tried to participate in educating people on forest ecology. The knowledge was taught in a popular way to the family member of the Aranya Giri sakta. One of the event was during the 1st anniversary of Keluarga Aranya Giri Sakta in 19-20 June 2010 in Pondok Halimun at The Selabintana entrance gate to Gunung Gede, Sukabumi.


The Brother Away, on the right most, was giving an explanation about the function forest for human being.

The family camping participant got up in the morning and got to gather after light breakfast for hearing the briefing from Brother Away, one of  the environmental volunteer of the Gunung Gede National Park. Away briefed the paricipant with the popular story of forest ecology.

Brother Away explaining the natural water source that water the people in Sukabumi, Cianjur, Bogor and Jakarta.

The natural water source at Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ( TNGPP ) can water 20 million people in the surounding if this area, especially Sukabumi, Cianjur, Bogor and Jakarta. According to the environmental expert, Prof Sumarwoto, the rain rate of the the TNGPP is equal to 3000 - 4000 mm per year, it can accommodate around 46.2 million water truck of  5000 liters of each truck. If the truck length about 10 meter then the length of the truck line would be 4620 kilometers or 4 times the length of Java Island.

So people can imagine the importance and the essence of Taman Nasional Gunung Gede Pangrango as a natural water source. We are all obliged to protect the Taman Nasional Gunung Gede Pangrango water source. The existence of water source is strongly dependent to the forest ecology conservation. That is why people has to understand the biodiversity and forest ecology of Tman Nasional Gunung Gede Pangrango. Aranya Giri Sakta is willing to participate in edicating people, especially young people, about the forest ecology.

The Aranya Giri Sakta Family walked along the interpreter line following Brother Away in forest ecology game.

Pondok Halimun, at Cipelang, lies at the foot of a steep-sided, wooded valley. The 10 km drive from Sukabumi takes around 30 minutes and the road climbs up through tea plantations and vegetable fields. The area is a popular destination but, because lanes are narrow and public transport limited, the area it retains its quiet, rural charm. To reach the Selabintana Gate from Bogor, take a bus to to Sukabumi bus station and then a minibus to town centre. From Cibodas, via Cianjur, get off in Sukabumi town centre. Wait at the roundabout near the Yogya Departement store for a Selabintana bus and ask for the Pondok Halimun turning. From the turn-off, the park gate is still a 1-2-hour uphill walk, so charter a minibus, take a motor bike or, if tou have plenty of time, wait for a public mini-bus. The 6-km ride to the park gate passes through tea estates which provide interesting walk.

The group photo of Aranya Giri Sakta Family

The First Anniversary of Keluarga Aranya Giri Sakta 19-20 Juni 2010 in Pondok Halimun

In the date 19-20 June 2010 Aranya Giri Sakta Family celebrates its first birthday with a family camping event at Pondok Halimun Gede Mountain National Park Pangrango Sukabumi The first birthday is filled with a planting activity for re-greening in the Senior high school Mardi Yuana Sukabumi on Saturday evening June 19, 2010 . Then proceed with the family camping in the Pondok Halimun.

On Saturday night at the family camping we did prayer for our welfare and eating rice cone ( Nasi Tumpeng ) together In the picture above shows Ibu Nik Sunarto the sespuh of Aranya Sakta Giri was also present , even she made the rice cone ( nasi tumpeng ) for us all .

The camping event was also attended by the sons and daughters of the family Aranya Sakta Giri ,they eventually also become a new member . So Aranya Giri Sakta already have grandchildren member.

On Sunday day of June 20, 2010  the program was  filled with forest ecology education program by Kang Away from Gunung Gede National Park Pangrango. We learnt forest ecology with trekking along the lines of interpretation. Kang Away explained to us all about the ecology of the forest in the path of interpretation . We,  people and children , were very happy to listen to explanations about the forest ecology. The  lesson was very interesting and valuable.

After field learning  the ecology of forest we planted trees for reforestation and tree adoption . This is a good education for the children in order them to love plants and our planet  This tree planting activities were also conducted by our children . So they could appreciate the significance and value of the trees for humans .

When we finished planting trees we made a family photo as it is shown  above. Unfortunately, there were  many of us did not showed up in the  photograph . After taking photos we ate  rice liwet , special food of Aranya Giri Sakta Family .

We will continue our story on the next post .

Thursday, June 10, 2010

Gagasan Cemerlang : Wagub Jawa Barat Ingin Indonesia Jadi Tuan Rumah Pemilihan Miss World

Usul yang sangat progresif and agresif dari wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf yang mengusulkan pemilihan Miss World diadakan di Indonesia. Ini adalah ide yang sangat "thinking big" dari Seorang Wakil Gubernur Jawa Barat. Mudah-mudahan ini dilandasi pikiran yang jernih untuk kebesaran Indonesia.

Sudah saatnya Indonesia memanfaatkan momen kelas dunia seperti pemilihan Miss World ini untuk melipat-gandakan ( bukan sekedar meningkat) devisa darikunjungan wisata asing ke Indonesia.

Indonesia sangat kaya dengan keindahan alam dan budaya. Termasuk kekayaan budaya tata-rias dan perawatan tubuh. Industri wisata adalah penghasil devisa yang paling "sustainable" ( berkelanjutan ) tanpa merusak lingkungan alam.

Perlu juga ditunjukkan pada dunia bahwa Indonesia merupakan gudang perempuan cantik dan cerdas yang merupakan hasil dari budaya rawat tubuh dan olah kepribadian yang khas Indonesia. Peninggalan-peninggalan kerajaan di Indonesia banyak mewariskan seni merawat tubuh dan seni olah kepribadian yang telah banyak membentuk pribadi yang penuh daya tarik ala Indonesia.

Ide dari Bung Dede Yusuf ini perlu didukung dan dikawal agar tak malah jatuh difitnah sebagai upaya melecehkan martabat perempuan oleh kalangan yang melihat kegiatan ini secara sangat sempit.

Wednesday, June 9, 2010

Cacao and Kopi Luwak in Bali Kitamani Agro Tourism

Bali now is not only welknown as the god island with very attractive culture of Hinduism but also the agro-tourism. In the way from Denpasar to Kintamani or Mount Batur, as we are passing the highland area, there are several field of agro tourism. They planted coffee, mango, snake-fruit and cacao.

The road from Denpasar to Kintamani has many nice view with a very fresh cold air. The highland is suitable for agro tourism. The farmer or the owner of the agro field does not only sell the fruit or the crops but they also sell the show of field activities. The visitor can see how the farmer grow and nurse the plantation. The visitor can enjoy the fruit or the crops such as snake fruit, drink special coffee or special cacao.

Bali Kintamani Coffee Plantation Geographic location was in the mountains of Kintamani Bali. 1.000 m to 1.100 m in altitude. Being in an area of fertile volcanic soils, dry climate, near to equator (10 ° S). It able to produce 2.000 to 3.000 tons per year of green coffee beans it. We stopped for a moment in Trisna Bali Agrowisata in Bangli.

Other interesting thing is the Kopi Luwak. The cat poop coffee. This is the most expensive coffee in the world.The farmer also produce Kopi Luwak. They grow coffee bean and procesess as Kopi Luwak. In this visit we try the Kopi Luwak and the Cacao drink. It is anothet excitement in Bali.
Kopi Luwak or Civet coffee is steeping coffee use coffee bean taken from the remaining dirt mongoose/ Palm civet. The coffee is believed to have different tastes when eaten and passed through the digestive tract mongoose.Thisfamous in Southeast Asia has long been known, but in the new area it became famous in the coffee enthusiasts gourmet after publication in the 1980s. Coffee beans mongoose is the most expensive in the world, reaching EUR100 per 450 gram.
Notoriety is believed to be due to coffee myth in the past, when it opened a coffee plantation on a massive reign Dutch East Indies until the decade 1950s, Where there was still a lot of animals like mongoose weasel.
We tried the coffee and the cacao drink.

Monday, June 7, 2010

The Farmers Planting Rice in Sukabumi, West Java Indonesia

In the middle of the day, when the hot sun just on top of our head, those women farmer diligently working in the paddy field. They started planting the rice seed. It is a hard work for the people in the city, but they work for us to provide the rice for all people. They never thought who will eat their rice, but their rice is for everybody. In many time people just forget their hard work. We have to appreciate them. They, us and the paddy field are blessed by Dwi Sri, the goddes of rice field and human prosperity.
We should not waste and spoil any rice we have, even a single rice.

The Farmers Planting Rice in Sukabumi, West Java Indonesia

In the middle of the day, when the hot sun just on top of our head, those women farmer diligently working in the paddy field. They started planting the rice seed. It is a hard work for the people in the city, but they work for us to provide the rice for all people. They never thought who will eat their rice, but their rice is for everybody. In many time people just forget their hard work. We have to appreciate them. They, us and the paddy field are blessed by Dwi Sri, the goddes of rice field and human prosperity.
We should not waste and spoil any rice we have, even a single rice.